
Sudah hampir 2 minggu hubungan Abi dan Cinta berakhir, jujur saja Cinta penasaran karena sangat jarang melihat sosok Abi belakang ini. Untung saja Cinta di sibukkan dengan job perkerjaan yang lumayan banyak, Aw selaku atasan Cinta memang sengaja membuat Cinta sibuk agar sahabatnya itu tidak terlalu memikirkan masalah hubungannya yang kandas.
"Cin, Minggu depan lo ada job di Singapura. Ambil enggak?" tanya Aw.
Cinta yang sedang mengedit video menatap Aw "Berapa hari?".
"3 hari aja sih, soalnya klien ambil paket yang 2 hari. Gue kasih lo 3 hari biar lo istirahat sambil stay cation".
Cinta terdiam sebentar sambil menyimpan video yang sudah ia edit "Nanti malam gue kasih kabar ke elo, enggak apa-apa kan?"
Aw mengangguk "Gue tunggu ya, kalau lo enggak ambil gue bisa over job nya ke yang lain".
"Sip".
Aw menatap Cinta, ia ingin membicarakan sesuatu namun ia sedikit ragu.
"Mau ngomong apa lo ?" tanya Cinta tanpa melihat Aw.
"Ehm... Gue enggak tahu harus ngasih tahu lo apa enggak. Abi sama Mutia minggu depan lamaran" dengan wajah sedikit was-was.
Cinta mengangguk "Bagus deh kalau begitu, santai aja lagi Aw. Gue sama Abi kan sepakat buat temenan, jadi ya... gue harus konsisten sama apa yang udah jadi keputusan kita berdua".
"kemarin kata Wira, Abi sempat enggak enak mau undang lo".
"Gue belakangan ini emang enggak ada liat Abi, mungkin kalau ketemu dia bakalan bilang sama gue".
"Cin, mungkin buat lo ini enggak masalah. Tapi buat Abi yang sayang banget sama lo, ini adalah masalah. Gue yakin Abi gagal move on sama lo, tapi ya mau bagaimana lagi ? keputusan lo berdua sekarang jadi teman. Itu enggak mudah buat Abi".
Cinta mengangguk, ia juga tidak ingin munafik tentang perasaanya ketika menyangkut Abi. Bukan cuma Abi, tapi Cinta juga merasa gagal move on. Tapi demi di depan para sahabatnya, Cinta harus terlihat baik-baik saja.
Setelah berbincang dengan Aw, Cinta memutuskan untuk keluar sebentar untuk mencari segelas Kopi. Kebetulan di seberang studio Aw ada sebuah cafe, Cinta memutuskan untuk bersantai sejenak di sana.
"Kopi Hazelnutnya satu ya" pesan Cinta.
"Ice atau hangat kak?"
__ADS_1
"Yang ice aja, ukuran Large ya".
"Baik, mohon di tunggu ya Kak".
Cinta mengangguk lalu ia mencari tempat duduk, dan Cinta memilih di duduk di pinggir jendela sambil menikmati aktivitas lalu lalang orang-orang. Cinta membuka ponselnya lalu mengecek rekening tabungannya "Apa gue sekalian jalan-jalan aja ya?" gumamnya.
Cinta merasa tabungannya sangat cukup, bahkan lebih cukup untuk ia travelling ke beberapa negara. Akhirnya Cinta memutuskan untuk mencari tiket pesawat dan beberapa hotel untuk dia menginap. Tujuan Cinta setelah dari Singapura adalah ke Jepang dan Korea, besok Cinta akan meminta izin ke Aw untuk membuat Visa. Cinta sedikit tersenyum, ia sangat tidak sabar untuk berjalan-jalan ke luar negeri. Karena ini adalah impian Cinta sedari dulu.
.........
Keesokan harinya Cinta datang ke Studio pukul 11 siang, ia baru saja selesai membuat paspor. Cinta memiilih masuk ke dalam ruangan Aw dulu, untuk memberi laporan bahwa ia sudah selesai membuat paspor.
"Kenapa lo mau banget sih di fotoin sama Cinta?" suara terdengar sedikit kesal.
