Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 21 Dugaan Hamil


__ADS_3

Satu minggu


Dua minggu


Alana benar-benar menjalani peran sebagai Nyonya Besar Jansen. Tugas di rumah dan kantor tidak mampu membuat wanita ini melupakan Lewis, sakit.


Hatinya tersayat sembilu, kursi di ruang makan 14 hari ini kosong. Demi Dewi, Alana merasa kesepian. Padahal setiap pagi terlibat pertengkaran dengan Debby Jansen.


“Kau kenapa Alana? Pucat. Jangan-jangan kau hamil kakak ipar. Selamat ya rumah ini akan ramai dengan bayi, pewaris baru keluarga Jansen.” Sarkas Debby, mengulum senyum. Dia yakin Alana dan keponakannya sudah memiliki hubungan yang sangat jauh. Tidur bersama mungkin.


BRAK


“Kau hamil, Alana?” James Jansen terkejut luar biasa. Jelas itu bukan miliknya, karena dia tidak pernah menyentuh Alana sedikitpun. Ruang tidur pun terpisah, dalam kontrak tercatat jelas, bahwa tidak akan ada sentuhan fisik selayaknya hubungan suami istri.


“Wah, kakakku tersayang kaget ya? seharusnya kalian senang. Karena tujuan pasangan menikah untuk memiliki anak, benar kan? Atau janin itu bukan milik kakakku? Ah keterlaluan.” Ucap Debby tertawa puas di dalam hati.


Adik tiri James berharap semua kenyataan, dan bayi dalam rahim Alana anak pria lain. Kalau itu terjadi betapa puasnya Debby, jalannya untuk mendapatkan seluruh aset keluarga Jansen terbuka lebar.


“Mati kau Alana. Rumput liar sepertimu memang layak hidup di pinggir jalan dan mati kekeringan.” Kata Debby dalam hati.


“Itu tidak benar, mana mungkin aku hamil.” Sanggah Alana terpancing akan permainan Debby.


Alana yakin 100% dirinya belum pernah berhubungan dengan siapapun, termasuk suaminya. Tidak, dugaan Debby salah besar, Alana yakin itu.


“Ya ampun kasihan sekali bayi kalian, Ibu dan Ayahnya menolak. Lahirkan saja Alana, aku bersedia mengadopsinya.” Debby Jansen semakin memprovokasi, tentu saja membuat kakaknya marah dan menyelidiki Alana lalu bercerai.


“Anda salah Nyonya Debby.” Tegas Alana tidak terima tuduhan rendahan itu. Dia berniat sepulang kerja memeriksakan kondisi tubuh.


Memang dua minggu ini Alana tidak bisa tidur nyenyak, setiap malam disibukkan memeriksa beragam laporan bisnis, setelah itu memandangi ponsel hingga mentari pagi datang.


Alana merindukan Lewis, biasanya di akhir pekan menghabiskan waktu bersama, tapi sekarang sangat jauh, sulit dihubungi. Kecuali menyangkut pekerjaan.


Pagi dan siang banyak jadwal meeting, James mulai mengizinkan istri mudanya keluar kantor memeriksa pabrik atau distributor, ditemani Alvaro tentunya.


Jadi sudah jelas tubuh wanita itu terkuras habis tenaga dan pikirannya.

__ADS_1


“Aku sudah selesai. Antar aku ke kamar Alana!” perintah James, nada suaranya berat.


“Mari aku antar. Obatmu juga di kamar.” Alana masih berpura-pura menjadi istri yang sebenarnya.


Mendorong kursi roda perlahan, menuju kamarnya. Lalu menutup rapat pintu itu, menguncinya dari dalam. Alana yakin Tuan Besar Jansen memiliki sesuatu untuk dipertanyakan.


Di meja makan


Patricia berlari menemui Debby, beberapa menit lalu mendengar semua percakapan di ruang makan. Betapa sesak dadanya mengetahui jika Alana hamil.


Kepala Patricia langsung teringat kepada kakak sepupunya. Dia tidak rela semua terjadi, Lewis hanya boleh memiliki anak darinya.


“Mom? Itu tidak benar kan? Mana mungkin Tante mu***** itu hamil? Yang jelas bukan anak Om James, apa mungkin anaknya Lewis? Hah, gemana ini mom? Gagal rencana aku menikah dengan Lewis.” Patricia merengek, tetesan air mata tak lagi dapat terbendung.


“Haduh kamu itu berisik banget. Ya berharap aja itu bukan anaknya James atau Lewis, mungkin Alvaro, benar kan? Hubungan mereka juga sangat dekat, mom pernah melihat keduanya berpelukan.” Debby mulai menyebar kabar buruk. Dia senang bila terjadi keributan.


