Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 67 Keras Kepala


__ADS_3

Pagi hari, Pandu setia mendampingi ibu dari bayinya. Dia masih membuka lebar tawaran menikah, hidup bersama bertiga dalam lingkaran kasih sayang.


Jujur saja perasaan sayang terhadap Patricia sudah ada sebelum Nona Muda itu mengandung anaknya, tapi karena status mereka yang berbeda menyebabkan nyali Pandu menciut dan mengubur perasaan.


Sekarang dengan hadirnya buah hati, Pandu harap Patricia dapat menerimanya secara lapang dada. Apalagi menunjukkan perhatian dan kepedulian , layaknya seorang suami yang mencintainya.


“Makan lagi yang banyak!” suara Pandu begitu lembut menyapu pendengaran Patricia Jansen.


Sementara yang diajak bicara hanya memandangi nampan berisi nasi dan aneka sayur serta lauknya. Makanan rumah sakit tidak sesuai di lidah Patricia, lebih baik dirinya puasa. Apalagi tertulis kertas memo, memberi semangat agar nafsu makan demi menyalurkan nutrisi kepada bayinya.


“Aku kenyang. Kamu aja yang makan. Terima kasih.” Ketus Patricia, dia tidak nyaman berada sedekat ini dengan Pandu. Rasanya ingin memutus kontak sekarang juga. Menjaga jarak sejauh mungkin.


“Kamu tidak penasaran anak kita laki-laki atau perempuan?” mencoba lagi berkomunikasi, meruntuhkan kokohnya dinding es penghalang. Demi siapa lagi kalau bukan bayi mungil yang tengah berjuang ditemani banyak alat.


Patricia berjengit, ekor matanya melirik tajam. Berdecak dalam hati, “Bisa-bisanya dia mengatakan anak kita dengan lancar tanpa hambatan. Setelah semalam menghabiskan waktu bersama wanita lain. Ck ayah macam apa kamu itu Pandu.”


“Dia anak kamu.” Jawab Patricia begitu lugas tidak memikirkan perasaan pria di sisinya.


Helaan napas terdengar berat dari bibir Pandu, dia menelan paksa saliva. Anaknya masih tidak diakui oleh ibu kandungnya sendiri.


Sakit, pedih, nyeri, ngilu, luka tak berdarah yang Pandu rasakan. Sebenci itukah Patricia kepadanya? Tidak bisakah menerima mahkluk kecil yang sudah tumbuh selama delapan bulan dalam rahimnya?


“Sebesar apapun kamu menolak, dia tetap anak kita. Darahku dan kamu mengalir di sana. Dia laki-laki, hidung, bibir dan warna bola mata mirip kamu, Ibunya. Tidak ada satupun yang sama denganku.” Pandu menerangkan ciri fisik putra kecilnya.


“Oh” tanggapan Patricia tidak menghiraukan apapun. Mencoba menutup telinga, demi mejaga diri. Takut terjerumus dalam perasaan yang tak pasti hingga melukai diri.


“Aku suapi lagi. Suster bilang, jadwal menyusui 30 menit dari sekarang, masih ada waktu.” Paksa Pandu, memperjuangkan hak anaknya.


Inilah alasan tidak memiliki hubungan atau menaruh hati terhadap wanita berkasta sosial tinggi. Kebanyakan dari mereka pasti menganggap rendah pria miskin sepertinya. Pandu hanyalah orang biasa, tak memiliki rumah mewah apalagi istana.

__ADS_1


Untuk hidup saja harus berjuang, ditambah biaya pengobatan adik yang melambung tinggi. Tapi berkat bantuan Lewis Jansen, sangat terbantu, adiknya mendapat asuransi kesehatan meskipun masih terdapat limit batas penggunaan.


Dirinya kerja kantoran bukan sopir yang dipandang sebelah mata lagi oleh sebagian orang, tetapi Patricia masih menganggapnya pria tak berguna. Mendekati Nona Muda Jansen hanya untuk mendapat harta berlimpah ruah.


Tangan Pandu memegang erat sendok, tepat di depan bibir Patricia. Namun wanita itu menghindar, membuang muka ke arah berlawanan.


“Aku kenyang.” Kata tegas Patricia, meneguk seperempat botol air, kemudian merebahkan diri. Memunggungi Pandu, berusaha sekeras mungkin menetapkan tujuannya.


“Jangan goyah Patricia.” Batinnya menyeru.


“Ya sudah kalau kamu menolak, aku mau lihat anak kita dulu. Sebentar lagi Nyonya Alana datang, semoga beliau bisa merubah keputusan kamu yang keras kepala.” Ujar Pandu, berdiri membelakangi Patricia Jansen.


