
...~Happy Reading~”...
Setelah usai makan siang, Edward dan Faiz pun segera menemui papa Bastian ke ruang kerja nya. Dan disinilah mereka saat ini, duduk di sofa bersebelahan berdua, sementara papa Bastian di seberang nya.
“Ada apa Pa?” tanya Faiz membuka suara.
“Kapan kalian akan menemui anak itu?” ucap papa Bastian bertanya dengan raut wajah datar nya, “Sekarang dia berada di panti asuhan, karena tidak ada satu pun keluarga yang menjemput.”
“Kemarin papa sempat melihat keadaan nya. Sangat kacau, dann sepertinya psikis nya—“ papa Bastian langsung menghela napas nya berat, ketika ia kembali mengingat keadaan Calvin, ia merasa begitu sesak di dada nya.
Kasihan, dan sangat menyedihkan. Di usianya yang belum ada tujuh tahun, ia sudah harus menyaksikan ibunya sendiri tewas di depan mata. Tak hanya itu, ia juga tahu bahwa ibunya seorang penjahat, yang membuat nya semakin kalut dan tersiksa. Sejak pemakaman sang ibu, Calvin belum mau berbicara atau bertemu siapapun.
Di panti asuhan, ia lebih banyak diam dan menyendiri. Ia begitu enggan untuk bertemu apalagi berbicara dengan siapapun.
__ADS_1
“Nanti kami akan ke sana Pa,” ucap Faiz dengan tiba tiba membuat Edward langsung menatap istrinya dengan bingung.
“Iya, temui dia. Ajak dia bicara, anak itu benar benar down karena hidup nya yang begitu pahit.” Imbuh papa Bastian kembali menerawang jauh.
Hanya hal kecil yang di inginkan oleh Calvin, yakni keluarga. Anak sekecil itu hanya ingin memiliki keluarga utuh. Hanya saja ibunya yang terlalu penuh ambisi dan licik, hingga membuat mental anak sekecil itu harus hancur berantakan.
Awalnya, Edward ragu untuk menemui Calvin. Namun, karena desakan dan paksaan dari Faiz akhirnya ia mau menemui nya. Bukan karena tidak menyukai Calvin, hanya saja Edward takut bila kembali sedih dan luluh melihat Calvin. Ia takut bila malah tidak bisa meninggalkan anak itu lagi di panti, lantas membuat istrinya kembali sakit hati. Itu yang membuat Edward bingung.
“Kamu yakin mau menemui nya?” tanya Edward sekali lagi menatap istrinya dengan penuh keraguan.
“Heemm, biar bagaimana pun aku gak mau kakak memiliki hutang budi. Biar bagaimana pun, dia jadi seperti ini gara gara kakak. Aku gak mau, kalau nanti ke depan nya, kakak akan semakin menyesal dan di hantui rasa bersalah karena membuat Calvin menjadi seorang anak piatu,” ucap Faiz panjang lebar seraya menitikkan air mata.
Edward hanya menganggukkan kepalanya dan segera menggandeng tangan sang istri menuju tempat dimana Calvin berada.
__ADS_1
Selama beberapa hari di panti, ternyata Calvin, lebih banyak menghabiskan waktu di halaman belakang. Tepatnya,di sebuah kursi panjang sambil menikmati pemandangan di samping rel kereta api. Keseharian Calvin hanya diam menatap kosong dan mungkin juga sedang menghitung berapa banyak kereta yang melintas di depan nya.
“Calvin ... “ panggil Edward begitu lembut, kini ia sudah mendudukkan diri di samping Calvin, sementara Faiz, ia duduk di samping Edward.
Calvin tidak menjawab, bahkan untuk menoleh pun tidak. Ia masih diam dan menikmati sumilir angin pada sore hari.
“Calvin, apa kamu masih marah hem?” tanya Edward lagi, namun lagi lagi Calvin tidak menjawab.
“Calvin, apakah kamu tidak mau pulang sama Papa Edward?” bukan Edward yang memberikan pertanyaan, melainkan Faiz. Tentu saja hal itu membuat Edward langsung terkejut dan membulatkan mata dengan sempurna. Edward langsung menatap tajam pada istri nya.
...~To be continue ......
...Beberapa bab lagi Ending ya 🤭🤭🤭...
__ADS_1