Touch My Heart!

Touch My Heart!
Bab 11


__ADS_3

...'Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?'...


...- Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?, HIVI- ...


Abi menoleh ke belakang, karena merasa cukup aman Abi langsung membuang cake tersebut ke tong sampah. Ia menoleh ke Cinta yang sekarang menggaruk leher dan pipinya.


"Nta jangan di garuk" ucap Abi.


"Gatal Bi, panassss" rengek Cinta.


"Kita ke ruangan Husein ya, tahan bentar" ucap Abi.


Cukup jauh jarak dari kantin ke ruangan Husein, namun dengan langkah mereka berdua yang tergesa-gesa sampai juga di lift untuk naik ke lantai 2.


"Nta, udah muka lo merah" Abi menahan tangan Cinta.


"Gatal Bi… Aduhhhh" suara Cinta ingin menangis.


"Tahan bentar ya" bisa saja Abi mengelus Pipi Cinta agar perempuan itu tidak menggaruk pipi, leher serta lengan yang kini sudah memerah.


Tapi Abi masih tau batasan, ia hanya bisa mengelus pundak Cinta untuk memberikan rasa tenang.


Pintu lift terbuka, dengan cepat Abi menarik lengan Cinta dan membawa ke ruangan Husein.


Tanpa mengucap salam dan mengetuk, Abi membuka pintu tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Husein. Abi mengunci pintu dan menutup tirai jendela ruangan Husein.


Husein yang baru saja ingin menelpon Abi, kini kaget saat melihat pintu ruang kerjanya terbuka di tambah ada Cinta yang keadaannya tidak baik-baik saja.


"Husein…" rengek Cinta.


"Lo kenapa Cin? Ab lo apain Cinta?" tanyanya.


"Bukan gue, tuh temen lo si Dokter bedah yang katanya pemilik RS ini, ngebuat Cinta begini" sahut Abi dengan kesal.


Husein awalnya bingung, namun sekarang ia prioritaskan Cinta dulu.


"Alergi lo kambuh?".


Cinta mengangguk "Gatal Hus, panassss".


"Aduhhh obat alergi lo lagi kosong Cin, minum obat alergi sementara ya…" Husein mencari obat alergi di laci mejanya.


"Di apartment juga habis, gimana dong?" tanya Cinta.


"Lo minum ini dulu ya, nanti gue coba cari di apotek temen gue. Nih air mineralnya".


Cinta langsung meminum obat itu, rasanya ia ingin menyumpah serapah si Dokter Bedah itu.


"Siang ini lo tugas di mana?" tanya Husein.


"Urinalisa, sama Ismail".


"Syukur deh, seenggaknya lo bisa minta tolong dia untuk ngerjain sampel. Tau kan efek obat ini?".


Cinta mengangguk dan masih menggaruk leher serta tangannya.


"Dia bilang gitu sama lo Ab? Pemilik Rumah Sakit ini?" tanya Husein.


Abi yang duduk di sofa, mengangguk kecil.


"PD gila!! Lo tau kan siapa pemilik RS ini?" tanya Husein lagi.


"Bapak Muksin Dinata kan?".


Husein mengangguk "Btw, Bokapnya Fajar".


"Ohh… Pantesan sombong, tapi bokapnya baik aja deh perasaan".


"Iya, beda 180 derajat sama anaknya. Dia gak tau, lo siapa?".


Abi menggeleng, ia memberi kode ke Husein sambil melirik ke Cinta.


Husein mengangguk "Kalau dia tau, malu banget pasti! Dia ngasih Cinta apa?".


"Cake cokelat, awalnya. Tapi 5 menit kemudian muka Cinta berubah, ternyata dalam cake itu ada buah Strawberry".


"Pantesan, masih nekat juga tuh anak" gumam Husein. 


TOK TOK TOK!!


Suara ketukan pintu membuat Husein berdiri dan membuka pintu tersebut.


"Siang Dok" sapa Ajeng dan Dika.


Husein tersenyum "Siang, masuk".


Ajeng dan Dika masuk "Ya ampun Cin, lo kenapa?" tanya Dika.

__ADS_1


"Saya titip sahabat saya ya, dia lagi alergi. Barusan minum obat alergi, dan efeknya ngantuk. Awasin dia, bilangin Ismail. Cukup kalian bertiga aja yang tahu" sahut Husein.


