
...'Cukup sudah ku kini mulai gerah...
...Ku perlu oksigen untuk aku bernafas...
...Tanpamu'...
...-Parasit, Gita Gutawa'...
Kenapa dari hari Senin ke Sabtu itu harus melewati 4 hari? Sedangkan dari hari Sabtu ke Senin, cuma melewati 1 hari? Cuma sang pencipta yang tahu jawabannya.
Cinta sudah berada di dalam lift untuk naik ke lantai 2. Setelah pintu lift terbuka, Cinta melangkahkan kakinya menuju laboratorium.
"Assalamualaikum" salamnya, namun matanya menangkap sosok Fajar yang sedang berbincang dengan Aleta 'bigosnya di laboratorium'.
"Wa'alaikumsalam, eh Cinta" sahut Aleta dengan suara yang di buat-buat.
Cinta tersenyum sebentar, lalu langkahnya mendekat ke mesin finger print. Ia tempelkan jari tengahnya.
"Thank you!".
Dengan secepat mungkin Cinta ingin menghindari Fajar.
"Cinta" suara itu menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya dengan senyum palsu.
"Iya Dok, Ada yang bisa saya bantu?".
Fajar tersenyum "Ini, saya belikan kamu susu segar rasa Strawberry. Biar kamu semangat kerjanya".
Cinta menatap uluran plastik putih tersebut, tangannya sangat berat untuk menerima uluran plastik tersebut.
"Sabar Cinta" bisiknya dalam hati.
Cinta menerima plastik tersebut "Lain kali gak usah repot-repot ya Dok, saya bisa beli sendiri kok" ucap Cinta.
"Gak apa-apa biar kamu semangat kerjanya. Oh iya, nanti siang mau makan bareng gak?".
Mood Cinta turun drastis, namun ia masih tetap tersenyum.
"Sebelumnya terimakasih Dokter Fajar, tapi saya sudah ada janji makan siang bersama Ajeng dan Dika" tolaknya lagi.
"Next day gimana?" Fajar masih bersikeras.
"Dalam rangka apa ya Dok?".
Fajar tersenyum "Saya hanya mau lebih dekat sama kamu".
"Boleh gak sih gue tonjok ni Dokter!" omel Cinta dalam hati.
"Wah… Dokter Fajar gercep banget sih" ucap Aleta sambil tersenyum.
Fajar terkekeh "Harus dong Aleta, bukan begitu Cinta".
Cinta masih tersenyum "Kalau Dokter lupa, saya sudah punya pacar".
"Oh… laki-laki yang waktu itu? Saya masih ingat kok, gak apa-apa. Siapa tahu kamu putus, gak ada larangan dong".
Oke, Cinta sudah muak "Udah jam 8 Dok, saya harus kerja. Permisi" Cinta dengan cepat melangkahkan kakinya menuju Ruang Laboratoriun belakang.
Cinta mengecek jadwalnya hari ini 'Cinta Andara Syifa, Ajeng Triana Larasati, Lolita Maharani - Ruang Sampling.
"Selamat pagi Teh Cinta".
Cinta menoleh, ia tersenyum "Pagi Ani, udah selesai ngepelnya?".
Ani mengangguk lalu tersenyum "Sudah Teh, ini mau beres".
"Oh gitu, oh iya ini ada Susu buat kamu" Cinta memberikan 1 kantong plastik yang berisikan 2 kotak susu strawberry kepada Ani.
"Untuk saya Teh?" tanya Ani heran.
Cinta mengangguk "Iya, ambil gih".
Ani menyambut plastik tersebut "Terimakasih Teh Cinta, semangat kerjanya".
"Oke, sama-sama".
Setelah Ani berlalu, Cinta dengan cepat mengambil jas labnya. Tidak lama Lolly datang dan mereka menuju Ruang Sampling bersama.
10 menit lagi pelayanan akan di buka, Cinta dan Lolly menyiapkan bahan serta perlengkapannya.
Tidak lama Ajeng masuk "Pagi para jomblowati!! " sapanya dengan semangat.
Lolly menoleh, ia tersenyum "Pagi Teh Ajeng".
Ajeng melirik Cinta sejenak, namun sahabatnya itu tidak meresponnya dan terlihat sibuk dengan komputer.
"Cinta…" panggilnya.
