
...'Kau telah berjuang...
...Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah...
...Biar 'ku menemanimu...
...Membasuh lelahmu'...
...- Melukis Senja, Budi Doremi -...
"Makan di Balkon yuk Nta" ajak Abi.
Cinta berdiri "Duluan gih, gue ambilin piring sama sendok".
"Oke, thanks" Abi langsung berjalan menuju pintu balkon.
Cinta membawa 3 piring, 2 sendok dan teko air minum serta 2 gelas menuju pintu balkon.
Saat telapak kakinya sampai di atas rumput buatan, lebih tepatnya karpet rumput. Cinta sangat terpana dengan suasana balkon Abi.
"Duduk Nta" titah Abi.
Cinta segera menyadarkan diri dan duduk di sebuah kursi berbentuk bantal.
Cinta menaruh piring dan lain-lain, Abi membuka bungkus sate dan 2 bungkus nasi. Perut mereka berdua sangat lapar, jadi biarkanlah mereka mengisi perut terlebih dahulu.
Sekitar 25 menit makan malam di selingi canda gurau, kini 2 insan itu sedang duduk santai menikmati pemandangan bintang yang malam ini kebetulan bertaburan sangat indah.
"Gimana sih, rasanya punya orangtua Bi?" tanya Cinta.
Awalnya Abi bingung, namun ia menjawab "Enak, tapi tergantung sih Nta. Kalau orangtuanya kayak orangtua gue, enak banget lah. Tapi kalau ngatur-ngatur terus jahat, ya... mungkin ga enak".
"Gue bingung Bi" lirihnya.
"Kenapa? " tanya Abi dengan lembut.
"Gue ini lahir dari siapa?".
"Nyokap lo... meninggal?" tanya Abi dengan hati-hati.
Cinta menggeleng "Gue... di besarkan di panti sampe umur 5 tahun. Awalnya gue gak ngerti karena masih kecil. Pas umur gue 6 tahun, ada seorang wanita mengangkat gue jadi cucu dia. Gue seneng, gue manggil di Oma Cantika. Gue di rawat dengan kasih sayang, meskipun dalam benak gue. Orangtua gue kemana? Sosok mereka seperti apa?".
Cinta menarik nafas sejenak "Waktu umur gue 17 tahun, gue memberanikan diri untuk tanya sama Oma. Omapun cerita, kalau gue itu di letakkan di depan panti waktu umur 2 hari. Sejak saat itu gue berpikir, kalau... Gue itu anak yang gak di inginkan".
Perasaan Abi ikut hancur, ia tidak habis pikir. Orangtua mana yang tega membuang Cinta.
"Oma lo sekarang masih ada?" .
"Sayangnya waktu gue masuk kuliah, Oma meninggal karena sakit jantung. Gue sedih banget, biar gimanapun Oma sayang banget sama gue. Begitupun gue sebaliknya. Tapi sayang, anak sama cucunya gak ada yang suka sama gue".
"Tapi Nta, seandainya suatu saat nanti takdir mempertemukan lo sama kedua orangtua lo. Gimana?".
"Dari dulu juga gue selalu berandai-andai Bi. Tapi... kalau seandainya gue ketemu mereka, gue cuma mau tanya. Alasan mereka apa? Gue mau dengar kata maaf dari mereka".
"Itu aja?" tanya Abi dengan tidak percaya.
Cinta mengangguk dan menoleh ke Abi "Iya, di dunia ini gak ada namanya mantan orangtua. Biar gimanapun, Nyokap udah mau ngandung gue, kalo dia gugurin gue, mungkin sekarang gue gak duduk di samping lo. Tapi gue berada di antara ribuan bintang di sana,yang lo tatap dari sini" Cinta menatap ke arah langit.
"Satu fakta tentang Cinta, Cinta perempuan tegar" batin Abi.
...🍃...
"Tunggu!!".
Cinta menghentikan langkahnya saat ia berada di toilet dan ingin keluar. Cinta menoleh, ia bisa melihat Meta sedang menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
"Ya elah si medusa, ngapain sih?" tanya Cinta dalam hati.
"Gue mau tanya, kemarin lo dapat bunga ya dari Dokter Fajar?" tanya Meta.
"Ada apa emangnya?" Cinta berusaha tenang.
"Gak apa-apa sih, gue cuma... heran sama lo. Bagusnya dari elo itu apa sih?" tanya Meta sambil meneliti Cinta dari atas sampai bawah.
Cinta memutar kedua bola matanya dengan malas "Gue juga gak tahu" sahutnya asal.
Meta berdiri di depan Cinta sambil bersedekap tangan.
"Gue ingatin ya Cinta, jangan merasa diri lo itu perfect! Jangan sok lo jadi cewek! Gue gak bakal biarin Dokter Fajar jadian sama lo!" gumamnya.
"Iya, terserah lo aja. Dokter Fajar bukan milik siapa-siapa kok" sahutnya lalu ia membalikkan badannya dan keluar dari toilet.
"Kak Cinta ... ".
Cinta menoleh "Iya Il, ada apa?" tanyanya.
"Cuma mau kasih informasi, nanti sore ada rapat sama Dokter Harianja".
Cinta berdecak "Auto pulang ngaret" keluhnya.
"Hehehe semangat Kak!!" seru Ismail.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada Ismail, Cinta keluar dari laboratorium dan menuju kantin.
Nasib jomblo, para sahabatnya sedang makan siang dengan pasangan masing-masing. Tapi itu sudah biasa bagi seorang Cinta.
Cinta memesan nasi sop buntut serta air mineral, setelah itu ia mencari meja kosong.
Cinta makan dengan lahap, tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang tidak sengaja menatapnya.
"Orang cantik mah bebas!!" serunya dalam hati.
