
Di rumah sakit
Lewis hanya menatap infus, setetes demi setetes terus diamati. Waktu selalu berjalan, dia menanti kehadiran Alana. Berharap wanita itu datang, setidaknya menjenguk. Menurut informasi yang didengar Lewis, petugas keamanan gedung telah menghubungi Alana.
Harapan besar bagi Lewis untuk menemui kekasihnya itu, tidak apa di rumah sakit. Paling penting bisa bertemu Alana. “Alana, lama sekali.”
Dalam kamar rawat cukup besar ini, Lewis Jansen seorang diri tidak ada seorang pun yang menemani. Karyawan Patt Group telah pulang, tentu saja diusir oleh Lewis Jansen.
Hingga pukul lima pagi Lewis masih setia membuka mata. Padahal kondisi tubuhnya sangat lemah dan hampir saja terserang hipotermia, akibat terlalu lama menunggu di luar ruangan.
“Dia tidak datang.” Lirih Lewis memandangi pintu kamar.
Kantung mata tampak jelas menghiasi wajah tampannya. Bisa dibilang memalukan, sekelas Lewis Jansen mengharapkan bahkan mengemis cinta dari ibu sambung.
“Apa hubungan kita benar-benar sudah berakhir Alana?” tanya Lewis masih setia melihat pintu. Seandainya Alana datang pagi ini, tidak masalah tetap di terima tapi nyatanya belum menampakkan diri di depan Lewis Jansen.
Satu jam kemudian
Lewis yang mulai mengantuk, matanya menutup beberapa kali, kendati masih mempertahankan agar tetap bangun.
KLEK
Suara pintu yang terbuka begitu jelas ditelinga Tuan Muda Jansen itu, sehingga hatinya berbunga-bunga. “Alana?” panggil Lewis.
Seketika wajah tampan bak dewa yunani tampak kecewa, karena yang datang bukan Alana melainkan Liam. Asisten pribadi yang sangat khawatir akan kondisi bosnya.
“Tuan ini saya bukan Nyonya Alana.” Liam membuang napas secara kasar.
“Telinga Anda tampaknya rusak Tuan. Semalam saya bilang kalau Nyonya Alana sudah pulang, tidak mungkin datang.” Ungkapan ini hanya Liam utarakan di hati.
Liam berjalan mendekat dan menyimpan bubur ayam kesukaan Lewis Jansen. “Tuan makanlah. Dari semalam Tuan belum makan. Seandainya saya tahu pasti tidak akan meninggal Tuan Muda.” Tukas Liam, membantu Lewis merubah posisi menjadi duduk.
“Sudahlah Liam, aku yakin Alana pasti datang ke rumah sakit. Aku berani bertaruh. Tepat matahari terang nanti dia datang, bagaimana?” kata Lewis sangat percaya diri, sembari memasukan satu sendok penuh bubur ayam ke dalam mulutnya.
“Huh. Terserah Anda. Saya hanya mengingatkan. Menurut suster, jika infus sudah habis Anda boleh pulang. Kemungkinan satu jam lagi.” Sahut Liam memberitahu kondisi Bosnya.
“Ok, aku akan pulang setelah infus habis. Tapi dalam satu jam ini Alana akan menemui ku.” Lewis Jansen mencoba menenangkan diri sendiri.
**
__ADS_1
Pukul enam pagi
Perawat melepas infus dari punggung tangan sang pemilik rumah sakit. Entah kenapa berat rasanya kaki Lewis Jansen melangkah keluar. Hatinya tertinggal di rumah sakit.
“Mari Tuan.” Liam membantu Bosnya merapikan barang-barang.
“Apa sekarang aku tidak ada artinya lagi? Hah. Cinta memang rumit Liam! Sebaiknya kau jangan jatuh cinta, bahaya! Bisa membuatmu terluka seorang diri. Aku kasihan pada diriku sendiri.” Lewis Jansen tertawa sambil berjalan, dipapah asisten pribadinya.
“Iya Tuan saya akan menjaga diri dan hidup di sisi Tuan menjadi asisten yang baik dan setia.” Imbuh Liam.
Bertepatan dengan kedua kaki Lewis melangkah keluar gedung rumah sakit. Pria ini sempat melirik kiri dan kanan, namun kembali berjalan memasuki mobil.
Di saat inilah kendaraan roda empat Alvaro berhenti di depan IGD. Setelah mendapat telepon nomor tak dikenal, Alvaro mengunjungi lokasi. Sungguh di luar dugaan mendapati Bosnya dalam keadaan terluka.
