Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 38 Bukan Lewis


__ADS_3

“Di mana Mommy?” tanya Patricia kepada kepala pelayan yang tengah mengawasi kegiatan para pelayan.


Pria tua itu mengerutkan kening sebab Patricia pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Penampilannya kacau balau, belum lagi bibirnya bengkak, tentu saja ulah Pandu.


“Nyonya Debby di kamar, saya bantu panggilkan.” Kepala Pelayan segera beranjak dari tempat, namun Patricia lebih dulu melangkah, mendahului. Masa bodoh akan rasa ngilu di pangkal paha. Saat ini, ingin segera melampiaskan emosi.


BRAK


“MOM!” teriak Patricia memekakkan telinga, tidak lama menangis.


Sontak saja Debby yang berada dalam kamar terkejut luar biasa, sebab putrinya tampak rapuh. Seharusnya gadis ini ah salah, wanita ini bersemangat karena melewati malam indah bersama pria idamannya.


“Kamu mau bilang terima kasih? Santai saja sayang.” Debby mendekati Patricia yang terjatuh lemah di atas karpet.


Ditatap wajah manis anak tunggalnya, “Wah Lewis liar sekali, lihat bibirmu sampai bengkak seperti ini. Apa rasanya sakit sayang? Tidak apa itu normal untuk pertama kali. Sekarang jaga kesehatan, kemungkinan besar bulan depan kamu hamil. Ah keturunan Jansen ada di tangan kita.” Girang Debby, pandangannya terlalu jauh.


Mendengar kata hamil, Patricia ternganga. Tidak … tidak mungkin, sangat menjijikkan sekali, jika dia mengandung anak dari sopir pria yang dicintainya.


“Mom, aku tidak tidur dengan Kak Lewis, tapi … tapi pria br3n9s-3k itu. Dia menyentuhku, melakukannya berulang kali. Badan dan hatiku sakit Mom.” Jerit tangis Patricia begitu pilu mengingat kejadian semalam.


Matanya pun mendelik tajam kepada Debby, “Ini semua salah Mommy, kalau saja aku tidak mengikuti semua saran Mom pasti tidak seperti ini. Lewis tahu Mom, dia tidak bodoh.” Patricia semakin histeris dan tak terkendali.


Debby memegang dada, tiba-tiba sakit mendengar semua pernyataan dari putri tunggalnya. Ada apa ini? Tidak mungkin terkena serangan jantung kan?


“Katakan siapa pria itu? Ku bunuh dia. Berani sekali menyentuhmu. Siapa?” Debby mengguncang tubuh anaknya yang masih sakit dan lemas. Wanita ini tidak terima kesucian Patricia direnggut oleh orang yang salah.


“Dia … dia …” Patricia tidak kuasa mengatakannya, rasanya sakit, pedih teramat sangat.


“Siapa? Lewis membayar pria hidung belang seperti yang pernah dia lakukan terhadap Alana? Kurang ajar.” Desis Debby, namun Patricia menggeleng lemah kemudian tubuhnya pingsan akibat kelelahan.


Debby yang panik pun memanggil dokter keluarga.

__ADS_1


Tidak berselang lama, dokter datang ke Kediaman Jansen. Di bawah, berpapasan dengan Pandu yang penasaran. Sebab Bosnya tidak ada di rumah, hanya Debby Jansen dan Patricia, mengingat nama itu secepat kilat dia mengekor di belakang dokter.


Pandu mengintip serta menguping dari balik pintu dia tidak menyangka, perbuatan kejinya semalam membuat Nona Muda sakit.


“Maafkan saya , Nona. Semua di luar kendali. Tapi saya akan bertanggung jawab.” Batin Pandu, sebagai pria sejati dia harus berani menanggung kesalahan yang telah diperbuat.


 


**


Kediaman Pattinson


Hari kedua berkabung, tamu masih banyak berdatangan. Memberi semangat dan perhatian kepada Alana yang saat ini sangat rapuh seperti kaca tipis.


Sementara James telah kembali ke rumah sakit. Kondisi kesehatannya mendadak menurun, pukul lima pagi diantar ke rumah sakit oleh para pengawal.


Sekarang Lewis setia berdiri di sisi Alana, menemani wanitanya. Tak sekalipun berpaling dari wanita cantik ini. Padahal banyak kolega yang berusaha mencuri kesempatan, untuk kenal lebih dalam demi meraup keuntungan dari pewaris JSN Group.


