
'Hampa kesal dan amarah
Seluruhnya ada di benakku'
-Kecewa, Bunga Citra Lestari-
"Jadi udah berapa lama kalian berhubungan ?" bisik Indy.
Abi terdiam sejenak, ia melupakan sifat Indy yang terkadang ajaib "Ya ampun Bun, masih kuat aja instingnya" jawab Abi sambil memakan cheese cake buatan kekasihnya.
"Namanya juga seorang Ibu Bi, jadi? Ah... apa jangan-jangan yang waktu kamu sakit itu ya?".
"Nah kan, insting boleh kuat tapi jangan asal tebak dong" Abi menghembuskan nafasnya " Baru aja Bun, ya.. hampir seminggu lah".
"Ya ampun ternyata baru Yah " Indy cekikian bsedangkan Arya tersenyum.
"Kalian masih tinggal bersama ?' tanya Arya.
Abi mengangguk "Soalnya renovasi apartement Cinta masih 50 %, Abi juga udah nyuruh yang ngerjain untuk di percepat. Kasihan Cinta".
"Tapi kamu enggak main colek sama Cinta kan Bi?" tanya Indy.
"Dih, bahasanya main colek. Ya enggak lah Bun, Cinta juga kalau di apartemen Abi selalu pakai baju yang sopan. Lagi pula Abi juga masih ingat Allah, dosa Bun".
"Cium dikit juga enggak apa-apa Bi" sahut Arya.
Abi tercengang dengan ucapan Arya "Wah,, Ayah juga ternyata bahaya ya Bun?".
Indy tersenyum "Kalian udah sama-sama dewasa, enggak apa-apa lah cium sedikit asal jangan terbawa suasana".
"Astaghfirullah, ampunilah dosa kedua orangtua Abi ya Allah" gumam Abi.
Indy memukul bahu Abi "Kenapa enggak kamu ajak nikah aja sekalian?".
"Sabar lah Bun, Abi juga maunya langsung tancap gas. Tapi Abi enggak mau buat Cinta terbebani, ini aja dia minta di ajarin jadi kekasih yang baik hati dan tidak sombong".
"Cinta pemula Bi?" tanya Arya yang sedikit tidak percaya.
Abi mengangguk "Karena dari itu, Abi enggak mau terlalu terburu-buru ajak Cinta nikah. Abi mau Cinta ngerasain di istemawakan dulu sama Abi" jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Mereka memutuskan obrolan rahasia, karena Cinta sudah selesai mencuci piring. Indy langsung menyuruh Cinta untuk bergabung sambil menikmati cheese cake buatan Cinta. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Abi dan Indy pamit kepada Indy dan Arya, tidak lupa juga mereka meminta izin untuk pergi ke Bali.
"Bi, kalau kamu pulang terus oleh-olehnya cucu Bunda ikhlas. Asalkan itu sama Cinta" bisik Indy.
"Astaghfirullah Bun" Abi benar-benar tidak habis pikir dengan Indy, karena ia tidak mau semakin gila Abi memutuskan untuk cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
.............................
"Selamat pagi Cinta" sapa Fajar saat mereka tidak sengaja berpapasan di kantin Rumah Sakit.
"Iya Dok, selamat pagi" balas Cinta lalu ia segera berlalu, namun lengannya di tahan oleh Fajar.
"Kenapa kamu selalu buru-buru sih Cin kalau ketemu saya ? Saya enggak makan orang loh".
"Elo yang gue makan, biar enggak ganggu kehidupan gue lagi" bisik Cinta dalam hati "Maaf Dok, ini rumah sakit. Enggak etis kalau mengobrol panjang, apalagi mau masuk jam kerja. Saya enggak mau telat".
"Ayolah Cin, rumah sakit ini Papa aku yang punya. Kalau kamu di tegur sama Ibu Fatma, bilang sama aku. Kamu enggak usah takut".
"Saya cuma terlalu malas menghadapi gosip-gosip yang beredar nanti".
Fajar tertawa "Bagus dong, biar mereka tahu kalau kita ini sedang ada hubungan".
Lagi dan lagi, Fajar tertampar dengan realita bahwa Cinta sudah mempunyai pacar. Fajar sangat membenci itu "Cinta, gue pastikan elo berada di tangan gue dalam waktu dekat" ucap Fajar dalam hati sambil menatap Cinta yang sedang membeli kopi kemasan.
......................
Mood Cinta sudah tidak bagus sedari pagi, karena bertemu dengan Fajar. Sekarang moodnya semakin hancur karena 1 shift dengan Meta di Kimia Klinik. Dari awal memulai aktivitas mereka tidak saling mengobrol, Cinta hanya fokus dengan para sampelnya sedangkan Meta menulis hasil sambil bermain ponsel.