Dia pun sqegera membawa Alana ke rumah sakit.
“Pelan-pelan Al.” Alvaro membantu Alana keluar dari mobil, membaringkannya di atas brankar.
“Terima kasih Varo, kamu memang sahabat yang terbaik.” Alana tersenyum lemah.
“Aku tulus membantumu Alana. Kamu juga sering membantuku.” Kata Alvaro menatap prihatin.
Di IGD
Alana menceritakan semua kejadian kepada Alvaro, mulai dari penyekapan di area gedung Patt Group dan bukti menyakitkan dari Debby Jansen.
“Ini, kamu lihat Varo. Rasanya tidak mungkin. Aku menolak memercayainya. Tapi …” Alana memejamkan mata sejenak, mengatur napas demi menghilangkan kegundahan dalam hati.
Perlahan bukti itu dibuka oleh Alvaro. “Jadi semua ini karena Tuan Muda Jansen? Pantas saja aku kesulitan mendapatkan jejak pelaku yang tega membuat Patt Group hancur.” Batin Alvaro.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan Al? aku menunggu perintah saja.” Alvaro tidak mau gegabah, bila salah melangkah bisa jadi Alana semakin terluka.
Sebelum menjawab, Alana menghela napas cukup panjang, menatap langit-langit IGD. “Entahlah Varo. Aku sendiri bingung harus apa. Kamu, bisa bantu aku untuk memutuskan hubungan dengan Keluarga Jansen? Bantu aku menjual rumah juga.”
“Apa menjual rumah? Untuk apa Al? kamu mau tinggal di mana?” Alvaro menolak mentah-mentah keinginan gila sahabatnya.
“Aku perlu membayar hutang perusahaan. Walaupun jumlah lebih sedikit, setidaknya Patt Group tidak hidup di bawah bayang-bayang JSN. Aku ingin mandiri.” Tukas Alana.
“Sisanya bisa aku cicil dengan membayar bulanan, benarkan?” Alana yang sudah terlanjur sakit hati tak ingin lagi kembali kepada keluarga Jansen.
__ADS_1
Alvaro mengangguk dan tersenyum. “Aku bantu menghubungi agen properti.”
**
Beberapa hari setelahnya, Alana yang selalu sibuk menyempatkan waktu bertemu Patricia di cafe. Perempuan muda itu terlihat hancur dan tidak semangat menjalani hari.
“Apa yang Tante Alana inginkan? Kabar Kak Lewis atau yang lain?” suara Patricia terdengar lesu.
“Patricia. Kamu ingin tahu siapa ayah dari anakmu, benar kan?” Alana meraih kedua tangan Patricia di atas meja. “Dia Pandu, dulu sopir di kantor JSN tapi sekarang dipecat. Apa kamu bisa menerimanya?”
Patricia yang sudah melupakan malam sial itu kembali mengingat segalanya, sontak saja dia menghempas tangan Alana, menggelengkan kepala.
“Aku tidak mau menikahi seorang sopir! Anak ini tidak akan lahir Tante. Dia bukan anakku.” Patricia mulai histeris, tangisnya pecah.
“Aku bukan sopir lagi.” Tiba-tiba saja Pandu datang dan turut bergabung bersama dua wanita cantik.
“Aku melamar Nona, mohon diterima. Demi anak kita.” Tanpa basa basi Pandu menyematkan cincin emas di jari manis Patricia.
Tamparan keras mendarat di pipi Pandu.
PLAK
“Kamu jangan kurang ajar Pandu, aku tidak cocok memakai cincin murahan seperti ini. Sebaiknya kamu bawa pulang atau buang saja cincin itu.” Patricia melepas paksa, dia muak melihat wajah pria yang sudah menghamilinya.
Wanita hamil ini berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.
Namun karena terburu-buru, Patricia Jansen tersandung kaki meja, dia terjatuh dengan kedua lutut membentur keras lantai.
“Aw … sakit, akh sakit.” Patricia memegang perut yang mendadak kram seakan di tendang kuat oleh seseorang.
“Patricia?” Pekik Pandu.
“Pandu, cepat bawa Patricia ke rumah sakit!” Alana menyerahkan kunci mobil.
“Patricia bertahanlah. Aku mohon, demi anak kita.” Pandu menggendong tubuh ibu dari anaknya, berlari menuju mobil.
TBC
***
__ADS_1
semoga selamat ya bayinya 😭