
Indy dan Bima saling pandang, begitu juga Amel dan Arya. Di tambah ke empat sahabat Cinta yang menatap Mutia dengan raut wajah muak.
Ke empat orang tua itu saling pandang dengan raut wajah bingung "Ini.. yang dulu pernah kamu ceritain Ab?" tanya Indy.
Abi merutuki kehadiran Mutia yang tiba-tiba dan membuat semua orang bingung. Mau tidak mau Abi mengangguk dengan tidak minat dan melanjutkan aktivitas makannya.
"Abi, anak Tante Indy?" tanya Mutia dengan penasaran.
Indy menatap Mutia, ia mengangguk dengan sedikit tersenyum.
Mutia terkejut dengan apa yang ia dengar malam ini "Ab, kenapa kamu enggak pernah bilang kalau kamu anaknya tante Indy sama Om Bima? Kan kamu tahu sendiri kalau orang tua kita sahabatan" tanyanya.
"Kamu enggak pernah cerita juga loh Mut" sahut Amel yang sebenarnya juga terkejut dengan mantan pacar anaknya itu.
Mutia tersenyum "Iya kan waktu itu Mami sama Papi larang Mutia pacaran, jadinya kita Backstreet".
" Tapi sekarang kan udah putus" sahut Aw dengan wajah tidak berdosanya.
Mutia menoleh ke Aw, ia ingat kalau perempuan itu sangat tidak akur dengan dirinya "Iya, emang kenapa? Emang gue enggak boleh menjalin pertemanan sama Abi?" tanyanya dengan nada sewot.
"Mutia" tegur Arya dan memberi isyarat anaknya untuk kembali ke tempat duduk untuk melanjutkan aktivitas makan mereka.
Mutia dengan kesal langsung mengikuti perintah Arya, ia duduk sambil menatap Abi.
"Maaf ya, suaranya jadi kurang enak. Silahkan di lanjutkan la.. uhuk.... uhukkk" Amel menutup mulutnya.
"Minum dulu Mi" Arya menyodorkan air mineral kemasan kepada istrinya dan di Terima oleh Amel.
"Mel, bukannya itu buah Strawberry?" tanya Indy sambil menunjuk cake yang ada potongan Strawberrynya.
"Astaga, kok a... aku enggak li.. liatt?" Amel sedikit kaget sambil mengatur nafasnya.
"Alergi kamu kayaknya kambuh Mel, bawa obat enggak?" tanya Indy yang sedikit khawatir, Amel menjawab dengan gelengan kepala.
"Ini Tante, Cinta ada bawa obat" Cinta menyodorkan sebuah obat kepada Amel.
Arya menerima obat yang di berikan oleh Cinta, lalu membaca obat tersebut "Terimakasih ya nak Cinta, obat kamu sama seperti punya istri saya di rumah".
"Iya Om, minum aja" jawab Cinta sambil tersenyum.
"Cinta? siapa dia?" tanya Mutia dalam hati "Enggak mungkin kan pacar Abi?" lalu ia melanjutkan aktivitas makannya.
Setelah Amel meminum obat, mereka kembali makan sambil bercengkrama. Sedari tadi Wira memperhatikan gerak-gerik Amel dan Cinta.
"Kan enggak lucu, kalau Cinta saudaraan sama Mutia?" gumam Wira sambil menggelengkan kepalanya.
..............
Selesai acara Abi dan Cinta memutuskan untuk pulang duluan, sebenarnya Indy yang membisikkan kepada Cinta untuk membawa Abi cepat pulang. Abi dan Cinta hanya saling diam, bukan karena saling marah tapi Cinta juga tidak tahu kenapa Abi diam saat kehadiran sang mantan kekasih.
Setelah sampai di lift apartemen, Abi masih terdiam sambil menggenggam tangan Cinta. Sampai akhirnya mereka sampai di unit apartment mereka. Genggaman tangan mereka terlepas, Cinta membiarkan Abi untuk masuk ke dalam kamar pria itu, sedangkan Cinta memilih masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Setelah berganti baju dan membersihkan riasan wajah, Cinta keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Ia memilih membuat seduhan kopi, untuk dirinya dan Abi. Setelah selesai, ia bawa nampan yang berisi 2 gelas ke kamar Abi.