"Oh iya Dok, nanti kami bertiga kasih tahu Ismail. Kalau begitu kami bawa Cinta keluar ya Dok. 5 menit lagi jam kerja" ucap Ajeng.


"Iya, makasih ya".


Ajeng menarik lengan Cinta untuk berdiri "Thanks Hus, thanks juga Bi. Gue balik duluan".


"Iya, sans Nta" sahut Abi sambil tersenyum.


Mereka bertiga pamit keluar dari ruangannya Husein, kini tinggal Abi dan Husein.


"Nta? Lo manggil Cinta gitu?" tanya Husein sambil membuka lemari dinginnya.


"Kenapa? Ada yang salah?".


"Gak sih, cuma… Baru lo yang manggil Nta. Cinta juga manggil lo Bi".


"Cuma panggilan doang kali Hus" sahut Abi dengan santai.


"Panggilan sayang?" goda Husein. 


"Terah lo… terahhhh".


"Btw, Senin nanti RS Medika jadi peserta expo di Mall lo".


"Gue tahu kok, seketaris Pak Muksin yang nganterin laporan ke kantor sebulan yang lalu".


"Gitu… Cinta jadi petugas di sana loh".


"Terus?".


"Lumayan 1 minggu lo ketemu dia terus Ab".


"Kalo gue ketemu dia emangnya kenapa?".


"Ya… Siapa tahu panah asmara hadir".


Abi terkekeh "Untuk sementara, gue nyaman sama status pertemanan".


"Gak lo, gak Cinta sama aja. Btw gue boleh nitip obat buat Cinta gak? Lo mampir ke Laboratorium aja nanti".


"Masih lama?" tanya Abi.


Husein mengangguk "Temen gue masih sibuk di apotek, setengah jam lagi baru dia bisa ke sini antar obat alergi Cinta".


...🍃...


Waktu demi waktu berlalu, Cinta harus menahan kantuknya. Untung ada Ismail yang mengajak Cinta mengobrol terus.


"10 menit lagi Kak, siap-siap yuk rapat" ajak Ismail.


"Iya, gue mau cuci muka dulu" sahutnya sambil berdiri.


Cinta dan Lolly kebetulan ingin ke toilet untuk cuci muka dan sekedar merapikan riasan serta pakaian mereka.


Saat Cinta dan Lolly keluar dari toilet, ada Aleta menghadang jala mereka.


"Cinta… ini ada titipan" Alet langsung memberikan bouquet bunga mawar di hadapan wajah Cinta.


Cinta melebarkan kedua matanya, tidak menunggu lama…


"Hatchiiiii!!".


"Eh?" Aleta menarik bunga tersebut.


"Hatchi!!! Hatchi!!!".


"Woahhhh! Bagus banget bunganya! Pinjem bentar dong!!" tiba-tiba Ajeng datang dan langsung mengambil bouquet tersebut dari tangan Aleta


"Eh, itu punya Cinta dari Dokter Fajar! Balikin!! Entar Dokter Fajar ngomelin gue!" protes Aleta.


"Iya… gue mau pinjem bentar untuk di pap ke suami gue" sahut Ajeng dan membawa Bouquet mawar itu menjauh dari Cinta.


"Cin, yuk ke ruangan" Dika langsung menarik tangan Cinta. 


Cinta masih menutup hidungnya yang sangat gatal.


"Nih Teh, pake masker aku aja" Lolly memberi 1 masker berwarna hijau kepada Cinta.


"Thanks ya Lol, aduh idung gue" keluhnya. 


Mereka memasuki ruangan rapat dan di susul Ajeng.


"Baik, sudah lengkap?" tanya Dokter Harianja.


"Sudah Dok" jawab Ibu Fatma.

__ADS_1


"Baik saya mulai saja ya, RS Medika minggu depan ada jadwal expo di Mall Ananta. Exponya tentang kesehatan, saya ingin dari Laboratorium ada perwakilan untuk jaga stand di sana selama seminggu" .


Nindy mengangkat tangan "Maaf Dokter, saya mau bertanya. Dalam stand itu, di jaga berapa orang? Pelayanan apa yang kita berikan?".


"Baik, dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore itu 2 orang. Jam 3 sore sampai jam 9 malam itu 3 orang. Ada beberapa orang yang di khususkan untuk tetap berjaga di sana, dengarkan baik-baik" Dokter Harianja menatap para pegawainya.


