
...'Start a new life, together in a different place'...
...-Eastside, Benny Blanco-...
Cinta mengernyit bingung, bagaimana tidak? Kini mobilnya berjalan menuju Apartment Grandnan.
"Bi, kok lo nganter gue?" tanya Cinta.
Abi menoleh sebentar "Hah? Nganter elo?" ia balik bertanya.
"Bentar deh, tujuan lo pulang juga kan?" tanya Cinta, Abi mengangguk.
"Jangan bilang lo tinggal di Apartment Grandnan?" posisi duduk Cinta sudah sepenuhnya menghadap ke Abi.
"Lah, emang iya".
"Ya salammmm".
"Jangan bilang lo tinggal di sana juga?" tanya Abi.
"Iya, gue tinggal di sana semenjak SMA. Lo sendiri?".
"Ooh... gue baru sih, pas lulus kuliah. Tepatnya gue pindah dari apartment gue yang lama".
"Kok para sohib gue gak pernah bilang ya?".
"Mereka gak tahu gue pindah ke Apartment baru. Setiap ngumpul kalo gak di Mall ya kalo gak di apartment Husein".
"Pantesan" jawab Cinta.
Mobil Cinta sudah terparkir manis di parkiran khusus pemilik Apartment, kini mereka berdua memasuki lift.
"Lantai berapa Nta?" tanya Abi saat ia ingin menekan tombol angka.
"Lantai 7 " sahut Cinta.
Abi mengernyit "Kok sama ya?" tanyanya dalam hati.
Tidak lama pintu lift terbuka, Cinta keluar duluan lalu di susul dengan Abi.
"Nta..." panggilnya.
Cinta menoleh "Iya?".
"Jangan bilang kita tetanggaan?".
"Lo nomor berapa?" tanya Cinta.
"74".
Cinta mengedarkan pandangannya menatap nomor di pintu sambil berjalan dengan pelan.
Saat langkahnya terhenti di depan pintu nomor 74, Cinta membalikkan badannya menatap pintu di seberang pintu nomor 74.
"Ternyata kita tetanggaan Bi, kenapa gak nyadar ya gue?" Cinta menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hahaha, Apartment lo nomor 77? Cuma depanan doang? Kocak banget sih Nta" Abipun tertawa.
"Mau mampir gak? Gue masih nagih tentang cerita lo di Mall" tawar Cinta.
"Ahh... Gue kira lo udah lupa, boleh kalo lo gak keberatan nerima tamu" jawab Abi.
Cinta menekan beberapa angka, lalu pintu tersebut terbuka. Cinta menpersilahkan Abi masuk.
"Assalamualaikum" salam Abi.
"Wa'alaikumsalam duduk gih. Mau minum apa?" tanya Cinta yang menaruh sepatu conversenya di rak, lalu ia beralih ke dapur untuk mencuci tangan.
"Yang ada aja Nta" Abi berjalan menuju sofa depan TV.
"Kopi mau? Kopi asli nih, gue racik sendiri".
"Boleh, jangan kasih sianida ya" celoteh Abi.
"Yah, ketahuan deh. Oke gue bakalan bikin paling enak".
Abi hanya terkekeh, lalu ia duduk dan menyalakan TV yang kini menayangkan film Avengers - End Game.
Sebelumnya Abi menatap interior Apartment Cinta, jauh dari kata feminine.
15 menit Cinta datang dengan membawa 2 cangkir kopi dan 1 toples cookies yang ia buat beberapa hari lalu.
"Lo kayaknya niat banget kali mau minum kopi. Sampe beli alatnya gitu" Abi mencoba menghirup aroma kopi Vietnam yang sangat khas. Seketika hatinya terasa tenang.
"Iya, gue suka kopi. Nyeduh sendiri, gue gak terlalu suka sama kopi yang kemasan" jawab Cinta dengan santai.
Cinta menoleh ke Abi "Boleh, gue terima tamu untuk ngopi manja. Inget ya, ngopi. Bukan orangnya yang gue manjain".