Cinta memutar kursinya, tugasnya sudah selesai "Apaan?".
__ADS_1
"Tadi… Si Bigos ngehadang gue" Ajeng duduk di sebuah kursi.
"Terus?".
"Dia tanya, apa benar seorang Cinta udah punya pacar?" Ajeng menatap santai sahabatnya yang kini melengos.
"Pagi-pagi ngegosip, gak ada kerjaan banget sih tuh orang" sahutnya.
"Terus Teh Ajeng jawab apa?" tanya Lolly yang ikut penasaran.
"Ya… gue jawab aja, gak tau. Karena gue emang gak tahu" ia menatap Cinta dengan raut wajah penasaran.
"Mau gue punya pacar atau gak, lo berdua bilang aja gak tahu. Biar urusannya gak makin panjang, malesin banget".
"Si Dokter Fajar ada ngasih apa lagi sama lo Cin?" tanya Ajeng sambil mengambil beberapa pot urine.
"Susu Strawberry".
"Gila, lagi? Ya ampun, gak tahu aja dia kalo lo alergi Strawberry".
"Teh Cinta alergi Strawberry?" tanya Lolly.
Cinta mengangguk "Lo diem-diem aja ya Lol, jangan kasih tahu siapa-siapa".
"Terus… terus… Susu Strawberrynya lo kemanain?" tanya Ajeng penasaran.
"Kasih ke Ani, biar dia semangat kerjanya".
"Haha… Teh Cinta ya aneh-aneh aja" Lolly terkekeh.
"Ya begitulah seorang Cinta Lol, udah yuk mulai" Ajeng sudah siap stand by di kursi nomor 1 untuk menyampling sedangkan Lolly di kursi nomor 2.
"Oke, gue open" Cinta membalikkan papan kecil yang tertempel di kaca dari kata Close menjadi Open.
...🍃...
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, pelayanan sampling sudah tutup. Ajeng, Cinta dan Lolly berjalan kembali ke Laboratorium.
Saat mereka masuk, ada Ibu Fatma sedang duduk di kursi recepsionis dan ada Dika bertugas menjadi admin hari ini.
"Cinta".
"Iya Bu".
"Ada titipan nih" Ibu Fatma tersenyum.
Dika mengambil bouquet bunga mawar pink di bawah meja. Sontak Cinta menutup hidungnya.
"Sembunyiin Ka" sahut Ajeng.
"Loh kenapa?" tanya Dika bingung.
"Ahh… Nanti ada yang lihat, kasian Cinta harus klarifikasi terus. Udah taro aja dulu di bawah" alibi Ajeng.
Dika menuruti perintah Ajeng, Cintapum sedikit lega karena bunga mawar pink itu tidak ada di hadapannya lagi.
"Dari Dokter F lagi Bu?" tanya Lolly.
"Iya, tadi siang dia nitip".
"Ck! Ini laboratorium kali Bu, bukan penitipan barang" sahut Cinta dengan cuek.
"Ya mau gimana lagi? Dari Dokter sih, mau ngeluarin alasan untuk nolak, kitanya yang gak enak. Iyakan Bu?" Dika menoleh ke Ibu Fatma.
"Iya Cin, serba salah jadinya".
"Iya sudah lah Bu, mau gimana lagi? Biarin aja, uang dia juga yang keluar" Cinta beranjak dari tempatnya berdiri.
Ia menghentikan langkahnya "Ka, buat lo aja. Gue baru ingat, lo lagi PDKT sama anak apotek kan? Kasih aja dia bunga itu" ucap Cinta.
"Beneran nih Cin?" Dikapun langsung antusias.
"Iyalah" iapun melanjutkan langkah kakinya menuju loker.
"Alhamdulillah" ucap Dika sambil tersenyum.
...🍃...
Habis Isya Cinta sangat uring-uringan. Kini ia menatap langit-langit kamarnya "Ya Allah, Cinta gak tahu mesti ngapain lagi" keluhnya.
5 menit ia bergelung dengan selimut, sampai akhirnya ia duduk dan beranjak dari ranjang.
Cinta memandang dirinya di cermin sebentar, ia rapikan sedikit rambut serta pakaiannya.
Tidak lupa ia mengambil ponselnya dan berjalan menuju keluar dari apartmentnya.