__ADS_1
Ia bisa melihat Abi sedang duduk di atas ranjang sambil menatap kaca jendela kamarnya. Cinta mendekatkan diri dan duduk di samping Abi.
Abi langsung menoleh, ia tersenyum tipis "Maaf" gumamnya.
Cinta meletakkan nampan itu dan memberikan 1 cangkir kopi panas kepada Abi "Maaf dalam hal apa?".
"Maaf kalau udah buat kamu enggak nyaman".
Cinta tersenyum " Mau sendiri dulu?".
Abi menggeleng "Berdua sama kamu kayaknya lebih tenang, duduk di sini aja" pintanya.
Cinta mengangguk, ia menggenggam tangan Abi "Kamu syok?".
" Hmmm lumayan, karena waktu dulu aku sama dia pacaran. Dia emang enggak pernah cerita siapa orang tuanya, dan aku pun emang enggak pernah cerita soal orang tua aku".
"Bukannya kamu akrab juga sama Om Arya dan Tante Amel?".
"Iya emang akrab, tapi mereka jarang bawa anaknya kalau lagi ada acara. Bunda aja kaget tadi".
" Terus kamu flashback sama hubungan kalian?".
Abi tersenyum "Kamu takut?".
" Lebih ke khawatir sih".
"Hahaha, enggak. Aku kan udah enggak ada rasa sama dia, dia cuma masa lalu. Kamu tahu sendiri kan ceritanya gimana?".
"Makanya kamu sama aku terus ya, biar kamu jadi garda terdepan aku. Lagian ngapain juga dia kembali lagi? ".
" Mungkin ada sesuatu, eh dari pada bahas yang enggak penting mending kita bahas ke Bali nanti" Cinta mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tadi nanya Husein, iseng banget tuh anak. Masak villa kita nanti cuma 1 kamar?".
" Emangnya kenapa? Seenggaknya kan ada kamarnya" tanya Cinta dengan wajah polosnya
"Ya enggak bisa gitu dong Nta, kita kan belum suami istri".
" Kamu takut khilaf ya?".
Abi mengangguk "Susah tahu Nta, duduk berduaan gini aja banyak banget godaanya" keluhnya.
Cinta tertawa "Ya mau gimana lagi, kalau kamu bisa menahan itu tandanya iman kamu kuat".
" Peluk boleh enggak?" pinta Abi.
Cinta mengangguk, ia langsung merentangkan kedua tangannya. Abi pun dengan senang hati masuk ke dalam dekapan sang kekasih, dan memeluk dengan erat. Abi sangat merasa nyaman dan tenang, setidaknya ketakutan yang ia rasakan tadi lenyap seketika.
Abi sangat berharap bahwa hubungannya bersama Cinta baik-baik saja, meskipun masa lalunya datang ia sangat berharap itu tidak akan merusak hubungannya dengan Cinta.
..............
Hari ini Cinta ingin menemani Abi di kantor, ia juga kebetulan tidak ada kesibukkan dan tidak ada job foto. Bagaimana dengan Abi? Tentu saja ia sangat senang dan bersemangat. Ia akan membawa Cinta untuk berkeliling sambil mengecek setiap perkembangan ruko. Sebelum mengajak Cinta untuk keliling, ia menghadiri rapat dahulu, dan ia menyuruh Cinta untuk menonton di kamar pribadinya. Tidak lupa juga ia membelikan Cinta beraneka ragam cemilan dan minuman.
__ADS_1
"Untung aja gue enggak gampang gendutan" ucap Cinta sambil melihat beraneka macam makanan dan minuman di atas meja.
"Emang enak ya punya pacar tajir terus perhatian gini, gue di jadiin ratu banget. Alhamdulillah" sambung Cinta sambil menatap layar televisi yang menayangkan drama korea.