"Ajeng, Cinta, Lolly dan Dika. Sisanya di rolling dan kalian tetap berkerja seperti biasa".


"Maaf Dokter, jadi saya dan 3 nama yang Dokter sebutkan tadi tidak masuk kerja selama seminggu. Tapi berjaga di sana?" tanya Ajeng.


"Iya betul, jangan khawatir ada 3 dokter juga ikut berjaga. Dokter Fajar, Dokter Husein dan Dokter Sintia".


"Oh iya, RS Medika melayani tes darah lengkap, seperti Glukosa, Kolestrol, Asam Urat dan golongan darah. Jangan lupa berikan layanan terbaik dari RS kita. Khususnya laboratorium ini".


"Baik Dokter, kami paham" sahut Ajeng.


Rapat di lanjutkan lagi dengan membahas sistem kerja mereka selama ini. Cinta hari ini hanya sebagai pendengar, rasanya ia ingin segera pulang dan bergelung di balik selimutnya.


Kepala Cinta sangat pusing, bahkan tenggorokannya sakit.


"Demi apapun, gue pengen cepat pulang!" geramnya dalan hati.


...🍃...


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, setengah jam Abi menunggu Cinta untuk keluar dari Laboratorium.


Tidak lama beberapa orang keluar dari Laboratorium, tatapan Abi fokus untuk mencari seseorang.


Abi bisa melihat seorang perempuan sedang menggunakan masker yang di rangkul oleh sahabatnya.


Abi ingat siapa mereka, dengan cepat Abi menyusul langkah mereka.


"Cinta " panggilnya.


4 orang itu menoleh, Abi tersenyum tipis kepada mereka.


"Eh Abi, kenapa?" tanya Cinta dengan suara parau.


"Ini obat lo, tadi Husein nitip. Lo… kenapa? Kok keringetan gitu?".


"Gak enak badan gue, eh Thanks ya… ngerepotin banget jadinya" Cinta berusaha mengambil plastik kecil yang di sodorkan oleh Abi.


Namun pertahanan tubuh Cinta sedikit oleng, namun ia masih sadar.


"Cin, aduh… mendingan lo di antar Dika deh Gue parno kalo lo nyupir sendiri" ucap Ajeng.


"Iya, kebetulan mobil gue juga di service Cin. Daripada lo kenapa-kenapa" sahut Dika.


Cinta menggeleng "Lo kan udah ada janji sama gebetan lo. Udah gak apa-apa gue sendirian" sahut Cinta.


"Udah gak usah pikirin Anggun, nanti gue tinggal bilang sama dia kalo telat dikit".


"Gak usah Dik, gue cuma pusing biasa".


"Cinta pulang sama saya aja" suara Abi membuat keempat orang itu menatapnya.


"Ah… bisa…bisa… Kasian sohib gue,  lo tahu apartmentnya?" tanya Ajeng.


"Iya saya tahu".


"Tapi mobil Teh Cinta gimana?" tanya Lolly.


"Gimana kalo, mobil Cinta kamu yang bawa untuk sementara?" Abi menatap Dika.


Dika mengangguk "Bisa…Bisa… ya udah Cin, lo pulang sama dia ya" suruh Dika.


"Tapi… Lo siapanya Cinta ya?" tanya Ajeng penasaran.


"Perkenalkan saya Abimanyu, panggil aja Abi. Saya teman dekat Cinta".


Ketiga orang tersebut mengangguk "Ya udah kita titip Cinta ya, kayaknya alergi dia parah banget".


Abi mengangguk "Pasti, kalau gitu saya dan Cinta duluan ya" Abi menyentuh pundak Cinta.


Cinta memberi kunci mobilnya kepada Dika "Titip si item ya Dik, Hatchi!!".


"Iya Cin, aman sama gue. Cepat sembuh lo" sahut Dika.


Cinta melambaikan tangannya yang lemas kepada ketiga sahabatnya.


"BTW, kasep ya Teh… ah, manis sih lebih tepatnya" puji Lolly sambil menatap Abi dan Cinta berjalan sampai mereka memasuki lift.


"Iya Lol, sesuai namanya Abimanyu. Kalem kayaknya tuh orang".


"Teman dekat? sedekat apa mereka? Perasaan sahabat Cinta itu kita, sama sahabat gengnya dari kecil" tanya Dika.


"Kalo Cinta sembuh, kita introgasi dia" sahut Ajeng dan di setujui kedua orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2