Touch Me, Mr. Cassanova

Touch Me, Mr. Cassanova
Sindiran halus


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Kenapa harus aku!” seru Davis seolah tak terima mendapatkan tugas yang di berikan oleh Clayton dari Edward.


“Karena kamu yang paling gesit dan pintar disini,” kata Edward begitu saja hingga membuat seseorang yang sedang duduk di kursi kebesaran nya langsung melotot dan menatap tajam pada Edward.


“Eh, maksud ku cuma kamu yang terlihat menganggur disini. Clayton sibu, kamu tahu dia masih punya anak bayi, jadi dia pasti sangat sibuk dengan anak dan istri nya. Nah, sementara kamu masih jomblo tidak punya banyak keperluan, jadi waktu mu masih senggang!” ralat Edward tersenyum kikuk melirik Clayton.


“Cih, menganggur, kepala mu menganggur!” cetus Davis berdecak, lalu menghela napas nya berat.


“Ayolah Vis, dulu aku sudah mau loh di bela belain nyari orang tengah malem sekalipun. Bahkan saat itu aku lagi bekerja keras tiba tiba kamu telfon dan mencari seorang gadis, aku langsung berangkat loh. Masa sekarang saat aku ada masalah kamu tidak mau membantu ku!” ucap Edward memohon menatap Davis.


“Kamu menyindir ku!” seru Clayton tiba tiba merasa tersindir akan ucapan Edward. Karena saat itu, dirinya lah yang menyuruh Davis agar menghubungi Edward yang di Indonesia agar mencari keberadaan Shiena.


“Bukan begitu Clay, haduhh gimana sih." jawab Edward seraya menggaruk tengkuk nya, "Davis ayo dong, iyain gitu, kepala ku udah pusing mikirin Faiz sama Elsa, jangan bikin makin pecah karena macan marah deh,” imbuh nya setengah berbisik kepada Davis.

__ADS_1


“Edward! Lebih baik kamu pergi sekarang!” usir Clayton dengan dingin.


“Clay!” kata Edward menatap memelas pada Clayton.


“Pulang!” usir nya lagi, lalu Clayton memilih kembali fokus dengan pekerjaan nya.


Edward hanya mampu menghela napas nya berat. Sepertinya ia salah bicara, hingga membuat Clayton tersindir dan merajuk bak anak kecil yang tidak mendapatkan jajan dari orang tuanya. Dengan sedikit mendengus, Edward pun segera pergi dari ruangan Clayton dan pulang ke rumah.


Sementara itu, di tempat yang berbeda kini Faiz sudah pulang dari kuliah nya. Kini tidak ada lagi suara teriakan. Gadis itu lebih banyak terdiam dan bersikap datar kepada siapapun. Bahkan, dengan pembantu yang biasa ia ajak bercanda pun ia hanya diam dan enggan menegur.


“Tante Faiz!” panggil Calvin ketika keluar dari kamar dan melihat kedatangan Faiz ia segera berlari menghampiri nya.


“Kok papa nya Calvin belum pulang? Tante tau gak, Papa kemana?” tanya Calvin dengan polos nya menatap faiz dengan mata berbinar.


“Mati kali!” jawab Faiz dengan ketus, lalu ia pergi begitu saja menaiki tangga dan menuju kamar.

__ADS_1


Calvin hanya mampu menghela napas nya dengan berat. Tak bisa di pungkiri bahwa hatinya terluka, namun ia selalu berusaha untuk kuat dan tidak menangis. Ia ingin semua orang tahu bahwa dirinya anak yang kuat dan tidak cengeng, agar papa nya mau menyayangi nya. Elsa selalu mengatakan padanya, bahwa kalau dia menangis maka Edward akan mengusir nya dari rumah itu, makanya tak heran bila Calvin begitu nurut dan banyak terdiam.


Bruumm ...


Mendengar suara deru mobil di halaman rumah, membuat Calvin langsung membuang kesedihan nya dan berlari keluar rumah.


“Papa!” pekik Calvin dan segera menghambur memeluk Edward dengan begitu erat.


“Ada apa,?” tanya Edward seraya mengajak Calvin masuk ke dalam rumah.


“Mama pergi, tadi Calvin nungguin papa. Tapi Papa gak ada, jadinya Calvin pulang sendiri deh,” ujar Calvin dengan begitu sedih.


“Pulang sendiri?” kata Edward begitu terkejut, “Kamu kesini naik apa? Mama kamu kemana?” tanya nya beruntun.


“Gak tahu,” jawab Calvin seraya mengangkat kedua bahu nya polos, “Calvin kan pandai, jadi sekali tunjuk jalan, Calvin sudah hafal. Tadi Calvin di anter bapak motor,” imbuhnya begitu polos nya menyebut tukang ojek sebagai bapak motor.

__ADS_1


Sejujurnya, Calvin anak yang tampan dan pintar. Hanya saja, Edward benar benar tidak rela bila ternyata dia anaknya.


...~To be continue.... ...


__ADS_2