Cinta menatap pintu di depannya sebentar, tidak lama ia menekan bel dan menunggu tetangga depan apartmentnya ini membuka pintu.
Tidak ada pergerakkan dari pintu tersebut "Lagi sibuk kali ya?" gumam Cinta sendiri.
__ADS_1
Cinta pasrah, sepertinya malam ini adalah malam kegabutannya.
Baru saja ingin berbalik, tiba-tiba suara pintu terbuka. Cinta langsung menoleh.
"Eh elo Nta, kenapa?" tanya Abi dengan rambut yang masih terlihat basah.
"Gue ganggu gak?".
"Nggak, sorry tadi gue abis mandi makanya lama".
"Oh iya, santuy. Btw gue gabut" Cinta menyengir.
Abi menahan tangannya untuk mencubit pipi chubby itu "Masuk gih" suruhnya.
Cinta masuk ke dalam apartment Abi "Assalamualaikum" salamnya.
"Wa'alaikumsalam" sahut Abi lalu menutup pintu apartmentnya.
Cinta terpana dengan desain apartment Abi, memang tidak luas namun bertingkat. Ada sofa lumayan besar, di atas ada ranjang dan di bawahnya terdapat kitchen minimalis.
"Duduk dulu Nta, bentar ya" Abi langsung berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2.
Cinta kini duduk di sofa sambil menatap interior apartment Abi. Dalam segi warna, sama seperti Cinta kebanyakan, warna monokrom. Ada beberapa foto kedua orangtuanya Abi dan para sahabatnya.
"Btw gue belum makan, lo udah makan?" tanya Abi sambil menatap layar ponselnya.
"Belum juga, lo mau pesen ya?".
Abi mengangguk "Gue mau sate masak?".
"Sate ujung tikungan?" tanya Cinta.
"Iya yang gerobakkan".
"Boleh…Boleh… gue juga kepingin itu".
"Oke, ada tambahan lagi?" tanya Abi.
"Gak, itu aja. Sate ayamnya yang banyak ya Bi".
"Iya Nta" Abi masih fokus dengan ponselnya, untuk memesan sate kepada Pak Bejo.
"Mau minum apa?" tanya Abi menatap Cinta.
"Yang dingin-dingin aja".
Abi mengangguk lalu ia berjalan menuju kitchen untuk mengambil minuman dingin di dalam kulkas.
Cinta menerima teh kemasan kotak, lalu ia membuka sedotan dan menusuk lapisan silver.
"Btw, gue jatuh cinta sama dekorasi apartment lo" gumamnya.
Abi menoleh ke Cinta "Jatuh cinta?" beonya.
Cinta mengangguk "Keren, abis berapa duit permak ini semua? Jujur gue mau permak tapi… takut mahal"
Abi tersenyum "Mau permak gimana emangnya?".
"Kayak lo gini, tapi… gue pengen ada sentuhan muralnya. Tapikan, pasti perlu waktu yang lama".
"Gampanglah itu, tapi beneran mau gak?".
"Mau, tapi gimana?" tanya Cinta bingung.
"Serahin sama gue".
"Mahal gak?".
Abi berdecak "Gak usah mikirin harga, mulai minggu depan gimana?" tawar Abi.
"Boleh… eh tapi gue tinggal di mana? Apartment sohib gue jauh banget dari lokasi RS".
Abi menunjuk salah 1 kamar "Kamar tamu kosong, biasanya gue pake buat ruang sholat".
Cinta terdiam sejenak "Tapi kan… gue sama lo… ".
"Gue tau, anggap aja ini apartment lo juga. Lagian kamar gue di atas, gak usah khawatir. Gue gak berani macam-macam, kamar mandinya juga terpisah kok. Jadi aman" Abi memberi penjelasannya.
"Oke deh, deal ya? ".
"Deal, besok gue bawa contoh gambarnya".
TING TONG!
Abi dengan sigap berjalan menuju pintu, setelah melihat siapa yang datang ia tersenyum dan memberi uang serta tips.
Aroma sate langganan Cinta sangat tercium dan memenuhi ruangan apartment Abi. Perutnyapun semakin keroncongan dan tidak sabar melahap daging ayam yang di lumuri saos kacang.
"Makan di balkon yuk Nta" ajak Abi.
__ADS_1