"Hahaha, tenang aja gue bukan laki-laki modus Nta" sahut Abi.
Abi mencoba menyesap kopi buatan Cinta, lalu ia letakkan cangkir tersebut di atas meja.
"Yang lo tahu, gue anak tunggal. Bunda gak bisa hamil lagi karena rahimnya harus di angkat. Ayah terlahir dari keluarga yang emang berada, perusahaan adalah warisan dari Kakek. Semenjak gue SMP, gue bilang sama Bunda kalo dia harus ikut kemanapun Ayah pergi" Abi menghirup nafasnya kembali.
"Alasannya, gue tahu Bunda sering kesepian. Makanya gue suruh Bunda ikut Ayah pergi, biar Bunda bisa liburan, nambah temen serta wawasan. Semenjak itulah gue selalu di tinggal di rumah. Awalnya sepi banget, tapi gue harus berpikir dan bersikap dewasa. Meskipun begitu, Ayah sama Bunda selalu nelpon gue kapanpun".
"Sampailah gue masuk kuliah, ketemu para sahabat lo meskipun dengan jurusan yang berbeda. Kita 1 frekuensi, ngerjain tugas bareng dan apapun bareng. Sampai wisuda, Ayah nawarin gue buat jadi wakil dia. Waktu itu juga gue nolak, gue punya cita-cita dari SMP. Gue mau buat suatu pusat perbelanjaan. Dari 0, pake otak, keringat dan tabungan gue sendiri. Alhamdulillah, sampai detik ini orangtua gue gak ngatur kehidupan gue. Meskipun ... ".
"Bunda lo minta calon istri?" tanya Cinta.
Abi mengangguk "Gue tahu, Bunda mau nimang cucu. Udah gitu maunya lumayan, kalo gak 3 ya 4. Di kira enak kali ya ngelahirin?" Abi menggelengkan kepalanya.
"Tapi... Kenapa sampe sekarang lo belum mau? Atau... lo mau karir dulu?".
"Kalo gue jawab, belum ada yang pas lo percaya?".
"Gue kira lo playboy Bi" celetuk Cinta.
"Lo salah kalu nilai gue gitu Nta".
Abi terdiam lagi sejenak, lalu "Lo gak suka kan, jika lo ngasih kepercayaan sama orang lain tapi orang itu gak pergunakan dengan baik?" ia menatap Cinta.
__ADS_1
"Pasti" jawab Cinta dengan tegas.
"Gue pernah ngasih kepercayaan sama seseorang, yang pernah singgah di hati gue. Yang gue anggap sebagai perempuan kedua cinta sejati gue setelah Bunda. Awalnya indah banget Nta, gue selalu jaga dia, selalu berusaha bahagiain dia. Tapi... ".
"3 tahun... 3 tahun gue di bohongin, semuanya jadi sia-sia" Abi menundukkan wajahnya.
"Lo... di selingkuhin?".
"Lebih dari itu Nta. Dulu gue pacaran kelas 2 SMA, gimana ya? Gue itu bukan tipikal cowok yang suka pamer harta. Selama SMA gue selalu naik motor, bukan motor sport tapi motor scooter matic. Gue berani nembak dia, karena yang gue lihat dia itu baik dan lugu".
"Ternyata... Selama 2 tahun pacaran, dia selalu protes kalo gue jemput dia pake motor itu. Bahkan dia rela, minjem mobil orangtuanya biar kita berangkat naik mobil. Dia juga sering ngomel kalo gue ngajak makan bakso di pinggir jalan. Dia gak suka makan yang gerobakkan. Setiap ulang tahun mau dinner dan minta di beliin barang-barang yang ada brandnya. Semua itu gue turutin".
"Dia tahu kalo lo anak orang kaya?".
Abi menggeleng "Gue selalu nutupin status keluarga gue. Gue ngaku sama semua orang kalo gue anak orang biasa".
"Tapi, kenapa lo mau aja beliin barang yang dia mau?".
