
...'Senyum membawa tawa...
...Tawa membawa cerita...
...Cerita kasih indah tentang kita'...
...-Berawal dari tatap, Yura Yuanita-...
Cinta sedang berjalan menuju restoran yang pernah ia singgahi bersama Abi waktu itu.
"Selamat siang Kak, mau makan di sini?" tanya seorang waiters menyambut kedatangan Cinta.
"Iya Mbak, buat satu orang aja ya" jawab Cinta dengan sedikit tersenyum.
"Oh baik kalo begitu, mari ikuti saya" ucapnya, Cintapun mengikuti langkah kaki waiters tersebut.
Sampailah mereka di sebuah meja bernomor 7.
"Silahka....".
"Rena" waiters yang di panggil itu menoleh di susul dengan Cinta.
"Iya?.
"Meja ini udah ada yang reservasi" ucap waiter yang memanggil tersebut, yang bisa Cinta lihat name tagnya bertuliskan 'Sinta'.
"Hah? Kenapa gak ada tulisannya?".
"Baru aja. Bapak Ananta nelpon tadi".
"Astaga, gimana nih? Kakak ini udah duluan, meja penuh semua" protes Rena dengan wajah tidak enak.
"Gue juga bingung, mmm... gimana ya?" tanya Sinta, ia menatap sekeliling isi restoran tersebut. Ia pikir, siapa tahu ada pembeli yang sudah selesai makan siang.
"Bilang aja sama Pak Ananta, tunggu setengah jam gitu" usul Rena.
"Lo mau cari mati?! Gue masih mau kerja ya Ren" tolak Sinta.
"Iya sih, tapi... Pak Ananta kan baik. Selama gue kerja di sini, dia gak pernah marah".
"Big NO Rena. Pak Ananta emang gak marah, tapi Pak Kris gimana?".
Rena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap Cinta yang sedari tadi mendengar perdebatan mereka.
"Maaf ya Kak, atas ketidak nyamanan pelayanan saya. Ini sangat mendadak dan bertepatan waktu Kakak masuk ke sini" ucap Rena dengan tidak nyaman.
Sebenarnya Cinta ingin saja protes, namun ia paham dengan tugas pelayan di sini. Sepertinya hari ini bukan rezeki Cinta untuk makan di sini.
Cinta memberi senyuman "Ya sudah gak apa-apa, mungkin hari ini saya gak di bolehin makan ayam bakar madu di sini. Saya paham kok tugas kalian bagaimana".
"Sekali lagi maaf ya Kak" Rena masih merasa tidak enak.
"Iya, santai aja. Kalo begitu terima kasih ya" Cinta membalikkan badannya, namun langkahnya terhenti karena hadirnya sosok Abi di hadapannya.
"Cinta? Mau makan di sini juga?" tanya Abi.
Cinta mengangguk " Tapi sayang, mejanya penuh semua Bi".
"Loh, ini ada 1 yang kosong" tunjuk Abi.
"Iya, tapi baru aja di reservasi sama Pak..." Cinta mencoba mengingat sebuah nama.
"Pak Ananta" sambungnya lagi.
Abi tersenyum tipis, ia menoleh kepada kedua orang waiters tersebut "Tolong bawakan buku menunya ya" ucap Abi.
"Baik Pak, mohon tunggu sebentar" Rena dan Sinta pergi.
"Duduk gih" titah Abi.
Cinta menatap Abi "Tapi ini udah di reservasi Abiiiii".
"Gue bilang duduk ya duduk Cintaaaaa" balas Abi.
"Nanti kalo orangnya datang gimana? Lo mau tanggung jawab?".
Abi terkekeh "Gak tahu aja dia, kalo gue Ananta" gumam Abi dalam hati.
"Permisi Pak Ananta, ini menunya" Rena datang membawakan buku menu.
Cinta terdiam sejenak, ia mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh Rena.
Tidak lama ia merasakan kedua pundaknya di dorong seseorang dan berakhir ia duduk di sebuah kursi.
"Pesen gih, kebanyakan bengong lo" titah Abi yang kini duduk di depannya.
Cinta mengerjapkan kedua matanya, ia berdehem sebentar "Gue pesen ayam bakar madu, cah kangkung sama es jeruk tambah air mineral 1 botol deh" imbuhnya.
__ADS_1
"Saya samakan aja ya Ren. Oh iya.. Setengah jam dari sekarang saya pesen 1 ice cream gelato di mix. Tapi, gak pake Strawberry, ingat ya" pesan Abi.
