
...~Happy Reading~...
Sejak pagi tadi, papa Bastian mengurung Faiz di dalam kamar nya. Papa Bastian tidak mengizinkan Faiz untuk pulang ke rumah nya, karena tidak ingin melihat Putrinya terus tersakiti. Jadilah papa Bastian terpaksa mengunci Faiz di kamar agar tidak bisa pulang. Dan Faiz hanya bisa menangis dan memohon kepada sang papa agar mau membukakan pintu, namun percuma. Selain dirinya di kurung, semua gadget nya di sita agar tidak bisa menghubungi Edward lagi.
Sementara itu, papa Bastian, siang ini mengunjungi kantor Edward. Ia ingin meluruskan secara langsung dengan apa yang terjadi. Namun, ternyata kedatangan nya sia sia, karena hari ini Edward tidak ada di kantor.
Menghela napas berat, akhirnya papa Bastian mengendarai mobil nya menuju rumah Faiz dan Edward. Dan saat ia mulai memasuki halaman rumah, ia melihat adanya seorang anak kecil yang sedang bermain bola seorang diri di sana. Bastian sudah bisa menebak, bahwa anak itu adalah anak yang di maksud oleh Kaila.
Saat Bastian turun dari mobil, anak itu seketika menghentikan permainan nya. Ia sampai memiringkan kepala nya menatap lekat pada sosok laki laki paruh baya yang kini datang di rumah papa nya.
“Kakek cari siapa?” tanya Calvin dengan polos sambil memegang bola kesayangan nya.
“Kamu siapa?” tanya Bastian berpura pura tidak tahu.
“Nama ku Calvin Kek. Kakek siapa? Mau cari papa ya?” kata Calvin kembali bertanya, “Papa lagi sakit Kek.” Imbuh nya membuat Bastian langsung mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Sakit? Sakit apa?”
“Tadi kata mama, badan Papa panas. Tapi papa gak mau minum obat, gak mau juga di bawa periksa ke dokter. Kayaknya papa takut sama dokter deh, padahal dokter kan baik ya,” celoteh Calvin dengan begitu polos nya.
“Mama kamu dimana?” tanya Bastian mengalihkan pembicaraan.
“Mama lagi marahin Papa. Karena Papa bandel,” jawab Calvin lagi, hingga membuat Bastian langung menghela napas nya dengan kasar.
Bastian membenarkan kaca mata nya, lalu mengajak Calvin untuk masuk ke dalam rumah dan menemui Edward.
Bastian tidak menjawab, ia hanya tersenyum lembut kepada Calvin. Dan fokus dengan apa yang dia dengar dari arah kamar anak nya.
“Karena kamu datang cuman ingin menghancurkan rumah tangga ku El!” pekik Edward terdengar begitu marah kepada Elsa.
“Rumah tangga ku sudah hancur Ed. Jadi rumah tangga kamu juga harus hancur! Kamu yang sudah membuat aku hancur, jadi kamu juga harus ikut hancur bersama ku!” balas Elsa tak kalah tinggi dari suara Edward.
__ADS_1
“Seperti yang kamu katakan dulu, kalau sampai aku hamil, maka kamu akan menikahi ku! Jadi kamu sekarang harus menikahi ku Ed!”
“Kamu gila El. Aku tidak pernah berkata seperti itu!” elak Edward menyangkal.
“Kamu mengatakan nya Ed. Kamu bahkan menyuruh ku untuk bercerai dari suami ku!”
“Ja lang! Kapan aku mengatakan itu!” pekik Edward tak percaya.
“Pokoknya sekarang kamu harus menikahi ku atau aku akan membunuh istri tercinta kamu,” ucap Elsa dengan senyum menyeringai menatap Edward.
Deg!
Seketika itu juga, Bastian yang mendengar ada yang ingin mencelakai putri nya langsung mengepalkan tangan nya dengan begitu kuat. Ia tidak akan membiarkan putri nya terluka sedikit pun. Mungkin kedatangan nya untuk menyuruh Edward agar menceraikan Faiz adalah pilihan yang tepat, daripada nyawa anak nya terancam.
...~To be continue......
__ADS_1