
...~Happy Reading~...
“Kamu masak?” tanya Edward mengerutkan dahi nya, ketika sudah sampai di meja makan.
Faiz pun segera menganggukkan kepala, “Iya. Spesial buat kakak, perdana!” ucap Faiz begitu bahagia.
“Telur? Spesial?” desis Edward seraya memijit kening nya.
“Iks, meskipun Cuma telur, tapi rasanya beuh, ambyar. Kaya lagu dangdut yang lagi viral, pokok nya mantep banget. Kakak cobain dulu baru protes, jangan protes dulu, ih gimana sih!” saut Faiz dengan ketus dan kesal.
“Iya iya, maaf Sayang. Ya sudah aku makan dulu, kamu juga makan.” Kata Edward mengajak Faiz untuk duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
“Tidak, aku udah gak selera mau makan. Nanti aja, aku sarapan di luar, atau di rumah mama,” jawab Faiz menggelengkan kepala nya, membuat Edward langsung menatap nya tak percaya.
Bagaimana bisa, Faiz menyuruh nya sarapan dengan telur ambyar, sementara Faiz sendiri tidak mau memakan nya. Kalau dirinya saja sudah tidak berselera,mengapa menyuruh orang lain? Batin edward ingin mengumpat, namun tak bisa.
“Oh ya Kak, nanti Faiz mau belanja deh sama Mama. Habisnya, kulkas kakak bersih banget, penghuni nya masih sepi,” ucap Faiz me manyun kan bibir nya dengan kesal.
“Ya sudah, nanti malam aku jemput kamu di rumah mama.” Jawab Edward berusaha untuk mengulur waktu, “Oh ya, jadi bagaimana dengan kuliah kamu? Sudah di pikirkan?”
“Belum, Faiz sih maunya gak usah kuliah. Capek, apalagi kedokteran, Faiz gak mau jadi dokter,” rengek Faiz seperti ingin menangis.
“Lalu kamu mau apa? Nanti kakak coba bantu bicara sama Papa,” kata Edward menggenggam tangan Faiz dengan lembut.
__ADS_1
“Beneran ya?” ucap Faiz begitu antusias, terlebih ketika melihat Edward tersenyum dan menganggukkan kepala nya, membuat hati Faiz semakin berbunga.
“Ayo berangkat, aku sudah hampir telat,” kata Edward merasa bersyukur, karena tidak harus menghabiskan sarapan nya. Tadi dirinya sempat mencicipi nya sepucuk sendok. Dan memang benar, rasa telur itu sangat ambyar. Hingga membuat nya segera mengeluarkan nya di tisu secara diam diam agar Faiz tidak tahu.
Telur orak arik, atau telur ambyar. Dengan penampilan warna yang semakin ambyar karena sedikit gelap. Bukan gosong, hanya saja sedikit gelap karena kematengan. Rasanya enak, hanya saja terlalu banyak garam dan gula sehingga membuat rasanya saling bertabrakan, tak hanya sampai disitu, bahwa bawang yang di iris pun sangat besar. Karena Faiz bermurah hati tidak pelit, mungkin. Yang jelas, Faiz hanya memotong bawang tersebut dengan asal, mungkin satu siung hanya ia potong menjadi dua atau tiga bagian saja.
“Eh, kakak emang udah kenyang? Baru sarapan sedikit loh,” kata Faiz tiba tiba menghentikan langkah nya di depan mobil.
“Tapi ini sudah telat, Sayang. Udah hampir jam sembilan ini,, ayo buruan,” kata Edward mendesak, padahal ia hanya takut bila Faiz membawakan bekal untuk nya, lantaran ia tidak menghabiskan sarapan.
‘Sabar, masih ada tiga ratusan hari lebih. Nanti kita cari stok sabar dulu,’ gumam Edward dalam hati saat memasuki mobil.
__ADS_1
Baru satu hari tinggal bersama, Edward sudah mendapatkan begitu banyak kejutan dan surprise dari Faiz.
...~To be continue .......