"Baik Pak, mohon di tunggu sebentar".
"Pak Ananta?" Eja Cinta sambil bersedekap kedua tangannya dan menatap Abi.
Abi menaikan 1 alisnya "Kenapa?".
"Gue masih bingung, Pak Ananta yang mereka maksud itu elo?".
Abi mengangguk "Abimanyu Ananta Putra".
"Hmmh.. gitu. Kalo gue tahu, si Ananta-ananta itu elo. Udah gue tolak pas si Rena itu coba ngusir gue, ya meskipun ngusirnya pake gak enak banget".
Abi terkekeh "Sorry deh, tapi sekarang lo udah tau kan?".
Cinta mengangguk "Terus....".
"Selamat siang Pak Ananta" tiba-tiba seorang lelaki sekitar umur 40 tahun menghampiri meja mereka.
Abi menoleh, ia tersenyum lalu menyodorkan tangan kananya untuk berjabat tangan "Siang Pak Kris, Ananta saja".
"Baik...baik, Sudah memesan makan?".
"Sudah kok, mungkin masih proses masak".
Pak Kris mengangguk "Bagaimana dengan keadaan Mall ini? Apakah aman? Atau ada masalah?".
"Alhamdulillah, sejauh ini aman Pak. Lebihnya meningkat 20%".
"Selamat ya Ananta, kamu adalah CEO sukses dengan di usia 23 tahun. Saya salut sama kamu".
Abi tertawa kecil "Terimakasih Pak, ini belum seberapa. Semuanya juga berkat para karyawan di sini, kalo tanpa mereka, mungkin saya buka siapa-siapa".
"Kamu ini selalu saja merendah, ya sudah saya harus cepat pulang. Silahkan menikmati hidangannya, selamat siang, mari Nyonya Ananta" Pak Kris menoleh ke Cinta dan menundukkan badannya sedikit.
"Ah.. I.. Iya, siang juga" balas Cinta dengan bingung.
Pesanan merekapun datang dan tersaji di atas meja. Cinta masih mencoba mencerna "Nyonya Ananta?" beonya.
Abi menatap Cinta "Dia ngira lo istri gue, udah gak usah di pikirin. Mending lo makan".
Cinta berusaha mengambil sendok serta garpu " Lo keberatan gak, sehabis makan nanti lo jelasin sama kejadian barusan?".
"Kenapa emangnya?" tanya Abi penasaran.
Cinta mencepol rambut lurusnya "Syarat untuk jadi teman gue, itu salah satunya".
...🍃...
"Soo?" Cinta membuka suara saat Abi dan Cinta sedang berjalan santai di Mall.
"Jadi sebenarnya...." ucapan Abi terputus saat ia maerasakan ada getaran di saku celananya.
"Bentar Nta" Abi menggeser ikon hijau pada ponsel mahalnya.
"Assalamualaikum Bun".
"Abii!!! Kamu di mana?!".
"Abi di mall Bun, kenapa?".
"Kenapa?! Kamu lupa? ini udah jam 1, kamu sampe ke bandaran nanti jam berapa lagi?!".
Abi menepuk jidatnya "Astaghfirullah!!! Iya Bun, Abi Otw. Sabar ya Bun".
Cinta menatapa heran kepada Abi "Kenapa Bi?".
Abi menoleh ke Cinta "Nta... Gue boleh minta tolong gak?".
"Boleh sih, apaan emangnya?".
"Gue tadi di antar sopir, sedangkan sekarang juga gue harus ke bandara. Boleh nebeng lo gak?".
"Ohh.. ya udah sekarang aja".
Abi mengangguk, kini mereka berdua menuju ke parkiran.
...🍃...
Abi dan Cinta sudah sampai di Bandara, Abi berjalan dengan langkah sedikit cepat, tidak lupa ia menoleh ke belakang untuk memastikan Cinta masih dengannya. Abi sedikit meringis, karena melihat wajah Bundanya yang cemberut dan sedang duduk di kursi tunggu.
"Assalamu'alaikum" salamnya.
Ayah dan Bundanya menoleh, 'Indy' Bundanya Abi langsung berdiri menghampiri anaknya.
"Wa'alaikumsalam, ya ampun Abiiiii.... Kamu beneran lupa tadi?" tanya Indy.
__ADS_1
Abi mencium tangan Indy "Iya Bun, maaf ya. Tapi kan seenggaknya Abi sempet ke sini".
"Iya, nunggu Bunda ngomel dulu kan?".
