
...~Happy Reading~...
Pagi harinya, Faiz terbangun dengan wajah sembab dan malas nya. Kepalanya masih berdenyut nyeri membayangkan kembali permasalahan yang datang di antara rumah tangga nya. Kata kata dan bayangan akan semua yang di ucapkan sang suami, membuat hatinya kembali terasa sesak.
Faiz pun mengubah posisi menjadi terlentang, ia menatap langit langit kamar nya dengan tatapan bingung, sedih, marah dan juga kecewa namun tidak bisa berbuat apa- apa. Kemarin, ia begitu bahagia, sangat bahagia namun tiba tiba langsung terhempas begitu saja.
Mungkin benar apa yang di katakan oleh orang, bila kita sedang bahagia jangan terlalu bahagia begitu pun sebaliknya. Dan juga, ketika kita mencintai seseorang, sebaiknya jangan berlebihan, karena akan berakibat seperti apa yang ia rasakan saat ini. Sangat sakit.
Faiz melirik ke arah samping, sudut ruangan tepatnya. Di sana, suaminya masih tertidur dengan begitu pulas dengan meringkuk di sofa. Sejujurnya Faiz merasa tidak tega melihat suaminya tidur di sofa yang begitu kecil semalaman. Namun, Faiz masih begitu enggan untuk berdekatan dengan sang suami.
Menghela napas kasar, Faiz pun memilih bangkit dan menuju kamar mandi. Sementara Edward yang mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka langsung membuka mata karena memang dirinya tidak bisa tidur nyenyak.
__ADS_1
‘Sayang, maafin aku,,’ gumam Edward mendudukkan dirinya di sofa dan menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
Setelah beberapa saat, Faiz sudah selesai dengan aktifitasnya, dan segera di gantikan oleh Edward. Keduanya masih saling berdiam diri, bukan keduanya, lebih tepat nya Faiz yang memilih mendiamkan Edward.
“Kita sarapan ya,” ajak Edward hendak menggandeng tangan Faiz menuruni tangga, namun dengan cepat Faiz menepis nya dan berjalan mendahului. Edward hanya mampu menghela napas nya berat.
“Papa!” sambut Calvin dengan senyum ceria nya duduk di meja makan. Edward hanya menjawab dengan senyuman tipis.
“Minggir!” ucap Faiz datar kepada Elsa karena wanita itu duduk di kursi yang biasa di duduki oleh Faiz, yakni sebelah kanan Edward. Sementara Calvin duduk di sebelah kiri Edward.
“Ku bilang minggir!” bentak Faiz menendang kursi yang di duduki Elsa hingga membuat wanita itu kesal karena acara makan nya di ganggu.
__ADS_1
“Kau—“ Elsa langsung berdiri dan menunjuk wajah Faiz dengan sangat marah.
“Kamu itu hanya menumpang disini, jadi tolong kesadaran dirinya!” ucap Faiz begitu pedas lalu mendorong Elsa agar pergi.
Faiz tidak duduk di kursi bekas Elsa, ia malah membuang kursi itu ke belakang dan menarik kursi di samping nya untuk nya ia duduk. Tentu saja hal itu membuat Elsa semakin geram dan hampir memukul Faiz.
“Elsa!” seru Edward menatap tajam pada wanita itu, “Sekali saja kau berani menyentuh istriku, maka jangan salah kan aku kalau—“
“Oke oke fine!” jawab Elsa dengan cepat dan segera pindah ke sebelah putra nya.
Sementara Calvin, anak itu memilih diam dan menundukkan kepala nya. Ia takut melihat ketiga orang dewasa di depan nya saling berteriak dan beradu argumen. Bukan ini keluarga yang ia impikan.
__ADS_1
‘Calvin Cuma mau papa,’ gumam anak itu dalam hati tanpa berani mengeluarkan suara, tangan nya menggenggam sendok serta garpu dengan begitu erat seraya menahan air mata nya.
~To be continue...