Benar saja, Alana memasuki ruangan. Tersenyum lebar dan ceria, membawa buah-buahan dan hadiah untuk bayi laki-laki. “Patricia kamu sudah bangun. Maaf semalam Tante pulang, kebijakan rumah sakit, penunggu pasien tidak boleh lebih dari dua orang.”


Kening Patricia mengerut berpikir. Membalik tubuh dan menatap Alana. “Dua orang?”


“Sekarang di mana Kak Lewis?” tanya Patricia mengedarkan pandangan ke sudut kamar VVIP.


Alana hanya menggerakkan bahu sebagai jawaban, tidak tahu ke mana perginya mantan kekasih yang tetap dicintai.


Keduanya terlibat percakapan serius terkait langkah yang akan Patricia ambil sepulang dari rumah sakit. Alana perlahan merayu, membujuk agar Patricia tak meninggalkan bayinya.


Yakin sekali bahwa dalam lubuk hati seorang ibu pasti menyayangi anaknya. Bibir Alana tersenyum simpul karena Patricia goyah.


Ibu muda itu termangu, pandangannya lurus ke depan, membayangkan diri merawat buah hati. Ditambah penjelasan Pandu, kalau bayinya dalam perawatan intensif. Memerlukan sentuhan, dukungan dan kasih sayang Patricia.


“Tapi … aku tidak mau hidup bersama Pandu.” Lirihnya dalam hati.


Namun Patricia yang masih muda, bersikukuh pada pendirian ego. Dia menggelengkan kepala.

__ADS_1


Perawat masuk ke kamar, membawa kursi roda untuk membantu Patricia menyusui bayinya. Lagi-lagi hanya ada penolakan, ia takut benar-benar tidak bisa pergi setelah melihat wajah darah dagingnya.


“Kenapa? Dia anak kamu. Memiliki hak menerima kasih sayang, dia tidak salah apapun. Jangan sampai menyesal setelah kehilangan. Menjadi seorang ibu adalah kebanggan besar bagi wanita.” Imbuh Alana duduk di tepi ranjang.


“A-aku … Tante__” Patricia menatap Alana, mengharapkan satu pelukan.


Ya Alana mengerti kemudian mendekap erat keponakan yang sedang galau memikirkan masa depannya.


Patricia menyusut ingus kemudian berkata sangat lirih, “Pandu, dia …. Sudah memiliki calon istri, aku tidak mungkin merusaknya Tante. Mungkin bisa menerima anak yang aku lahirkan, dia sudah janji tapi bagaimana dengan pacarnya?”


Sungguh menyesal sekali pernah menolak tawaran Pandu untuk menikah, seharusnya di awal kehamilan menerima lamaran pria itu. Seharusnya tidak menilik profesinya karena seorang sopir. Sekarang Patricia menyesal mengabaikan ayah dari anaknya.


Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik mundur daripada maju tetapi melukai wanita lain, sungguh ia tak mau jadi orang ketiga dalam hubungan yang bahagia. Cukup sekali dirinya mengharapkan, bahkan berencana merusak kisah kasih sepasang manusia saling mencintai.


“Kamu tahu dari mana? Tante pikir Pandu masih singel. Tante tidak pernah melihatnya bersama wanita lain, dia selalu sibuk dan tenggelam bersama pekerjaan. Kamu jangan percaya gosip, tanpa ada bukti.” Tegas Alana meyakinkan.


Patricia mendongak, lamat-lamat memandangi Alana. “Semalam aku menghubungi Pandu. Dia … teleponnya diangkat perempuan lain. Tante bisa bayangkan dua orang dewasa berada di tempat yang sama untuk apa?”


“Semoga perempuan itu bisa menerima anakku. Karena aku tidak bisa membesarkannya.” Patricia terisak, terlalu mudah dikuasai oleh pemikiran yang belum jelas.


Perubahan hormon pasca melahirkan menambah runyam isi kepala. “Aku yakin Tante. Apa boleh sekarang juga keluar dari sini? Mulai minggu depan, aku tinggal di Singapore. Di sana ada satu unit apartemen peninggalan Daddy.”


Alana mendengus sebal lantaran sikap Debby Jansen ketara sekali menurun pada Patricia. Ia pun menolak membantu, sebab tidak mungkin keluar rumah sakit setelah menjalani operasi tanpa persetujuan dokter.


TBC


***


Jempolnya boleh ya🙏bantu vote dan gift juga makasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2