"Gue mikir, cewek itu wajar matre Nta. Mereka juga pengen di manja dan di perhatikan. Selama gue bisa, gue bakal usaha meskipun uang tabungan gue yang jadi korbannya".
Cinta berdecak "Itu lo nya aja yang bucin Bi. Cewek itu emang matre, iya gue akuin. Tapi, semua itu ada batasannya. Ya itu sih kalo menurut gue, gak tahu kalo menurut cewek lain. Terus... Kenapa bisa putus? Bukannya udah banyak yang lo sia-siain? Waktu, tenaga, dan uang lo".
"Pas gue masuk kuliah, hubungan kita renggang. Kita beda kampus dan tentunya waktu ketemu susah banget. Dia sibuk sama organisasinya, padahal gue selalu nunggu dia. Sampe akhirnya waktu gue nongkrong sama ketiga sahabat cowok lo. Waktu itu ada party di salah 1 club, kita berempat cuma datang gak minum sama sekali".
"Di sana gue ngeliat dengan kedua mata gue, dia... kissing sama cowok lain. Bahkan dia rela badannya di sentuh. 1 fakta yang gue gak tahu tentang dia, dia sering bercumbu sama selingkuhannya".
"Terus reaksi lo gimana?".
"Pengen banget gue ngehajar cowok itu, tapi Panji bilang yang salah juga dia. Kalo dia cinta sama gue, dia gak akan seperti itu. Mereka juga nyuruh gue nyelesain dengan kepala dingin. Beberapa hari kemudian kita berdua ketemu, gue minta dia jujur".
"Dia ngaku, selama 3 tahun cuma mainin gue. Dia bilang kalo dia malu punya pacar kere kayak gue. Bahkan di ajak kissing aja gue gak mau. Lo tahu Nta, dia pernah masukin obat perangsang di minuman gue".
"Parah tuh cewek, udah rusak otaknya" omel Cinta.
"Bahkan dia bilang kalo, gue itu ngalamin impotensi".
"Anju! Untung lo udah putusin dia Bi. Jadi cewek gak punya rasa bersyukur banget! Sekarang susah cari cowok kayak elo" Cinta mencak-mencak mendengar cerita Abi.
"Iya, gue bersyukur banget udah putus. Meski 3 tahun sia-sia".
"Lo... trauma untuk menjalin suatu hubungan?" tanya Cinta.
"Sedikit, gue masih terngiang kadang-kadang. Padahal kedua orangtua gue selau cari kandidat calon istri untuk gue. Ketiga sahabat lo juga, tapi gimana ya? Gue masih takut".
Cinta mengangguk sebentar "Terkadang kita memang harus memilih, tapi memilih yang terbaik. Terbaik dalam arti, siap menemani kita kapanpun, dimanapun dan kondisi apapun. Tapi ingat, bukan cuma kita yang mau seperti itu, dia juga sebaliknya. Orang-orang cuma lihat kita dari depan, tapi mereka gak tahu di balik diri kita yang di kira perfect. Ada sebuah luka yang tersimpan dan masih membekas".
Cinta menatap Abi "Sorry kalo gue egois Bi, tapi... gue belum bisa ceritain tentang gue".
Abi tersenyum "It's Oke Nta, kapanpun lo siap gue ready untuk mendengarkan. Setiap manusia punya rasa percaya dan rasa nyaman terhadap orang lain dengan cara yang berbeda-beda. Kita juga baru kenal bukan? Hari ini cukup cerita tentang gue tadi. Next day, kapanpun itu kita cerita yang lain lagi. Lumayan sekalian ngopi gratis hehe" tawar Abi.
Cinta terkekeh "Ternyata seorang Bapak Ananta, suka juga sama yang namanya gratisan" ejeknya.
"Selama itu gak buat gue rugi, kenapa gak? Ananta juga manusia biasa Nta" jawab Abi.
Merekapun saling melempar tawa dan canda. Hari minggu ini, di sore hari, cerita baru telah terukir.
__ADS_1