
Nta, aku bahagia sama kamu. Banget! Aku pengen menikahi kamu, tapi kenapa semuanya begini Nta? Kenapa? " tanya Abi yang masih frustasi.
Cinta mencoba memberikan senyumannya meskipun cukup sulit "Bi, aku juga maunya begitu. Tapi kalau kita emang enggak jodoh gimana? Kalau misalkan dipaksa, aku takut malah jadi enggak baik".
"Kamu enggak mau nahan aku Nta?" Abi penuh harap.
"Aku enggak mau kamu jadi anak durhaka, aku enggak mau apa yang kamu punya hancur begitu aja cuma gara-gara aku".
" Aku.. enggak bisa ucapin perpisahan sama kamu Nta, aku enggak bisa" Abi hanya bisa pasrah sekarang.
"Bi, makasih udah buat aku bahagia, udah mengajarkan aku apa itu cinta dan kasih sayang. Kamu yang buat aku keluar dari zona nyaman. Mungkin lebih baik kita berteman seperti sebelumnya, sekali lagi terimakasih atas kebaikan dan segala kenangan indah yang kamu kasih ke aku".
Air mata Abi jatuh di saat Cinta mengucapkan kalimat perpisahan kepadanya "Aku emang bahagia banget sama kamu Nta, enggak ada yang bisa menggantikan kenangan kita. Maaf kalau aku jahat, di awal hubungan kita aku pengen banget bahagiain kamu dan enggak buat kamu kecewa sama sebuah hubungan. Jangan benci sama aku Nta, jangan jaga jarak sama aku. Jujur aku belum siap" kedua tangan Abi mnegerat ia sangat takut kalau Cinta menjauhinya.
"Iya, kita kan sama-sama dewasa. Kita berpisah bukan karena ada orang ketiga cuma... takdir yang enggak memihak kepada kita Bi. Kamu tenang aja".
" Jangan kembalikan barang yang aku kasih ya Nta, aku mohon".
"Iyaa Bi".
Abi memutuskan untuk memeluk Cinta untuk terakhir kalinya, ia akan sangat rindu dekapan perempuan itu. Ia akan sangat rindu dengan aroma Cinta yang sangat menenangkannya. Tidak ada lagi Cinta yang selalu menyambutnya ketika ia selesai berkerja. Semuanya akan kembali seperti semula, Abi dan kehampaan.
.........
Keesokan paginya Cinta memilih untuk berdiam diri di apartemennya, malam tadi ia memutuskan untuk segera kembali ke apartemennya. Abi tidak menahannya, lelaki itu tidak ada hak untuk melarang atau mengatur kehidupan Cinta lagi. Namun, Abi ikut membantu agar Cinta tidak kelelahan.
Tidak lama suara bel berbunyi, Cinta bangkit dari tempat duduknya dan segera membukakan pintu. Ia bisa melihat 3 sahabat perempuannya yang menatapnya dengan raut khawatir.
Aw lebih memilih masuk duluan lalu di susul dengan ABC dan Shilla. Setelah mereka duduk di sofa, Cinta segera menyusul untuk ikut duduk juga.
"Lo enggak apa-apa Shil pergi keluar? Entar Husein ngomel lagi" tanya Cinta.
"Enggak apa-apa, lo tenang aja" jawab Shilla sambil mengelus perutnya yang sudah besar.
__ADS_1
"Lo gimana Cin? Apa lo sekarang baik-baik aja?" tanya ABC.
Cinta menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan secara perlahan "Pengen sih baik-baik aja, tapi gue enggak bisa bohong sama lo semua".
" Kita udah dengar ceritanya, jujur... kenapa harus melibatkan hubungan kalian? Apa ini rencana licik si Mutia, buat dapatin Abi lagi? Secara lo semua tahu kan ? Mutia baru tahu kalau Abi tajir" ucap Aw dengan raut wajah kesal.
"Gue enggak mau suudzon Aw, gue juga enggak mau nahan Abi. Gue enggak mau hubungan dia sama kedua orang tuanya hancur cuma gara-gara gue".
" Jadi hubungan kalian? " tanya ABC.
Cinta mengangguk "Kita udah selesai tadi malam secara baik-baik".
