Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 63 Mengamati Dari Jauh


__ADS_3

Hari terus berlalu berganti minggu dan bulan, semakin cepat tidak menunggu siapapun yang lamban mengikutinya. Setelah sidang ke tiga Debby Jansen, hakim memberi putusan bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada Debby Jansen selama 15 tahun kurungan, karena banyaknya kejahatan yang dilakukan.


Beberapa orang yang menjadi rekanan Debby pun menerima hukuman serupa hanya lebih ringan, beberapa tahun.


Patricia rutin mengunjungi Ibunya, satu minggu sekali pasti dia datang. Awalnya Debby menolak, tapi seiring berjalanya waktu. Hatinya luluh sekaligus rindu menatap wajah cantik putrinya.


Sekarang kandungan Patricia semakin besar, selalu bepergian seorang diri ditemani sopir yang mendapat tugas khusus dari Lewis menjaga sepupunya.


“Mom?” wajah Patricia sumringah melihat Ibu kandungnya berjalan masuk ke ruang pengunjung.


“Kamu semakin sehat dan segar. Kandunganmu sehat?” tanya Debby melihat perut Patricia.


“Iya Mom, aku sehat. Kak Lewis sangat perhatian dan merawatku dengan baik.” Patricia tersenyum simpul, ingin sekali memeluk sang Ibu tetapi tidak bisa. Keduanya dibatasi oleh partisi di tengah-tengah.


“Ck, Lewis? Tidak kah kamu membenci kakak sepupu itu? Ini semua karena ulahnya. Kamu harus memusuhi Lewis, dia sudah membuat Mommy seperti ini.” Debby Jansen masih menebar kebencian mendalam.


Patricia menggeleng pelan, tersenyum manis mendengar penuturan Debby Jansen. “Mom? Aku lelah. Terus membenci seseorang yang tidak memiliki kesalahan.”


“Aku tahu, karena Kak Lewis yang ingin membalas dendam, aku dan Pandu menjadi korban. Seandainya hari itu, semua saran Mommy tidak aku ikuti pasti kejadian malang sampai harus hamil di luar nikah tidak akan pernah terjadi. Berhenti lah membenci orang lain Mom!” tukas Patricia.

__ADS_1


“Apa yang Lewis lakukan? Memberi makan kamu semua kebaikan, begitu? Kamu jangan menilai orang dari kulit luarnya. Dia adalah penjahat sama seperti ku.” Kesal Debby, saat ini darah dagingnya pun bekerja sama dengan Lewis, kompak memusuhi Debby.


Merasa pertemuan ini hanya membahas masa lalu dan rasa benci, Patricia mengakhiri kunjungannya. Dia juga memiliki  janji temu bersama Alana.


“Mommy, aku permisi. Hari ini ada jadwal pemeriksaan kandungan. Aku takut dokternya pulang lebih awal. Maaf Mom.” Patricia segera keluar dari lapas, menyusut air mata yang menetes beberapa kali.


Senyumnya terbit di bibir melihat sosok Alana sudah menunggu di area parkir. Dua bulan ini Patricia selalu ditemani Alana, baik itu ke rumah sakit atau membuang waktu jenuh. Keduanya sangat akrab, berteman dekat.


“Bagaimana kabar Tante Debby?” tanya Alana membantu Patricia menuruni anak tanggal.


“Oh, Mommy baik, sehat. Tubuhnya lebih berisi seperti aku.” Gurau Patricia.


“Oh kamu sangat kuat ya, baiklah kita memang harus menjadi wanita yang kuat, setuju kan?” tawa Alana. Seandainya saja bakal janinnya bisa selamat, pasti usia kandungan Alana sama seperti Patricia.


“Mama merindukanmu sayang.” Ucap Alana dalam hati. Menatap cerahnya langit biru hari ini.


“Umm … Tante Alana? Apa tidak merindukan Kak Lewis sama sekali?” tanya Patria tanpa basa-basi. Tentu saja kedekatan dua wanita ini memang dimanfaatkan oleh Lewis, untuk mengetahui kabar Alana.


Lewis Jansen seperti mahkluk halus, selalu menguntit ke mana pun Alana pergi. Dengan adanya Patricia, Lewis percaya semua lelaki yang mendekati Alana akan mundur karena Patricia beberapa kali tidak menyetujui pria yang melamar Alana.

__ADS_1


Ibu hamil besar itu pun menjadi jembatan hubungan Lewis dan Alana. Sama seperti Tuan Muda Jansen, Alana dengan mudah mengetahui kabar pria yang pernah dia cintai. Namun, tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk kembali ke pelukan Lewis.


“Oh … tidak. Seharusnya kamu bertanya, apa aku merindukan mendiang Tuan James? Beliau kan suamiku. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan Lewis.” Jawab Alana berbohong.


Dalam hati sangat ingin menemui pria itu, tapi kesalahan serta kekejaman Lewis di masa lalu menjadi penghalang besar.


Perlahan tapi pasti, Alana berusaha mengikis rasa cintanya untuk Lewis. Menepis semua bayang diri lelaki itu.


“Oh ya sudah jelas kan, Tante pasti merindukan mendiang Paman James, aku juga sama. Paman seperti ayah kandungku sendiri.” Jawab Patricia, kemudian merangkul lengan Alana.


Keduanya memasuki mobil, dan melaju perlahan menuju rumah sakit.


Tanpa diketahui siapapun, dua orang pria mengamati dari jauh. Lewis duduk di depan mini market, menyesap kopi hitam. Hanya ini cara satu-satunya melepas rindu, menatap pujaan hati dari jarak aman.


Sedangkan Pandu, berdiri di balik pohon, di pinggir jalan. Memandang sendu Patricia serta anak dalam kandungan. Dua bulan ini Pandu tidak lagi mengantar Patricia check up, karena selalu mendapat penolakan. Lebih baik mengamati dari jauh.


“Nona, saya harap Anda bisa berubah. Tidak keras kepala lagi. Saya sangat menyayangi Anda dan anak kita.” Lirih Pandu dalam hati.


Selama menghilang dari pandangan Patricia, Pandu berusaha mengubah diri menjadi lebih baik, berupa materi dan mental. Dia pun kembali bekerja bersama Lewis, sebagai karyawan di salah satu anak perusahaan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2