Touch My Heart!

Touch My Heart!
Bab 18


__ADS_3

...'Di mana pun kalian berada...


...Kukirimkan terima kasih...


...Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah...


...Kau melukis aku'...


...-Monokrom, Tulus-...


"Maunya Bun, tapi sekarang susah".


"Karena kamu gak mau cari, gak mau membuka hati. Jangan sibuk kerja terus, kamu perlu manjain diri kamu".


Indy mengambil sayur sop lagi dan mengaduk dengan nasi.


"Kamu sakit gini, kalo sendirian kan susah. Untung ada Cinta, yang mau rawat kamu. Jangan bikin Bunda sama Ayah khawatir" sambung Indy.


"Ya udah, nikah yuk Cin" ajak Abi dengan asal.


"Ngaco lo" sahut Cinta dengan cuek.


Abi terkekeh "Abi juga pengen nikah, dan enggak cari yang terlalu sempurna juga. Yang penting bisa buat Abi merasa nyaman dan zaman sekarang susah cari kayak gitu. Awal kenal udah minta beliin tas, sepatu, baju. Bukannya pelit, tapi cowok kadang i'll feel duluan" jawab Abi.


"Itu masih tahap kenalan, belum lagi pacaran. Mungkin dia minta liburan keluar negeri, beli mobil, minta jatah uang perbulan. Apalagi kalo nikah? mungkin pikiran dia shopping mulu, suami cari uang susah payah".


"Tapi gak semua cewek begitu Ab" bela Bima.


"Iya Abi tahu kok Yah, contohnya kayak Bunda, Cinta dan sohib Abi yang perempuan. Mereka gak kayak gitu, malah mereka berempat termasuk Cinta adalah cewek yang perkerja keras. Husein, Panji dan Wira gak pernah ngeluh juga kalau pacar mereka kadang-kadang minta suatu barang dan itu pun gak terlalu mahal… "


"Abi pengen punya pasangan kayak mereka, yang selalu mensyukuri apa yang Abi dapat. Bukan cuma nikmati semena-mena".


"Kamu lagi nyindir anak Pak Rahmat yang waktu itu?" tanya Indy.


Abi berpikir sejenak "Ya… gitu, jadi biarin Abi buat cari pendamping sendiri".


"Asal ingat umur aja" sahut Bima.


"Siap Yah".


Indy menoleh ke Cinta "Asal kamu tahu Cin, Abi itu anaknya manja. Apalagi kalo sakit gini, kadang Ayahnya cuma geleng-geleng kepala".


"Gak apa-apa lagi Bun, kan manjanya ke Bunda juga. Bukan ke cewek lain, tapi ya… Abi juga gak tahu sih mau manja sama senderan gini sama siapa" keluhnya.


"Makanya sambil cari sana" sahut Indy sambil menaruh piring kosong ke atas nampan.


"Nanti aja deh, lagian mau manja-manjaan sama Cinta kan gak mungkin. Ya kan Nta?" Abi menatap Cinta.


Cinta bersedekap tangan "Gue gak tau manjain cowok gimana, jadi lo salah orang".


"Ya sudahlah, buat kalian berdua kejar karir boleh. Tapi ingat, menikah juga ibadah" pesan Bima.

__ADS_1


"Siyap!!!" sahut Abi dan Cinta bersamaan.


...🍃...


Hari ini adalah hari di mana pegawai Laboratorium dan para Dokter sibuk melayani para pasien. Expo yang di adakan di Mall Anan's, membuat para pengunjung antusias.


Ajeng dan Cinta sedari tadi sibuk memeriksa sampel para pasien, sedangkan Fajar dan Husein sibuk menjelaskan informasi kepada pasien yang ingin berkonsultasi. Dika sibuk mencatat data pasien yang ingin melakukan pemeriksaan gratis, sedangkan Ismail sibuk mencetak hasil dengan Print Out.


"Expo di sini Keren ya Cin, lengkap banget dah" gumam Ajeng yang sedang memasang timer untuk pemeriksaan HBsAg.


"Mungkin Dokter Harianja gak mau setengah-setengah" sahut Cinta yang sedang mengambil satu blanko.


"Nyonya Rasti" panggil Cinta kepada pasien selanjutnya.


Seorang wanita berhijab menghampiri meja Cinta.


Cinta menyambutnya "Selamat siang Bu" sapa Cinta.


Wanita itu tersenyum "Pagi juga Mbak".


"Nama lengkapnya siapa Bu?".


"Rasita Ningsih, Mbak".