"Ya enggak apa-apa dong, kan Cinta temannya Abi juga. Gue yakin Cinta enggak keberatan" sahut seseorang wanita.
Cinta membuka pintu ruangan Cinta karena penasaran "Aw" panggilnya, namun tatapannya malah bertemu dengan wajah Abi yang menoleh ke arahnya lalu ada Mutia dan terakhir wajah Aw yang sangat tidak bersahabat.
"Hai Cinta" sapa Mutia dengan senyuman yang sangat anggun, mungkin menurut Mutia.
"Masuk Cin" ucap Aw sambil memijit kepalanya.
Cinta masuk ke dalam ruangan Aw "Ada apaan nih? Gue enggak sengaja dengar nama gue di sebut".
"Kebetulan banget ada lo, susah debat sama Aw" bukannya Aw yang menjawab tetapi Mutia yang menjawab, Aw menatap Mutia dengan sinis.
"Gue sama Abi mau foto pre wedding, tapi gue maunya elo yang fotoin. Boleh ya?" pinta Mutia.
"Mut, udah berapa kali aku bilang. Kita ini baru tunangan" Abi menyahut ucapan Mutia.
"Ya kan aku maunya sekalian pre wedding Abi" rengek Mutia.
"Gini ya Mut, di mana-mana selesai sesi tunangan baru di foto terus itu juga bisa jadi foto wedding kalian".
"Lo mau nolak rezeki Aw?".
__ADS_1
"Bukannya git..."
"Udah-udah, lo mau foto pre wedding tema apa?" Cinta berusaha melerai perdebatan mereka semua, Cinta merasa percuma kalau Abi dan Aw melawan Mutia. Cinta menilai Mutia orang yang sangat egois dan ingin menang sendiri.
"Tapi Cin..." Aw ingin protes, bukan hanya itu Abi juga menatap Cinta dengan raut wajah tidak setuju. Namun Cinta berusaha memberi kode kepada Aw bahwa ia tidak apa-apa.
"Tuh kan, Cinta mau. Bos lo ini emang resek, Sayang kamu setuju kan sama contoh gambar yang aku kirim kemarin" Mutia menatap Abi.
"Terserah kamu aja " Abi pasrah, ia tidak bisa melarang Mutia ataupun mencegah Cinta. Ia sangat terlalu lelah beberapa minggu ini, terutama lelah batin dan pikiran.
Senyum Mutia mengembang lalu menatap ke arah Cinta "Kalau besok bisa kan Cin?" tanyanya.
Cinta belum menjawab, ia mencoba mengingat jadwalnya untuk besok "Kalau besok pagi sih kosong, kalau di atas jam 12 pagi gue ada kerjaan".
Mutia mengangguk antusias "Okey, pas banget kita berdua udah beli perlengkapan buat besok. Thanks ya Nta".
Cinta mengangguk " Btw, jangan panggil gue Nta. Gue.... ngerasa aneh" ucapnya.
Abi menghelakan nafasnya, ia tahu kalau panggilan itu sangat membekas di ingatan Cinta.
Tidak lama Abi dan Mutia pamit undur diri, Abi berusaha bersikap biasa di depan Cinta meskipun rasanya sulit. Tapi ia harus konsisten dengan keputusan yang sudah mereka buat.
"Kayaknya gue lihat-lihat, Abi kurusan ya Cin" celetuk Aw saat kedua pasangan itu hilang setelah pintu tertutup.
Cinta mengangkat kedua bahunya "Kan bukan urusan gue lagi" jawabnya.
"Tapi kangen juga kan lo" goda Aw.
"Gue juga enggak tahu, apa gue berhak buat kangen sama dia?".
" Kalau menurut gue sih berhak-berhak aja, sebelum janur kuning melengkung tancap gas terussss!. Eh btw, lo yakin mau fotoin mereka?" .
"Lah emangnya kenapa?" tanya Cinta.
"Hati lo aman bos?".
__ADS_1
" Ancrit lo Aw!!!" maki Cinta yang di balas dengan gelak tawa Aw.