
" Om Arya meminta kami untuk menjodohkan kamu dengan anaknya, Mutia" ucap Bunda dengan sangat berat hati.
Abi berusaha mencerna ucapan Indy dengan seksama "Abi enggak salah dengar kan Bun?" tanyanya.
Bima dan Indy menghela nafas "Ini adalah keputusan yang berat Ab, jujur Ayah juga enggak mau memaksa kamu. Tapi.... kamu tahu kan keluarga Om Arya bagaimana?".
Abi menyandarkan badannya ke sofa " Tapi... kenapa harus sekarang Yah? Kenapa harus di saat Abi udah sayang banget sama Cinta. Abi enggak mau menyakiti perasaan Cinta".
Indy pundak duduk di samping Abi, ia menggenggam tangan Abi untuk memberikan kekuatan "Sebelum kamu ngomong begitu juga kami sudah tahu perasaan kamu Ab terhadap Cinta. Tapi kami juga enggak punya pilihan, maafkan kami Abi" Tangis Indy pecah saat itu juga.
Abi memejamkan kedua matanya, ia merasa ingin marah, emosi dan bingung. Abi tidak bisa berpikir jernih sekarang, pikirannya sangat kalut sekali.
"Abi pulang ke apartemen dulu" ucapnya sambil berdiri.
"Ayah tunggu jawaban kamu Ab" ucap Bima dengan berat hati.
Abi tidak menjawab, ia langsung berlalu untuk keluar rumah tanpa mencium tangan kedua orang tua nya. Indy menatap sedih kepada sang anak kesayangannya. Biar bagaimanapun ini adalah hal yang tidak mereka inginkan.
..........
"Ada apaan nih Ab? Tumben lo malam-malam ajak kita keluar?" tanya Wira saat mereka sudah berada di salah 1 kafe.
"Lo mau ngelamar Cinta ya?" tanya Husein.
Abi menatap ketiga sahabatnya, lalu ia menghela nafas yang sangat panjang.
"Atau lo udah DP dulu sama Cinta?" bisik Panji.
Abi berdecak, ia juga sedikit menyesal karena sudah mengajak ketiga sahabatnya ini untuk bertemu. Tapi mau bagaimana lagi? Yang ada nanti Abi gila.
"Gue bingung sebenarnya mau ngomong gimana, gue juga enggak tahu apakah kalian bisa kasih solusi ke gue?".
" Ada apaan sih? Cinta mutusin lo? Lah bukannya kalian baru habis dari Bali ya?" tanya Wira.
"Tadi gue balik ke rumah karena di panggil Bonyok, Tiba-tiba Bunda bilang kalau gue harus segera nikah".
__ADS_1
" Lah, ya bagus dong Ab. Biar Cinta enggak di ambil orang " sahut Panji.
"Masalahnya bukan sama Cinta".
Ada jeda sebentar di antara mereka, sampai akhirnya Husein bertanya " Lah? Lo di jodohin? Bukannya Bunda lo udah setuju banget lo sama Cinta?" dengan raut wajah heran.
Abi mengangguk "Gue dj jodohin sama Mutia" sebutnya dengan nada lesu.
Mereka bertiga kembali terdiam, mencoba mencerna ucapan Abi "Gue enggak salah dengar kan Ab? Mutia?" tanya Wira dengan tidak percaya.
Abi menangkup kedua wajahnya dengan putus asa "Gue juga syok, gue.... argggghh!!!!!!".
" Ini ada kaitannya sama perusahaan Bokapnya kan?" tanya Panji.
Abi mengangguk "Tapi kenapa mesti gue yang jadi korban? Di saat gue sayang banget sama Cinta, kenapa?! " tanyanya dengan nada frustasi.
"Gue sempat dengar dari Bokap gue, ya gue kaget sih kalau Bonyoknya Mutia pengen jodohin lo sama Mutia" ucap Panji.
"Gue jadi pengen su'udzon deh, apa Jangan-jangan ide gilanya Mutia? Secara dia kan baru tahu kalau lo tajir Ab" ucap Wira.
"Bonyok gue sebenarnya berat untuk melakukan perjodohan itu, tapi... lo tahu semua kan bagaimana kita harus balas budi? Dan..... gue yang kena imbasnya, sialan!".