Bukannya menjawab, Abi malah menyengir. Ia berjalan ke arah Bima, ayahnya Abi, lalu mencium tangan Bima.
"Ngomong-ngomong, kamu bawa anak gadis siapa?" tanya Bima yang sedari tadi menatap Cinta.
Cinta berdiri kikuk, baru kali ini ia merasakan gugup.
Abi menoleh ke belakang "Ohhh... Cinta" panggil Abi, lalu memberi kode untuk mendekat ke arahnya.
"Kamu...Bukannya..." Indy mencoba mengingat.
"Iya, yang narik darah Bunda waktu itu" sahut Abi.
"Iya! Ya ampun, hampir aja lupa" ucap Indy.
"Kenalin Yah,Bun. Ini Cinta" gumam Abi.
Cinta mencium tangan Bima dan Indy secara bergantian.
"Pacar?" goda Bima.
"Ck! Bukan, temen Yah. Jangan mulai deh" jujur saja Abi tidak enak dengan Cinta sekarang.
"Kok Cinta bisa sama Abi ke sini?" tanya Indy.
"Tadi gak sengaja ketemu Abi di Mall Tan" jawab Cinta sambil tersenyum.
"Abi tadi di antar sama Pak Bambang, untung ada Cinta. Jadi sekalian minta tolong sama Cinta untuk anterin ke sini".
"Iihh... kamu itu, nyusahin Cinta aja. Maafin anak Bunda ya Cin" ucap Indy sambil memegang pundak Cinta.
Cinta tersenyum "Gak apa-apa Tan, mumpung weekend juga".
"Abi, tolong beliin Bunda air mineral dong. Bunda lupa bawa dari rumah tadi" pinta Indy.
"Oke, Nta tunggu bentar ya" pinta Abi, Cinta mengangguk.
"Nak Cinta" panggil Indy, Cinta menoleh.
"Terimakasih ya, mau nemenin Abi ke bandara. Jujur, Bunda seneng Abi jalan sama perempuan. Meskipun status kalian hanya teman aja. Boleh Bunda minta tolong?".
Perasaan Cinta sedikit bingung "Apa ya Tan?".
"Tolong jagain Abi ya, meskipun Abi sudah berusia 23 tahun. Tapi bagi Bunda sama Ayah, dia itu tetap anak kecil. Abi anak tunggal Cin, 5 tahun kemarin dia mutusin untuk tinggal sendiri di apartment. Jujur aja, Bunda sangat khawatir".
Cinta tersenyum, ia menggenggan tangan Indy "Tante tenang aja ya, Cinta yakin Abi anak yang baik. Ada Cinta dan para sahabat lainnya yang selalu di samping Abi".
"Terimakasih ya Cinta, kami berdua percayakan Abi sama kamu. Titip dia" ucap Bima.
"Iya Om, Insya Allah Cinta usahakan".
"Ini Bun, Yah" Abi datang dengan membawa 1 totebag ukuran sedang, ia berikan kepada Indy.
"Terimakasih ya Nak, 10 menit lagi Ayah sama Bunda check in".
Abi mengangguk "Ayo, Abi sama Cinta anterin sampe pintu check in".
Mereka berempat menuju depan pintu check in, Abi menyerahkan troli yang berisi beberapa koper.
Indy memeluk Abi "Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan" pesannya.
Abi terkekeh "Iya Bun siap, aduhhhh mana ada Cinta lagi. Udah Bunnnn" protes Abi saat Indy mencium kedua pipinya.
"Biarin, kenapa emangnya?" tanya Indy.
"Udah gede Bun" protesnya lagi.
"Sudah... Sudah... Abi jaga diri baik-baik ya, tengokin perusahaan Ayah. Hati-hati pulangnya sama Cinta" pesan Bima.
Abi mencium tangan Bima lalu memeluknya "Iya Yah, hati-hati Yah. Kalau ada apa-apa kabarin Abi".
Cintapun mencium tangan Bima dan terakhir Indy. Indy menarik Cinta ke dalam pelukannya.
"Terimakasih Cinta" bisiknya.
"Iya Tan, sama-sama" balas Cinta.
"Ya udah kita pergi dulu ya" pamit Bima.
Abi dan Cinta melambaikan tangan ke arah pasangan suami istri tersebut.
Abi menoleh ke Cinta "Habis ini lo mau kemana? Ada urusan atau mau pulang?" tanya Abi.
Cinta menatap Abi "Pulang aja Bi".
__ADS_1
"Oke".
Abi dan Cinta berjalan ke arah parkiran untuk segera melakukan perjalanan pulang.