
Pasca penangkapan Debby Jansen satu hari yang lalu. Keadaan keuangan JSN sedikit goyah, karena berita besar itu sampai ke telinga investor.
JSN pun kehilangan Direktur Operasional terbaik mereka, semua pekerjaan yang terkait dengan produksi terhenti selama beberapa jam, mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.
Namun Lewis Jansen bisa mengatasi dengan mudah, walaupun perlu mengikis keuntungan yang telah dibukukan pada periode sebelumnya.
“Argh … masalah ini membuat waktuku terbuang. Liam katakan apa yang dilakukan Alana sekarang? Apa surat penangkapan Debby Jansen sudah sampai ke tangannya?”
“Sudah Tuan. Pasti Alavaro menyerahkan surat ke tangan Nyonya Alana.” Jawab Liam percaya diri. Seorang resepsionis memberitahu bahwa amplop yang di titipkan telah disampaikan kepada asisten pribadi Presdir.
“Lalu kenapa Alana belum datang menemui ku? Aku sangat ingin berterima kasih Liam.” Lewis menyandarkan kepala. Kemudian berdiri dan keluar ruangan merasa perlu menemukan jawaban pasti, dari kisah cintanya yang tanpa status.
“Tuan tunggu. Anda tidak boleh meninggalkan kantor. Rapat dimulai 20 menit lagi, Tuan.” Liam selalu saja kesulitan ketika virus cinta sudah hinggap di bosnya.
“Masih ada waktu. Kau saja yang tangani. Aku ada misi penting.” Teriak Lewis dari dalam lift tepat sebelum pintunya tertutup.
Lewis bersiul di dalam lift, dia yakin bisa mendapatkan Alana kembali. Sekarang Debby Jansen sudah menerima hukuman, tidak ada yang akan mengganggu hubungan mereka.
Kendaraan roda empat milik Lewis melaju cukup cepat menyambangi gedung perkantoran Patt Group. Saking terburu-buru Lewis tidak peduli melewati batas kecepatan maksimal.
“Tunggu aku Alana.” Gumamnya.
Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, Lewis tiba di pelataran parkir. Segera turun memasuki gedung. Semua orang menghormatinya, mereka tahu siapa pria tampan yang sedang berjalan itu.
‘Selamat siang Tuan Muda Jansen.’
‘Ada yang bisa kami bantu Tuan?’
“Alana. Ah maksudku Presdir ada di ruangannya? Katakan Lewis Jansen ingin bertemu, dan sampaikan juga aku tidak suka menunggu terlalu lama. Paham?” tegas Lewis kepada salah satu pegawai Alana.
‘B-baik Tuan.’
Namun kedatangan Lewis sama sekali tidak disambut baik oleh Alana, bahkan kehadirannya ditolak secara langsung.
__ADS_1
‘Tuan maaf. Bu Alana sedang rapat di luar. Kemungkinan tidak akan kembali sampai sore. Lebih baik Anda membuat janji temu lebih dulu.’
Lewis tertawa, dia bukanlah orang bodoh. Dapat dengan mudah mengetahui bahwa Alana malas bertemu dengannya. Menolak.
"Kamu masih marah Alana?" gumam Lewis.
Tanpa bertele-tele, Lewis Jansen berjalan menuju lift. Tidak ada seorang pun berani mencegah atau berteriak kepadanya.
Dengan santai Lewis memasuki ruangan Alana, setelah mengetuk pintu dan mendapat izin. Hatinya bergetar, rasa rindu menyelimuti dada, sangat ingin memeluk tubuh mungil ibu sambungnya.
“Alana aku merindukanmu.” Lewis tersenyum melihat pot bunga mawar merah tersimpan di sisi meja kerja Presdir.
Menemani Alana setiap harinya, seandainya bisa, dia ingin berubah menjadi pot.
“Ada perlu apa Tuan Muda Jansen datang ke perusahaan kecil kami? Apa menyelesaikan masalah lalu yang tidak bisa kau tuntaskan?” sarkas Alana, kini rasa cintanya berganti kebencian.
Melihat wajah Lewis, Alana teringat akan darah dan keringat yang dikeluarkan Tuan Pattinson mendirikan Patt Group. Namun dengan mudah orang asing merusak, menjatuhkan bahkan nasib ratusan orang menjadi taruhan. Tidak kah Lewis berpikir sejauh itu?
Mendengar pernyataan kekasih hati membuat kening Lewis mengerut, isi kepalanya berusaha menebak apa yang ada di dalam otak wanitanya. “Apa maksudmu Alana?”
“Kamu pernah bilang mendirikan perusahaan sendiri?” tanya Alana mengawali dengan sebuah pertanyaan yang akan dia lanjutkan terus menerus.