Awalnya Patricia sempat tidak percaya karena sepengetahuannya, hubungan Alana dan Alvaro tidak lain sebagai Bos dan Asisten.


“Mom bohong ya? Tapi aku yakin itu anaknya Kak Lewis, aku tidak membiarkan bayinya lahir. Lewis jodoh aku, bukan perempuan lain apalagi Alana, huh.” Patricia menggila, dalam otaknya yang tercemar memiliki beberapa rencana untuk membuat Alana keguguran.


James Jansen memarahi istri mudanya, untuk pertama kali membentak Alana. Isi kepala James pun sama dengan Patricia menyangka bahwa bayi itu milik Lewis dengan kata lain cucunya.


“Bisa-bisanya kamu hamil Alana? Katakan anak siapa? Tidak mungkin aku ayahnya, tahu sendiri kita terpisah kamar, aku juga menjalani vasektomi setelah Ibunya Lewis melahirkan, tidak mungkin memiliki anak lagi. Jujur Alana!” hardik James tidak sabar mendapat jawaban dari bibir kecil Alana.


“Apa itu cucuku? Anak Lewis? Kalian melakukannya?” James benar-benar tidak bisa berpikir jernih atas tingkat putra dan istrinya.


“Tidak Tuan. Nyonya Debby salah. Aku berani jamin, aku masih p3r@-w-4n. Ini karena kelelahan, Tuan yang paling tahu semua kegiatan ku.” Tolak Alana, benar apa adanya.


”Wajah pucat bukan pertanda seseorang mengandung, Tuan. Percayalah.” Alana memohon, dia takut James menghentikan investasinya di Patt Group.


“Percaya padamu? Ck, kalian berdua sudah merusak kepercayaan yang aku berikan, mana mungkin aku terjebak kedua kalinya.” James memutar kursi roda, memunggungi Alana, menuju balkon kamar.


“Pergilah, sore nanti ikut aku ke rumah sakit, periksa kondisimu. Aku harus tahu kondisinya, jika memang kau hamil cucuku, lahirkan dia! Jangan pernah melenyapkannya.” Imbuh James sembari mengibaskan tangan.


**

__ADS_1


Di tempat berbeda, seorang pria tampan sedang berdiri di ruang kerja. Penampilannya kusut, dia jarang pulang ke apartemen. Hidup dan waktunya habis dengan segudang pekerjaan. Tak ada lagi semangat hidup dalam diri.


“Mungkin besok harus bertemu dokter jiwa. Aku sakit, ya sakit karena dia.” Lewis tidak mampu menyebut nama Alana. Lidahnya kaku, kisah cintanya berawal dari kesalahan dan sekarang di akhiri menimbulkan rasa sakit berlebih.


“Apa kau juga sama merindukan ku? Mama tiri. Haha.” Tawa Lewis, sama sekali tidak pernah terpikir memiliki rasa cinta begitu dalam terhadap ibu tirinya.


Selama dua minggu ini juga Lewis tidak pernah menghubungi Ayahnya, menanyakan kabar kepada anak buah pun tidak. Lagipula selama sepuluh tahun sudah terbiasa hidup tanpa James.


Sama halnya dengan James, pria tua itu tidak ada menelepon atau mengirim pesan. Untuk apa, benarkan? Mata-mata James banyak, dari laporan mereka pun tahu bahwa Lewis baik-baik saja secara fisik.


Jiwa dan raga Lewis benar-benar diserahkan seluruhnya pada pekerjaan, kesehatannya pun tidak peduli.


“Alana?” lirihnya dalam hati menyebut satu nama yang sukses membuat hari-harinya gila.


Bagaimana cara melupakan Alana? Lewis sendiri tidak tahu. Mungkin selama jantungnya masih berdetak, dia akan tetap mencintai ibu sambungnya.


“Atau aku hanya merindukan Mommy? Dia mirip denganmu Mom.” Batin Lewis tak bisa berpaling.


“Tuan … Tuan Muda Jansen? Ada informasi dari Jakarta kalau Nyonya Besar Jansen diduga hamil.” Seorang asisten pribadi memberitahu berita penting.


Sontak dada Lewis berdenyut nyeri, rasanya sakitnya luar biasa. Wanita yang dicintainya mengandung anak James, itu artinya adik dari Lewis Jansen.


TBC


***


jadi gemana ini Alana beneran hamil apa engga? 😲


visual Alana



 Lewis Jansen


__ADS_1


__ADS_2