Touch My Heart!

Touch My Heart!
Bab 53


__ADS_3

"Hus! Untung eli lewat" Cinta sedikit lega karena ada Husein yang lewat di UGD.


"Lo kenapa? Kok berdarah-darah? Di serempet?" tanya Husein sedikit panik saat melihat kaos Cinta yang berwarna putih sedikit ketat ada noda darah.


"Bukan gue, tapi tante Amel yang kecelakaan".


"Tante Amel?" tanya Husein sedikit bingung.


"Itu... Nyokapnya Mutia".


Husein baru paham " Kok bisa ketemu lo?" Cinta menjelaskan bagaimana ia bisa menemukan Amel yang sedang kecelakaan.


"Udah lo tenang aja dulu, jangan panik. Lo udah hubungin keluarganya? ".


" Bukannya gimana-gimana Hus, kan Mutia sama Abi bentar lagi mau tunangan. Gue udah hubungin Abi tadi, cuma dia yang terlintas di otak gue".


"Yaa seenggaknya Abi bisa kabarin Mutia, baik banget sih lo jadi mantan mikirin keadaan nyokapnya pelakor".


" Udah ah enggak usah bahas ke hubungan gue sama Abi " Cinta berusaha tidak mau menyeret tentang hubungannya dengan Abi.


"Nta".


Cinta dan Husein menoleh, mereka bisa melihat ada Abi, Wira, dan Panji yang baru saja datang.


" Lo udah hubungin Mutia?" tanpa basa-basi Cinta langsung bertanya kepada Abi.


"Gue udah berusaha nelpon dia, tapi enggak aktif. Tapi tenangnya aja Bokapnya otw ke sini kok".


Cinta sedikit merasakan lega di dalam hatinya, setidaknya ada keluarga Amel yang mengetahui kabar kecelakaan itu.


"Lo bertiga mau kemana?" tanya Panji.


"Mau ngopi" sahut Wira dengan wajah polosnya.


"Ooh gitu ya lo pada, enggak ngajak gue. Udah lupa lo sama gue?" omel Husein.


"Eh dodol! Lo lupa kalau bini lo habis lahiran? Lo mau tinggalin bini lo buat ngopi sama kita?" omel Panji.


"Ya engga juga.... Gue lupa" sahut Husein sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Keluarga Ibu Amel?" tiba-tiba seorang Dokter menginterupsi obrolan mereka.


"Iya dok? Saya suaminya" Tiba-tiba Arya datang bersama Indy dan Bima.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok? " tanya Arya dengan raut wajah sangat cemas.


Dokter yang menangani Amel menghelakan nafasnya "Keadaan Bu Amel lumayan kritis Pak, untung segera di bawa ke Rumah sakit. Bu Amel harus transfusi darah, karena ia kekurangan darah. Tangan sebelah kirinya sedikit retak, kemungkinan harus di gift dalam beberapa bulan".


" Dok, tolong selamatkan istri saya" mohon Arya.

__ADS_1


"Golongan darah Ibu Amel A, kebetulan stok di rumah sakit tinggal 1 kantong. Kita memerlukan 2 kantong darah, apakah pihak keluarga ada yang bergolongan darah A?".


" Saya aja Dok" ucap Arya.


"Ya, lo ada riwayat anemia" cegah Bima.


"Kalau untuk Anemia mohon jangan ya Pak, siapa tahu anak dari bapak bisa?".


Arya terdiam sejenak sambil memejamkan kedua matanya, otaknya sedang buntu sekarang.


" Ab, Mutia enggak lo kabarin? Emaknya lagi kritis" bisik Wira.


"Gue juga enggak tahu dia dimana, lagian percuma Ra. Mutia bukan anak kandung mereka" bisik Abi.


"Astogeee" seru Wira.


"Gue bisa aja tranfusi, tapi kemari gue baru donor darah" sahut Husein.


"Saya aja Dok" ucap Cinta dan Semua mata tertuju ke arah Cinta.


"Mba, golongan darahnya A?" tanya Dokter.


"Iya Dok".


" Baik, kalau begitu ikuti perawatnya ya untuk di periksa lebih lengkap dulu"


"Busett, mantan gercep amat" bisik Panji saat melihat Abi menyusul kepergian Cinta.


