
...~Happy Reading~...
“Assalamualaikum! Tante Kiaraaa.... Kaillaaa Faiz yang cantik dan imut datang!” teriak Faiz seperti biasa ketika memasuki rumah utama.
“Walaikumsalam, astaga Faiz, kamu ini kenapa sih? Pagi pagi udah teriak teriak, udah bener yang depan ngucap salam tapi kenapa harus teriak hem?” kata Kiara dengan geram kepada keponakan nya.
“Hehehe maaf Tante. Faiz mau curhat sama Kaila. Makhluk nya ada gak Tan?” tanya Faiz seraya mendudukkan diri di samping tante Kiara yang sedang mengupas buah di meja makan.
“Mahkluk kamu pikir anak tante setan!” cetus Kiara berdecak, ia benar benar heran dengan titisan sahabat serta adik ipar nya itu. Benar benar sangat bar bar bahkan melebihi dirinya masa muda. Tanpa Kiara sadari bahwa putrinya jauh lebih parah dari Faiz.
“Hehehe Faiz gak bilang tante Setan,” kata Faiz dengan cepat, “Tapi kan kita semua itu termasuk mahkluk Tuhan, tante. Jadi wajar dong kalau Faiz nyebut Kaila mahkluk, yang penting bukan mahkluk halus,” imbuh Faiz menyengir tanpa dosa hingga membuat tante Kiara langsung menatap nya tajam dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Astaga,” gumam tante Kiara menghela napas berat, “Kaila ada di kamar, kamu langsung masuk aja. Sekalian bangunin, ini udah jam delapan, katanya dia ada kelas jam sepuluh!” kata tante Kiara.
“Nah itu dia, ada fungsinya juga kan Faiz datang, mau bangunin Kaila. Bye bye tante,” ucap faiz mengecup pipi tante Kiara sekilas, “Ah iya, nanti Faiz juga mau jus nya ya Tan!” seru Faiz menghentikan langkah menatap ke belakang lalu kembali berlari menaiki tangga menuju kamar Kaila.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Edward dan Elsa baru saja mengantarkan Calvin ke sekolah. Bukan keinginan Edward, namun ia terpaksa karena keinginan Calvin. Bahkan, tadi anak itu sampai menangis hanya karena ingin di antar kan ke sekolah, tentu saja membuat hati Edward tidak tega. Meskipun Edward belum memiliki anak, tapi ia tersentuh hatinya ketika melihat mata Calvin yang terlihat begitu sendu. Persis seperti mata Fayya ketika dulu menginginkan seorang ibu.
“Nanti papa jemput Calvin lagi ya?” tanya Calvin hendak turun dari mobil dan menatap wajah papa nya dengan mata berbinar.
“Oke Ma, Calvin masuk dulu, terimakasih Papa, terimakasih Mama, cup!” Dengan tiba tiba, calvin mencium pipi Edward dan Elsa bergantian.
Tak bisa di pungkiri bahwa ada ketenangan dan rasa tidka tega melihat kebahagiaan Calvin.
__ADS_1
“Jadi siapa ayah nya?” tanya Edward membuka suara sambil matanya masih terus menatap ke arah Calvin yang sedang berjalan sambil sesekali masih menatap ke belakang dengan melambaikan tangan ke arah mobil nya.
“Kenapa kamu harus menanyakan itu lagi sih Ed? Jelas saja kamu tahu karena kamu yang membuat nya,” kata Elsa menghela napas nya kasar.
“Apakah kau yakin dia anak ku? Ckckck, jangan mencoba untuk menipu ku El!” seru Edward mencengkram setir mobil nya dan menatap tajam pada Elsa.
“Apa yang mau aku tipu dari kamu Ed? Aku tidak butuh uang mu, aku tidka ingin uang mu atau harta kamu! Aku hanya mau kamu mengakui Calvin, udah itu aja!” balas Elsa tak kalah seru.
“Dia hanya ingin ayah nya. Hanya menginginkan ayah, Ed. Itu impian dia, tidak lebih,” imbuh Elsa dengan suara serak menahan tangis.
~To be continue...
__ADS_1