"Ingat tanggal lahirnya Bu?".


"15 Maret 1980".


"Saya tinggal di Jalan Jagaraya, Rt 01,  Nomor 05, Kelurahan Kebon Salak".


"Baik kalau begitu, hari ini Ibu mau periksa gula darah?".


Ibu Rasti mengangguk "Iya, soalnya setiap pagi saya mengantuk terus Mbak. Kata tetangga saya, itu salah satu gejala Diabetes. Jadi saya periksa, karena sekalian jalan-jalan ke Mall".


Cinta mengangguk "Iya Bu itu salah satu gejala Diabetes, tapi kita periksa dulu ya Bu. Kalau keluar, hasilnya di jelaskan sama Dokternya" Cinta menyiapkan peralatan untuk mengambil darah di arteri.


"Pinjam jarinya sebentar ya Bu, rileks aja gak usah tegang" ucap Cinta sambil tersenyum.


Ibu Rasti memberikan jari sebelah kanannya, Cinta memegang jari tengah Ibu Rasti. Ia bersihkan dengan alkohol dan membiarka kering sebentar.


Setelah itu Cinta menekan alat tes tersebut, lalu ia sedikit menekan jari tengah Ibu Rasti.


Darah keluar dari jari tengah tersebut, Cinta menghapus sedikit darah tersebut dengan tissue lalu ia tekan lagi jari tengah tersebut. Daraj kembali keluar, dengan cepat Cinta mengambil stick Glukosa yang sudah di masukkan ke dalam alat baca hasil glukosa.


Saat darah sudah memenuhi garis strip glukosa. Cinta langsung memberikan alkohol swab di jari tengah Ibu Rasti. Cinta menunggu hasil glukosa tersebut lalu mencatatnya di blanko Ibu Rasti.


"Hasilnya sudah keluar Bu, silahkan geser ke bangku merah ya Bu. Tunggu di panggil sama Dokternya" ucap Cinta.


"Baik, terimakasih ya Mbak".


"Sama-sama Ibu" jawab Cinta sambil tersenyum.

__ADS_1


"Permisi Kak" tiba-tiba seorang karyawan kedai kopi menghampiri meja Cinta.


Cinta menoleh "Iya, ada apa ya?".


"Saya di suruh kasih kopi ini buat Kakak. Sebelumnya nama Kakak, Kak Cinta kan?".


"Iya, saya Cinta. Hmmm dari siapa?" tanya Cinta.


"Dari Bapak Ananta Kak".


Cinta berpikir sejenak, lalu ia baru ingat kalau Ananta itu adalah Abi.


"Oh iya, bilangin makasih ya" ucap Cinta sambil tersenyum.


"Iya Kak" karyawan tersebut meletakkan ice coffee tersebut di atas meja kerja Cinta.


Setelah karyawan itu pergi, Ajeng mendekati Cinta "Ananta siapa Cin?".


Cinta yang mengaduk ice coffeenya menoleh "Teman gue" lalu ia meminum dan menikmati sensasi pahit tapi nikmat.


"Perhatian bener teman lo ngasih ice coffee?".


"Si Abi".


"Hah? Maksudnya?".


"Si Ananta itu Abi".


Ajeng terdiam sebentar "Cieee di kasih minum biar semangat. Sweet juga ya Abi" goda Ajeng.


"Siapa yang sweet?" tiba-tiba Fajar menghampiri Ajeng dan Cinta.


Ajeng tersenyum "Itu Dok, pacarnya si Cinta nganterin minuman" ia melirik ke arah Cinta.


Fajar menatap Cinta "Oh ya? Emang dia ngasih apa?" Fajar lalu menatap minuman yang di pegang oleh Cinta.


"Ice coffee? Dia ngasih kamu ice coffee Cin? Kalau lambung kamu kenapa - kenapa bagaimana?".


"Saya gak ada penyakit maag Dok" jawab Cinta.


"Aku pesenin Strawberry shake ya, kamu buang aja ice coffee itu".


"Gak usah Dok, saya juga lagi kepengen minum kopi" tolak Cinta secara halus.


"Buang aja Cinta, ini perintah".


"Jangan Dok, mubadzir" sahut Cinta sambil menahan sabarnya.


Fajar langsung menghampiri Cinta, ia rampas minuman tersebut lalu ia buang ke tong sampah.


Cinta langsung berdiri dari tempat duduknya, Ajeng langsung menutup mulutnya saat melihat kelakuan Fajar.

__ADS_1


__ADS_2