"Kak Cinta, si panggil Dokter Harianja" ucap Ismail.
Cinta mengernyitkan keningnya "Ada apaan? Tumben?" tanyanya.
"Gue juga kurang tahu Kak, cuma mukanya Dokter Harianja lagi enggak bagus".
"Ya udah deh, thanks il" Cintapun langsung membasuh tangannya lalu pergi ke ruang loker untuk melepaskan jas laboratoriumnya.
Cinta mengetuk pintu ruangan Dokter Harianja.
"Masuk!!"
__ADS_1
Cinta sedikit kaget dengan sahutan dari dalam ruangan, Cinta berdoa agar tidak ada masalah lalu ia masuk ke dalam ruangan, ia melihat ada Ibu Fatma sedang duduk.
"Permisi Dok" ucap Cinta lalu menutup pintu ruangan Dokter Harianja, ia pun segera mendekati di mana Dokter Harianja dan Ibu Fatma duduk.
"Maaf Dok, ada apa ya memanggil saya?" tanya Cinta.
Dokter Harianja memberikan 1 kertas kepada Cinta "Itu, kamu baca" ucapnya dengan nada yang masih tidak ramah.
Cinta segera mengambil kertas itu, ternyata itu adalah kertas hasil pemeriksaan. Ia melihat nama pasien yang tertulis Guntur Wijayakusuma, lalu tanggal pemeriksaan tepat hari ini, dan nama pemeriksa yaitu Cinta. Tapi ia sedikit aneh dengan paraf yang tertera di sana.
"Kamu tahu kesalahan kamu apa Cinta?" suara Dokter Harianja membuat pandangan Cinta menatap atasannya itu.
"Maaf Dok, saya kurang tahu".
"Kamu melakukan kesalahan yang sangat fatal!!!! Kenapa hasil pemeriksaan HIVnya positif?!!! Kamu mau membuat nama rumah sakit kita hancur?!!!".
Cinta terkejut dengan ucapan Dokter Harianja, ia mencoba mencerna sambil menatap lembar hasil pemeriksaan. "Sebelumnya saya minta maaf Dokter, Pasien yang bernama Guntur ini memang saya yang periksa sampelnya. Tapi untuk mencetak bukan saya".
"Bukan kamu? Itu!!! Kamu bisa baca enggak ?!!!".
"Dokter, sekali lagi saya yakin. Ini bukan tanda tangan saya, mungkin ada kesalahan di saat mencetak hasil" Cinta berusaha tenang meskipun ia juga ingin marah.
"Saya tidak ingin mendengar alasan kamu, kamu sudah memberi malu nama laboratorium kita. Kamu tahu siapa Guntur itu? Dia adiknya yang punya Rumah sakit ini! Tadi dia marah-marah sama saya, dan nama kamu sudah di laporkan ke pihak berwajib".
Cinta terdiam, ia yakin bukan ia yang mencetak hasil itu.
"Maaf Dokter, apa tidak bisa kita selesaikan secara baik-baik. Saya yakin, sepertinya ada kesalah pahaman" Ibu Fatma mencoba menjadi penengah.
"Salah paham? salah paham dari mana Ibu Fatma? Ini terbukti sangat salah!!".
Dokter Harianja menatap Cinta "Dari hari ini sampai 3 hari ke depan kamu saya skors Cinta, uang gaji kamu akan di potong dan kamu mendapat SP 1. Saya tidak ingin menggajih karyawan yang tidak becus dalam bekerja".
Cinta berusaha menahan air matanya "Saya minta maaf Dok, permisi" Cinta langsung pamit undur diri dan keluar dari ruangan Dokter Harianja.
"Cin" Dika mencoba memanggil Cinta, ia tidak sengaja lewat ruangan Dokter Harianja lalu mendengar suara Dokter Harianja yang keras sedang marah-marah.
"Gua balik" Cinta lagi tidak ingin di tanya, ia ingin pulang dan langsung menyendiri.
Semua karyawan di sana menatap Cinta dengan penuh kebingungan, namun mereka tidak ada yang berani menegur Cinta. Cinta segera mencari ojek online untuk ia pulang ke apartemen, karena ia tidak membawa kendaraan. Ingin menghubungi Abi, ia tidak mau membuat kekasihnya itu terganggu apalagi Abi hari ini ada rapat penting.
__ADS_1
Tidak lama Cinta sudah sampai di apartemen Abi, lalu ia segera masuk ke dalam kamar dan membanting tasnya. Cinta segera menelungkupkan badannya dan menangis sejadi-jadinya "Itu bukan salah gue!!!!" teriaknya sambil menangis.