30 menit berlalu, Cinta melihat Abi sedang masuk ke dalam kamar pribadi yang berada di kantor Abi "Udah selesai?" tanya Cinta.
Abi mengangguk "Mau jalan-jalan?".
"Boleh, bentar ya aku rapi-rapi" Cinta beranjak dari kasur dan menuju toilet untuk merapikan sedikit pakaian dan make upnya.
Untung saja Cinta mengenakan pakaian yang lumayan formal namun masih terkesan elegan "Selevel aja sih sama Abi, gue cantik juga kok" pujinya dengan bangga. Cinta juga tidak tahu dari kapan ia sangat percaya diri, efek berpacaran dengan Abi sangat membuat dirinya 50% berubah.
Setelah Cinta siap, ia mengajak Abi untuk segera berkeliling pusat perbelanjaan. Abi tidak segan menggandeng lengan kekasihnya itu, ia tidak akan malu bahkan ia sangat bahagia.
"Setiap usaha pasti ada rugi dan untungnya kan Bi?".
Abi mengangguk "Itu pasti, ya namanya juga resiko seorang pengusaha. Tapi kembali lagi sih sama pengusahanya, dia mampu enggak cari jalan keluarnya".
"Terus selama kamu membangun pusat perbelanjaan ini gimana? Pasti enggak mudah kan?".
"Setiap usaha harus di dampingi dengan ibadah, insya allah ada terus jalan keluarnya. Ya itu semua berkat kedua orang tua aku Nta, tanpa mereka aku juga pasti enggak ada di posisi ini".
"Abi"
Kedua langkah mereka berhenti, dan mereka berdua serempak menoleh ke belakang. Abi mendengus saat melihat siapa yang memanggil dirinya, Cinta hanya diam sambil menoleh ke Abi.
Perempuan yang memanggil Abi langsung mendekati mereka berdua sambil memasang senyum lebarnya.
"Enggak nyangka kita ketemu di sini, padahal aku baru aja mau ke ruangan kamu tapi susah banget" keluhnya.
"Ngapain lo mau ke ruangan gue?" tanya Abi dengan nada sedikit tidak senang, Cinta berusaha mengelus lengan Abi untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Ya cuma berkunjung aja, emang enggak boleh mantan kamu ini nengok mantannya?".
Abi terkekeh sinis "Enggak usah banyak alasan deh lo, apa yang mau lo omongin?".
Mutia melipat kedua tangannya di depan dadanya "Kamu jahat banget, kenapa enggak bilang kalau kamu anaknya Tante Indy sama Om Baim? Terus juga kenapa kamu enggak bilang kalau kamu itu anak orang kaya? Sekarang kamu udah jadi pengusaha sukses, untung aja aku udah balik ke Indonesia".
"Emang kenapa kalau gue anak orang kaya? Siapapun orang tua gue, itu bukan hak lo buat tahu. Gue sih enggak nyesal, karena waktu itu gue enggak pernah speak up latar belakang gue. Karena dari itu gue bisa tahu gimana elo sebenarnya".
Mutia sedikit kesal, namun ia berusaha tenang dan menampilkan sikapnya seanggun mungkin. Lalu pandangannya beralih ke Cinta yang sedari diam.
"Kalau boleh tahu, Lo siapanya Abi?" tanyanya.
"Pacarnya Abi" jawab Cinta dengan to the point.
"Udah berapa lama?".
"Kayaknya itu privasi hubungan kami" Cinta menoleh ke Abi "Sayang, ayo kita ke toko Cincinnya. Aku mau lihat Cincin yang kamu pesenin buat aku" ucapnya dengan nada manja.
Abi tersenyum "Ayo, pasti kamu bakalan suka" ia langsung menarik lengan Cinta dan berjalan menjauhi Mutia.
"Sialan!!! Abi enggak boleh senyum sama cewek lain! Cincin? Dulu aja Abi enggak pernah beliin gue barang mahal, kenapa sama cewek itu langsung di beliin cincin? Pokoknya gue harus dapatin Abi lagi, bagaimanapun caranya" gumamnya dalam hati.
__ADS_1