“Sepertinya kamu lelah Alana, tidur lah. Aku di sini, kamu tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Kamu harus semangat menjalani hidup.” Tutur Lewis, sangat kasihan melihat wajah Alana pucat seakan kekurangan darah.


“Ya Lew, terima kasih. Rasanya hidupku hampa, tidak ada lagi yang aku perjuangkan. Aku ingin Papa sembuh dan kembali ke rumah ini. Aku membayar mahal demi menebus rumah masa kecil ku dari bank. Aku menjual diriku sendiri kepada pria tua.” Alana menelan ludah mengatakan kalimat terakhir dalam hati.


Kepalanya menyandar di bahu Lewis, memberi kenyamanan walau tidak bisa mengembalikan keadaan.


Beberapa orang salah fokus kepada sikap Alana yang begitu dekat kepada Lewis. Berpikir bahwa desas desus hubungan keduanya memang benar.


“Ck perlu ku bungkam semua mulut mereka. Aku antar kamu ke kamar Alana.” Lewis menghiraukan dirinya menjadi buah bibir lokal di rumah ini. Tetap melangkah bersama Alana.


Di kamar, Lewis menggenggam tangan Alana menyalurkan kekuatan dan semangat.


“Al aku tahu rasanya berat, aku pun sama pernah berada di posisimu. Waktu itu, aku masih remaja, tidak punya siapa-siapa lagi. Aku anak tunggal, tidak ada lagi penyemangat hidup.” Lewis berbagi pengalamannya kehilangan Nyonya Jansen.

__ADS_1


“Umm … apa yang kamu lakukan waktu itu?” kepala Alana menengadah memperhatikan wajah tampan Lewis, membelai rambut halus di rahang tegas.


“Aku? Tentu saja menangis. Mommy adalah harta yang paling berharga. Setelah itu aku hanya merasa sedih dan tidak ada artinya lagi hidup. James, maksudku suamimu sibuk bersama para wanitanya. Bahkan dia baru menyadari aku pergi dari rumah setelah beberapa hari.” Lewis mengingat kisah pedihnya sepuluh tahun yang lalu.


Titik terendah dalam menjalani hidup, sekarang Lewis memiliki semangat baru tapi sayang tidak mudah meraihnya sebab Alana milik James, bukan Lewis.


“Di sana aku mendirikan usaha kecil, bergabung dengan banyak komunitas lalu melanjutkan studi. Aku bisa hidup dengan kedua kakiku sendiri tanpa bantuan James, tak disangka usahaku berkembang pesat dalam waktu tiga tahun. Kemudian aku mengenal Liam, ya dia yang membantu mendirikan perusahaan hingga sebesar ini.” Lanjut Lewis, seolah ingin memberi tahu Alana, bahwa wanita itu masih memiliki kedua adik, yang menjadi sumber penyemangat, serta sumber cahaya di kemudian hari.


“Tapi aku kembali dan bertemu wanita cantik yang berhasil memorakporandakan hatiku, Alana Pattinson, aku Lewis Jansen sangat mencintaimu, aku berjanji hanya kamu.” Tukas Lewis menciumi punggung tangan Alana, membelai rambut panjang penuh kasih sayang hingga pemiliknya terlelap tidur.


Lewis Jansen keluar kamar, berdiri di balkon, dia bertanya kepada Liam yang bertugas mengawasi rumah. Dalam hati Lewis merasa kasihan tapi puas, ya Debby Jansen, Tantenya menelan kenyataan pahit.


Rencananya itu gagal dan berimbas kepada Patricia yang harus mengalami semua kepedihan.


“Ini belum seberapa Tante. Masih ada pembalasan lain, apalagi kau berani menyentuh wanitaku. Aku tidak terima.” Geram Lewis, buku-buku jarinya teramat erat memegang railing.


“Dia tidak akan bisa menyingkirkan Lewis Jansen, karena aku berbeda dari yang dulu. Terima kasih Alana sudah membuatku kembali ke rumah.” Lewis menatap kekasihnya yang begitu menentramkan jiwa.


Tentu, pernikahan James memiliki sisi positif dan negatif, seandainya tidak menikahi Alana mungkin selamanya Lewis tak akan pernah bersedia pulang.


TBC


***


Alana



Lewis


__ADS_1


__ADS_2