Ketiga sahabatnya hanya mampu terdiam, mereka juga bingung harus memberikan support kepada Cinta seperti apa. Apalagi Cinta baru merasakan yang namanya menjalin sebuah hubungan.
" Untung
" Lo.. enggak trauma kan Cin?" tanya ABC.
"Kalau trauma sih enggak, karena Abi enggak pernah menyakiti perasaan gue".
Cinta mengangguk "Iya, tapi posisi Abi juga serba salah. Dia enggak mau tapi harus mau, gue enggak mau Abi memperjuangkan gue tapi dia harus melibatkan kedua orangtuanya".
" Untung lo udah pindah dari unitnya Abi, kalau enggak makin susah move on lo sama dia" sahut Aw lagi.
"Guys, gue fine aja, Ok. Gue sama Abi udah sepakat buat berteman baik-baik meskipun kita berdua sadar itu enggak mudah. Gue cuma enggak mau gara-gara masalah ini pertemanan kita berdua, lingkup kita semua bahkan jalinan baik gue sama kedua orang tua Abi berantakan".
"Iya, gue setuju sama pendapat lo Cin. Semangat ya, gue yakin elo pasti bisa melewati ini semua. Elo dan Abi sama-sama orang baik, gue yakin suatu saat nanti kalian pasti berjodoh" ucap Shilla.
Cinta tidak menjawab ia hanya tersenyum meskipun dalam hatinya masih gamang. Apakah ia dan Abi bisa berjodoh suatu saat nanti?.
......
Malam ini Cinta memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran. Ia ingin sekali memakan steak di dalam sebuah ruangan yang hanya ada dirinya.
__ADS_1
"Cinta"..
Cinta yang ingin masuk ke dalam ruangan, langsung menoleh ke belakang saat namanya di panggil seseorang. Lalu ia tersenyum " Eh, Hai Bun.. Yah.. " sapanya sambil mencium tangan mereka secara bergantian.
"Kamu makan di sini?" tanya Indy.
"Iya Bun, Bunda sama Ayah juga?" tanya Cinta kembali.
Indy mengangguk "Bagaimana kalau kita gabung aja?".
" Boleh Bun".
"Mbak, steaknya pesan 2 lagi ya " ucap Indy kepada waiters.
Setelah itu mereka masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di kursi masing-masing. Mereka sangat tidak menyangka kalau mereka akan bertemu di restoran itu.
"Cinta... mungkin ini kebetulan kita bertemu di sini, biar Bunda sama Ayah tidak gelisah terus. Mungkin... Abi sudah bicara sama kamu?" tanya Indy.
Cinta tersenyum lalu mengangguk "Iya Bun sudah".
Indy menghela nafas " Jujur Cin, Bunda sebenarnya enggak rela kalian berpisah. Bunda sangat sayang sama kamu".
Cinta langsung menggenggam tangan Indy "Bun, ini bukan salah kalian semua. Mungkin emang Cinta sama Abi enggak berjodoh".
" Tapi.. tetap aja, Bunda enggak rela. Kenapa mesti begini? Bunda bisa aja menolak perjodohan itu, tapi di satu sisi kedua orang tua perempuan itu adalah sahabat kami".
"Bunda, enggak usah pikirin Cinta ya. Cinta udah ikhlas kok, dan emang Cinta enggak menahan Abi. Cinta enggak mau Abi menjadi anak yang durhaka. Balas budi itu emang kejam Bun, tapi mau bagaimana lagi? Kita berdua juga udah sepakat untuk kembali berteman secara baik-baik".
"Kami... minta maaf Cinta" ucap Bima.
Cinta menatap Bima "Iya Yah, sebelum kalian minta maaf, Cinta sudah memafkan".
" Kamu jangan jaga jarak sama kami ya, biar bagaimanapun kamu sudah Bunda anggap anak sendiri" pinta Indy.
__ADS_1
Cinta tersenyum " Iya Bun, Bunda tenang aja" lalu ia memeluk Indy.
Cinta memang tidak pernah ingin menjalani hubungan seperti ini, tapi Cinta tidak punya hak untuk menahan Abi ataupun marah kepada siapa pun. Setidaknya Cinta bisa memetik beberapa hal, bahwa seseorang yang kita genggam tidak selamanya berasa di dalam genggaman kita.