“Ya. Supplier kaleng dan kaca ke pabrik minuman, kenapa?” hati Lewis menghangat mendengar pujaan hati masih mengingatnya.
“Kau tahu, Patt Group juga sebagai salah satu supplier terbesar ke sejumlah pabrik. Penjualan produk kami satu tahun yang lalu menurun drastis dan ….” Alana menarik napas sebelum mengungkap yang sebenarnya.
“Perusahaan yang didirikan Ayahku mengalami rugi besar. Sampai aset pribadi kami dijual untuk membayar gaji karyawan. Rumah lamaku, kenangan masa kecil disita oleh Bank. Padahal rumah itu bisa lunas dalam waktu dua bulan lagi.” Alana menelan ludah.
Wanita ini duduk di sofa, tidak lupa mempersilakan tamunya untuk bergabung. “Ah ya maaf, seharusnya aku memberikan kamu minum. Pasti haus, karena perjalanan cukup jauh.”
Sebagai tuan rumah yang baik, Alana segera menghubungi pantry. Memerintah bagian service membawa minum ke ruangannya.
“Aku tidak tahu kenapa perusahaan Papa bisa bangkrut, padahal kami tidak pernah menunggak membayar apapun. Kami hanya memiliki satu hutang jangka panjang ke bank.” Helaan napas kasar dapat ditangkap oleh telinga Lewis.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti Alana.” Tanggapan Lewis ini sangat memuakkan bagi Alana. Bagaimana bisa seorang Lewis Jansen tidak mengerti pembahasan ini?
Hahaha
Alana tertawa garing, semakin tidak masuk akal. “Lewis Jansen lihat dan dengarkan dengan baik. Jujurlah.” Memutar video salah satu bukti kekejaman Lewis.
Sontak Lewis terbelalak, kejadian satu tahun yang lalu ini masih terngiang di kepala. Ketika anak buahnya mengatakan berhasil meruntuhkan rival bisnis, serta mengambil asetnya hingga terpuruk dan tak bisa bangun lagi.
“Apa perusahaan itu Patt Group, Alana?” tanya Lewis, sungguh saat ini dia ingn mendengar jawaban ‘bukan’ atau ‘salah’.
“Ya perusahaan yang kau jatuhkan, merampas hampir semua asetnya. Itu Patt Group, milik keluargaku. Aku tidak menyangka bahwa Lewis Jansen seorang pria sekaligus pimpinan yang kejam. Hanya karena tak ingin ada pesaing, kau memperlakukan kami seperti binatang.” Pungkas Alana, bahkan air matanya menetes tak tahu malu.
“Alana … Alana, aku bisa menjelaskan. Aku … maaf Alana, aku tidak tahu kalau …” bagai tersambar petir, Lewis tidak mengira jika dunia ini sangat sempit.
Sekarang paru-parunya kesulitan bernapas, Lewis Jansen tidak lagi bisa mengelak kepada Alana. Bukti nyata berada di tangan ibu sambungnya.
“Lewis, kau ini memang mahkluk yang tidak memiliki hati. Kau tidak memikirkan pegawai kami yang mencari uang di sini demi keluarga. Kau hanya peduli kepada diri sendiri. Aku menyesal.” Tukas Alana, tangannya terulur mengusir pria ini dari dalam ruangan.
“Silakan pergi, dan jangan kembali lagi. JSN dan Patt Group tidak ada hubungan apapun. Aku akan membayar lunas semua hutang perusahaan. Kau tidak perlu takut.” Alana tidak akan goyah, sekali ini tetap pada pendiriannya.
“Al? Alana aku mohon dengarkan aku. Aku melakukan ini untuk membuktikan diri bahwa aku mampu berdiri di atas kedua kakiku tanpa bantuan James.” Lewis kebingungan, entah cara apa yang harus digunakan untuk merayu kekasih hati.
Dia menyesal telah bertindak sewenang-wenang, tanpa berpikir beberapa langkah di depan.
Lewis memang selalu berambisi menjadi yang utama dan terdepan. “Aku akan mengembalikan semua aset Patt Group, saham, gedung, pabrik dan pelanggan. Semuanya aku serahkan Alana.”
“Alana, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku mohon maafkan kesalahan di masa lalu Alana, demi cinta kita, masa depan kita.” Lewis bersikukuh tak kuasa menerima penolakan.
“Maaf. Aku tidak bisa kembali bersama mu. Sebaiknya mulai hari ini kita menjalani kehidupan masing-masing. Terima kasih atas waktu yang pernah kamu berikan.” Alana membuka pintu lebar, mengusir mantan kekasihnya.
Keduanya saling bertatap diambang pintu. Dua pasang mata yang kini memiliki pandangan berbeda.
TBC
__ADS_1
***
duh keras kepala ya