"Abi? Ngapain di sini?" tanya Cinta.
Abi duduk di depan Cinta "Ada urusan sama Husein, eh... ternyata dia lagi rapat".
"Ooh... lo udah makan?" tanya Cinta sambil melanjutkan aktivitas makannya.
"Udah kok, sendirian? Lo gak punya teman?".
"Punya, cuma mereka lagi lunch sama pasangan masing-masing".
"Ooh... gitu, kasian banget lo sendirian" Abi menatap perihatin ke Cinta.
"Ya gimana ya Bi? Gue lahir juga tanpa orangtua, jadi udah kebal".
"Jangan gitu ah Nta, gak apa-apa. Siapa tahu ada cowok nyangkut nemenin lo".
"Gak usah di cari, lo buktinya udah nemuin gue duduk sendirian di sini".
"Nta, jangan bikin gue baper dongg" rengek Abi.
Sontak Cinta tertawa "Udah ah Bi, muka lo minta di tonjok tau gak".
"Jangan di tonjok, di uyel-uyel aja Nta" sahut Abi dengan nada lembutnya.
"Dih!! Hahaha!!" Cintapun masih tertawa.
"Cinta... ".
Kedua orang yang saling bercanda gurau, kini menoleh ke kanan.
__ADS_1
"Padahal tadi aku mau ngajak kamu makan siang".
"Oh... Saya sudah makan sama pacar saya Dok".
Fajar menoleh ke Abi, ia tegakkan badan atletisnya. Abi mencoba memberi senyuman ramah kepada laki-laki di depan mereka saat ini.
"Saya kira, kalian sudah putus. Ternyata masih pacaran aja" sahut Fajar dengan santai.
Cinta membersihkan sedikit ujung bibirnya "Dokter gak rapat?" alihkannya pembicaraan.
Fajar tersenyum, ia duduk di samping Cinta, tanpa menghiraukan tatapan Abi yang sedari tadi menatapnya.
"Enggak, udah di wakilin sama Husein. Oh iya Cin, aku tadi ada beli cake cokelat. Mau gak?" Fajar membuka bungkus kue brand ternama.
Bisa Cinta lihat lelehan toping coklatnya meleleh, Cintakan ikut meleleh juga 😂
"Ini aku beli, cake terbaru di tokonya. Limited Edition, tau kan harganya gimana? Jadi aku beli deh, ayo di coba" Fajar menyodorkan kotak kue yang sudah di buka tersebut.
Cinta menimang sedikit "Sekali aja, lagian coklatnya mancing gue banget pengen di makan" gumamnya dalam hati.
"Saya makan ya Dok, sebelumnya terimakasih" sahut Cinta dan mengambil 1 irisan dan memakannya perlahan.
Cinta bukannya jaim, kalau urusan coklat ia harus menikmatinya sebaik mungkin.
Fajar menoleh ke Abi "Anda mau juga? Kalau mau silahkan, ini untuk Cinta kok" tawarnya.
Abi tersenyum "Tidak terimakasih, saya sudah kenyang" tolak Abi dengan halus.
"Anda ke sini, hanya ingin menemani Cinta untuk makan siang?" Fajar mulai kepo.
"Salah satunya itu, tapi saya juga ada urusan dengan teman dan janjiannya di sini".
"Kalau saya boleh tahu, apa pekerjaan anda?".
"Saya cuma pengusaha biasa, tidak sebanding dengan anda" sahut Abi tetap dengan senyumnya.
Fajar mengangguk "Iya, kebetulan saya Dokter bedah di sini. Rumah Sakit ini juga sebenarnya punya saya. Makanya saya selalu menunggu hubungan kalian putus, biar saya bisa menikahi Cinta. Saya rasa Cinta tidak selevel dengan pengusaha seperti anda".
"Pengusaha kecil? Belum tahu aja ni orang. Kalau bukan gue sebagai donatur RS yang katanya punya dia ini" sahut Abi dalam hati.
"Soal itu, saya serahkan kepada sang pencipta. Masalah rezeki, maut dan jodoh, dia yang ngatur" jawab Abi.
"Iya saya tahu, tapi tidak ada salahnya kan kalau saya berharap?".
"Silahkan, itu hak anda" jawab Abi dengan tenang.
"Bi..." panggil Cinta.
Abi dan Fajar menoleh. Abi menyipitkan kedua matanya saat menatap wajah Cinta yang sedikit memerah.
"Iya Nta, kenapa?" tanyanya.
"Temenin aku bentar yuk, aku baru inget kalo siang ini mau ketemu Husein" jawab Cinta setenang mungkin, meski kedua matanya sedikit berlinang air mata.
"Sama aku aja Cin, aku juga mau ketemu dia. Siapa tahu pacar kamu mau cepat kembali ke kantornya. Tapi... gimana kuenya? Enak kan? di luar coklatnya lumer tapi di dalam lebih lumer lagi karena ada potongan buah strawberry yang manis" ucap Fajar.
Abi melebarkan kedua matanya, ia menatap Cinta yang memaksakan senyumnya kepada Fajar.
"Ehem, saya pikir saya dan Cinta pamit duluan" Abi berdiri dan menutup kotak cake tersebut.
"Ayo sayang, nanti kamu kerja lagi. Lebih cepat lebih baik kan?" ucap Abi sambil menarik tangan Cinta dengan lembut.
"Saya permisi Dokter Fajar" ucap Abi sambil menggandeng tangan Cinta.
Cinta tersenyum kepada Fajar sebagai tanda pamit, lalu mereka berjalan menuju pintu keluar kantin.
__ADS_1
Fajar tersenyum "Oke, gue kasih waktu buat kalian berdua bahagia. Tapi ingat, cuma sebentar! Cinta, lo harus jadi milik gue!".