Touch Me, Mr. Cassanova

Touch Me, Mr. Cassanova
Oleh oleh


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Yuhuuuu, Assalamualaikum! Kakak datang nih!” teriak Faiz ketika memasuki rumah orang tuanya seraya membawa beberapa paper bag.


“Waalaikumsalam, kakak bisa gak kalau gak bawa Toa kemana- mana!” jawab Erish dengan begitu kesal, lantaran mulut kakak nya yang selalu bar- bar.


“Gak bisa, Sayang!” jawab Faiz tersenyum lebar, lalu ia memilih duduk di samping sang adik, “Mama sama Papa dimana?” tanya nya sembari meletakkan beberapa barang nya di sofa.


“Baru aja masuk, tumben sore sore kesini. Kak Edward nya mana?” kata Erish malah balik bertanya.


“Ada pertemuan penting sama klien, dadakan. Jadi ya udah kakak kesini, sekalian mau nganterin ini,” ucap Faiz lalu memberikan salah satu paper bag nya kepada Erish.


“Oleh oleh!” pekik Erish langsung beranjak dari tempat duduk nya dan membuka hadiah dari Faiz, “Kakak darimana emang?”

__ADS_1


“Bali, dan itu kemarin kakak lihat itu. Rame banget, sebenernya kakak males. Tapi demi kamu, its oke lah, terpaksa kakak ikut antri, Cuma buat dapet tanda tangan doang!” cetus Faiz kesal ketika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dirinya sampai rela mengantri beberapa jam hanya untuk mendapatkan tanda tangan seorang penulis.


“Hehehe, kakak memang paling pengertian deh, makasih! Kebetulan Erish belum punya yang judul ini. Mana ada tanda tangan nya lagi, aahhh Erish seneng banget!” kata Erish begitu bahagia dan langsung memeluk Faiz dengan sayang.


“Belajar yang bener kamu. Jangan baca novel terus!” kata Faiz lalu melepaskan pelukan adik nya.


“Iya iya Kak, beres itu mah. Tapi meskipun aku baca novel juga masih pinter.”


“Maksud kamu kakak bodoh!” seru Faiz tiba tiba naik pitam saat di sindir adik nya.


”Kaburrrr!” teriak Erish lalu ia segera berlari secepat kilat menuju kamar nya.


“Kak Faiz makasih!” teriak nya lagi ketika sudah beraad di tangga.

__ADS_1


Sementara itu, Faiz hanya mampu menghela napas nya kasar, lalu ia ikut masuk ke dalam untuk mencari orang tuanya. Termasuk sang papa. Benar, tujuan nya saat ini datang ke rumah orang tuanya adalah ingin menemui papa nya.


“Papaaa!” panggil Faiz mengetuk pintu kamar orang tuanya, “Papaaa!”


Tok ... Tok .. Tok ...


“Mama sama Papa ngapain sih!” seru Faiz terus menggedor pintu kamar orang tuanya.


“Papa sama Mama kalau udah selesai, kakak tungguin di belakang! Kakak tunggu di dekat kolam renang!” kata Faiz memanyunkan kan bibir nya kesal, lalu ia segera pergi ke belakang dengan perasaan semakin kesal.


Faiz menghela napas nya dengan berat dan kasar, ketika sudah sampai di taman belakang, tepat nya di sebuah gazebo yang biasanya dulu sering ia gunakan untuk berkumpul bersama para sahabat nya. Di sana, biasanya dirinya menghabiskan waktu untuk bercanda, menonton dan juga bercerita keluh kesah dengan para sahabat nya. Namun sekarang sudah tidak lagi, semenjak kedua sahabatnya kembali lagi ke Italia, Faiz sering merasa kesepian.


Hanya tinggal Kaila yang masih bertahan di Jakarta. Namun Faiz begitu enggan memanggil gadis itu ke rumah nya. Mood nya sedang tidak baik baik saja, dan Faiz tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya sampai menceritakan masalah nya kepada Kaila. Bisa di pastikan akan ada gempa dunia melanda rumah nya karena teriakan Kaila.

__ADS_1


‘Dia itu, contoh sepupu laknat yang gak ada akhlak!’ umpat Faiz dalam hatinya menghela napas panjang.


__ADS_2