Touch Me, Mr. Cassanova

Touch Me, Mr. Cassanova
Masuk penjara?


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Mungkin, benar apa kata orang. Bahwa setiap kata yang kita ucapkan seolah doa. Maka dari itu akan lebih baik bila kita bisa menjaga lisan dalam bertutur kata.


Edward berharap bahwa Elsa tidak tertolong. Dan benar saja, tidak sampai dua puluh empat jam, wanita itu di bawa ke rumah sakit. Nyawanya di katakan sudah melayang ke akhirat. Entah surga atau neraka yang akan ia tuju, yang jelas, kini Faiz tengah di landa ketakutan hebat.


Keadaan papa Bastian pun sudah cukup membaik. Karena ternyata peluru itu tidak menembus masuk ke tubuh. Melainkan hanya menyerempet ke bahu saja. Namun, meski begitu Edward tetap meminta maaf dan merasa sangat bersalah.


"Edward akan bertanggung jawab," ucap Edward dengan tegas dan yakin. Namun, wajah nya memancarkan kesedihan yang begitu dalam.


Benar, papa Bastian memang sudah memaafkan Edward. Namun, ia juga ingin menantu nya bertanggung jawab atas kematian Elsa. Meskipun perbuatan Edward hanya ingin menyelamatkan diri, namun tetap saja, karena Edward sudah menghilangkan nyawa seseorang.


"Enggak!" pekik Faiz langsung menjerit, "Kakak gak salah! kakak cuma mau membela diri. Tidak boleh, kakak tidak boleh di penjara!"

__ADS_1


"Sayang... apa kamu tidak kasihan kepada Calvin?" tanya papa Bastian menatap putri nya yang tengah menangis, "Biarkan suami kamu bertanggung jawab."


"Enggak Pa!" seru Faiz menggelengkan kepala, "Kak Edward tidak akan sampai membunuh wanita itu, kalau saja dia tidak berbuat jahat! Dan Faiz yakin, wanita itu memang sengaja ingin menghancurkan kita semua!"


Memang benar, bahwa tujuan Elsa ingin menghancurkan rumah tangga Edward dan Faiz. Tapi tetap saja, Elsa mati karena ulah Edward. Dan kasus nya sudah mulai di tangani oleh tim penyelidik. Jadilah Edward sudah tidak bisa mengelak lagi.


Jangan heran, mengapa kasus itu bisa melibatkan polisi, karena tepat ketika Elsa di dorong masuk ke dalam rumah sakit. Ada salah seorang polisi yang melihat nya. Di tambah dengan adanya seorang anak kecil yang terus menangis histeris dan seorang diri, membuat polisi itu akhirnya menemani Calvin sepanjang waktu menunggu Elsa di tangani.


Calvin memang tidak menjelaskan apapun, ia masih syok dan hanya bisa menangis. Tapi, polisi itu yakin bahwa ada yang tidak beres. Entah firasat atau memang kebetulan, jadilah ia menyelidiki lebih lanjut.


Edward tersenyum, ia kembali menatap istrinya dengan begitu sedih. Ia tidak menyangka bahwa kini dirinya akan di penjara. Kembali meninggalkan Faiz seorang diri.


Anda saja, dirinya tinggal di Italia, mungkin membunuh beberapa orang pun, bisa ia tangani. Ia bisa dengan mudah menghilangkan jejak, tapi sangat berbeda dengan di Indonesia. Memikirkan itu, membuat hati Edward kian terasa begitu sesak.

__ADS_1


"Kamu baik baik ya. Jangan menangis lagi," tutur Edward begitu lembut seraya menghapus air mata Faiz.


"Gak mau kak! kakak gak boleh pergi hiks hiks. Gak mau, gak boleh! pokok nya gak boleh hiks hiks hiks." Faiz terus memeluk Edward dengan begitu erat, ia memang masih marah dan kecewa pada suami nya. Tapi, bila harus di tinggalkan seperti ini, dirinya juga tidak akan rela.


"Sayang, denger!" Edward menarik napas nya dengan cukup panjang, ia memegang bahu Faiz dengan tegas, "Aku hanya pergi, sebentar. Aku janji akan segera kembali. Jangan menangis. Jadilah gadis yang kuat dan tegar. Oke!"


"Hiks hiks hiks. Apakah aku kurang kuat selama ini hah! apa aku masih kurang tegar? kenapa hidup ini begitu rumit? kenapa harus seperti ini hiks hiks hiks. Haruskah aku membunuh seseorang juga biar kita bisa bersama di sana!" kata Faiz di sela isak tangis nya.


"Bodoh!" Edward langsung menyentil kening Faiz dengan begitu gemas, "Jangan buat dirimu hancur hanya demi seseorang. Aku janji, ini akan segera usai. Kita akan bahagia, percayalah," imbuh Edward terus berusaha untuk meyakinkan.


"Tapi kakak masih sakit! lihat itu tangan sampai di perban! nanti di sana siapa yang ngurusin kakak hah! hiks hiks hiks. Siapa yang nanti bakal ganti perban nya? siapa yang bakal nyiapin kebutuhan kakak!" kata Faiz semakin melantur, hingga membuat Edward semakin menghela napas kasar.


"Kamu jagain Papa. Sebelum papa pulang ke rumah, aku janji sudah akan disini. Kita akan pulang bersama sama. Pegang janji aku," ucap Edward lagi,

__ADS_1


"Gak mau! semua janji kakak gak ada yang bisa di pegang hiks hiks!" cetus Faiz semakin terisak, membuat Edward langsung mengusap wajah nya dengan kasar.


...~To be continue.......


__ADS_2