" Kalau menurut gue, bagaimanapun lo harus bilang sama Cinta,Ab" ucap Husein lagi.
"Gue... takut Cinta tersakiti Hus"
"Lo jelasin aja baik-baik, gue yakin Cinta pasti nerima semua penjelasan lo. Ini bukan kemauan lo, tapi ini kemauan si Mutia" balas Husein lagi.
"Semangat Ab, kalau Cinta emang jodoh lo kalian pasti bakalan sama-sama" Panji berusaha menyemangati sahabatnya itu.
"Emang berat Ab, tapi mau gimana lagi?" lanjut Wira.
Abi mengangguk namun otaknya sangat kacau sekali, lagi dan lagi Abi gagal dalam percintaan.
...............
__ADS_1
Beberapa hari ini Abi dan Cinta jarang bertemu, Cinta sedang sibuk dengan pekerjaannya sambil mengisi furniture di dalam apartemennya. Sedangkan Abi juga sibuk dengan beberapa meeting di luar kota.
Sampai pada akhirnya pada sabtu malam memutuskan untuk berbicara jujur kepada Cinta. Emang berat buat Abi, tapi ia juga tidak bisa menunda masalah hubungan mereka.
Malam ini mereka berada di apartemen Cinta, Abi juga memberi hadiah buat apartemen Cinta yaitu satu set alat kopi yang baru. Tentu saja Cinta sangat senang, karena mesin kopi lamanya ingin di ganti.
Cinta meletakkan segelas es kopi gula aren di atas meja dan 1 gelas es kopi hazelnut, di tambah 1 piring kentang goreng beserta beberapa potong sosis yang ia goreng.
"Terimakasih Nta" ucap Abi sambil tersenyum, Cinta mengangguk dan membalas senyuman Abi.
Mereka memandang TV untuk menonton film action yang di pilih oleh Cinta. Abi sedikit demi sedikit menghela nafas, ia berusaha menyiapkan nyalinya untuk berbicara kepada Cinta.
"Nta, aku mau ngomong sama kamu" akhirnya Abi membuka suara.
Cinta menoleh "Mau ngomong apa?" tanyanya.
Abi memperbaiki posisi duduknya menghadap ke Cinta, begitupun dengan Cinta.
Abi menatap kedua mata Cinta "Aku... mau minta maaf sama kamu".
" Emang kamu melakukan kesalahan?".
Abi memejamkan kedua matanya "Menurut aku iya... tapi, aku enggak mau akhirannya begini Nta. Ak... Aku".
" Jelasin aja pelan-pelan, aku bakal dengerin kamu sampe selesai" jawab Cinta.
Abi mulai menceritakan tentang dirinya yang pulang ke rumah di mana kedua orangtuanya menyuruhnya menerima perjodohan Abi bersama Mutia. Tentu saja perasaan Cinta sangat tidak karuan, ada perasaan sakit yang menusuk perasaannya.
"Aku minta maaf Nta, aku minta maaf. Tapi jujur aku enggak mau menerima perjodohan ini, kamu tahu kan masa lalu aku sama dia bagaimana?"
Cinta bisa melihat raut wajah Abi yang sangat kacau dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Cinta mencoba mengatur nafasnya "Bi... aku tahu ini bukan salah kamu, ataupun kedua orang tua kamu. Ya... aku tahu masa lalu kamu sama dia bagaimana, tapi kalian semua enggak ada pilihan selain menerima perjodohan itu".
Abi meraih kedua tangan Cinta lalu di genggamnya " aku cuma mikirin hubungan kita Nta, aku enggak bisa bayangin kalau... ".
" Aku emang enggak munafik Bi, jujur aku kaget, perasaan aku juga lagi enggak baik-baik aja di saat kamu ngomongin ini. Tapi di satu sisi aku juga enggak mau egois, kalau aku terlalu memaksakan hubungan kita untuk tetap lanjut. Kasian kedua orang tua kamu, aku juga enggak mau kamu jadi anak durhaka".
__ADS_1
"Nta, aku bahagia sama kamu. Banget! Aku pengen menikahi kamu, tapi kenapa semuanya begini Nta? Kenapa? "