........


Setelah selesai di periksa, Cinta dinyatakan sesuai kriteria untuk pendonor. Selain Abi ada Husein yang ikut mendampingi, entah kenapa Husein ingin melakukan pemeriksaan Tes DNA yang pastinya tanpa sepengetahuan siapa pun.


Selama Cinta mendonorkan darahnya, Abi selalu berada di sampingnya.


"Kayaknya cuma lo satu-satunya yang harus donorin darah buat Tante Amel" ucap Abi.


"Ya karena gue pikir, bentar lagi kalian mau ada acara. Jangan sampai terjadi sesuatu yang enggak-enggak" jawab Cinta.


"Thanks ya Cin, lo udah nolongin Tante Amel".


Cinta tersenyum "Iya sama-sama, lo enggak ngabarin Mutia?".


"Gue udah coba telpon, tapi enggak aktif. Biarin aja, seenggaknya sudah ada Om Arya".


Hening sejenak, hanya ada suara jarum jam dinding yang berbunyi.


" Ehm, lo mau ke luar negeri besok?" tanya Abi.


"Iya".

__ADS_1


" Singapura aja?" tanya Abi lagi.


"Rencananya habis dari Singapura, gue langsung ke Korea".


"Berapa hari?".


"Rencananya seminggu sih, mau lebih tapi gue baru ingat kalau lo mau tunangan".


"Enggak usah di perjelas juga kali Cin" sahut Abi dengan senyum yang di paksakan.


Cinta tersenyum geli "Ab, kita cuma menjalani takdir. Gue bukannya jahat, tapi siapa tahu Allah baik sama kita dan menjadikan kita jodoh. Hahaha anggap aja gue gila, tapi kalau gue egois sedikit boleh kan?".


"Cin, lo mau gue gagalin pertunangan ini? Kalau lo mau, gue bakal usahain" ucap Abi dengan nada serius.


Cinta menatap Abi "Tapi dengan cara minta sama Allah ya, kalau dengan cara keegoisan kita berdua gue enggak mau".


Abi tersenyum " Pasti Cin, makasih.. makasih banyak atas kesempatan ini. Gue akan mempergunakan waktu sebaik mungkin buat beribadah. Oh iya, ini ada baju ganti. Nanti jangan lupa buat ganti baju lo ya, baju lo udah kotor gitu".


"Iya, thanks yaa Ab".


Biarlah ini semua menjadi usaha Abi dan Cinta, apapun hasilnya mereka hanya bisa pasrah dengan keputihan takdir yang maha kuasa.


...........


" Udah Ya, yang penting Amel sekarang bisa terselamatkan. Tinggal tunggu Amel sadar" ucap Indy saat mereka semua sudah ada di kamar rawat inap.


"Aku cuma takut Ndy, cukup kejadian masa lalu yang buat kita berdua menyesal. Jangan sampai kejadian ini semakin membuat aku menyesal" jawab Arya yang masih setia menggenggam tangan Amel yang tertusuk jarum infusan.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan Ya, sekarang anakmu di mana?" tanya Bima.


Arya menghela nafas "Sedari tadi aku sudah menghubungi, terserah dia mau datang atau enggak".


Tidak lama pintu rawat inap terbuka, masuklah seorang perempuan dengan pakaian yang sangat minim.


" Papi kenapa sih nelponin terus? Mutia itu lagi di salon, tuhh rambut Mutia jadi jelek karena buru-buru" omelnya dengan wajah kesal.


"Kamu tidak lihat, kalau Mami kamu lagi kena musibah?" tanya Arya dengan nada menahan kesal.


"Erghh.. Piii"


Semua mata tertuju ke Amel yang baru saja siuman.


"Mi, apa yang kamu rasain? Mual?" tanya Arya.


Amel tersenyum "Enggak ada, cuma badan aku sakit semua".


Indy langsung menekan tombol untuk memanggil perawat agar Amel bisa di periksa kembali. Setelah di periksa Amel di haruskan untuk beristirahat.


" Mami kok enggak hati-hati sih? Kan mami tahu sebentar lagi Mutia sama Abi tunangan. Masak iya, Mami nanti pake gif?".

__ADS_1


__ADS_2