Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 45 Pertemuan


__ADS_3

Alana terbangun dalam pelukan Lewis, ditatap wajah tampan dengan rahang ditumbuhi rambut halus, Alana membelai kening, hidung dan pipi Lewis. Rasanya ingin terus seperti ini.


“Lewis aku tidak ingin berpisah darimu.” Lirih Alana, hembusan napasnya membangunkan Lewis yang memang terusik tidurnya sejak Alana bergerak.


“Pagi sayang, morning kiss untukku mana?” pinta Lewis, bibirnya tersenyum tapi kelopak mata masih tertutup. “Kamu menggodaku ya? kenapa pesanku semalam tidak dibalas? Aku khawatir.” Lewis mencium pipi dan leher jenjang Alana.


Pasangan ini sudah hidup layaknya suami istri, tanpa memedulikan bahwa hubungan mereka, ibu dan anak sambung.


“Oh ponselku kehabisan baterai, Lew. Bagaimana pertemuan dengannya, berjalan lancar? Apa dia cantik?” tanya Alana, hatinya terisi sembilu, sakit.


“Ck, jangan membahas wanita lain di atas ranjang kita. Aku sama sekali tidak tertarik Alana. Aku hanya mencintaimu sampai kapanpun itu.” Tegas Lewis, segera bangun dan melepas rangkulannya. Dia tidak suka ada orang ketiga dalam kisah cintanya bersama Alana.


Sementara Lewis mandi, Alana menyiapkan sarapan di dapur. Membuat makanan kesukaan Lewis, entahlah hari ini sangat ingin membahagiakan kekasih gelapnya itu.


Mereka berdua sarapan penuh canda tawa, layaknya pasangan bahagia yang baru saja mengarungi bahtera rumah tangga.


Lewis juga mengantar Alana ke kantor, memperlakukan wanita itu sangat istimewa. Lalu dirinya segera pergi ke salah satu pabrik, memeriksa pekerjaan di sana.


**


Siang harinya Alana mengunjungi salah satu kantor rekanan, mulanya berjalan lancar, Pandu dan Liam setia mendampingi Presiden Direktur.


Atas mandat khusus dari Lewis, Liam harus memastikan Alana aman dari apapun, termasuk Alvaro bersikap informal. Alana hanya milik Lewis, dan selamanya akan tetap sama.


“Terima kasih Liam, kamu sangat membantu. Tapi kenapa tidak pergi bersama Direktur Pemasaran?” selidik Alana.


Liam tersenyum garing menanggapi pertanyaan Presdir sekaligus kekasih Bosnya. “Bos ingin Nyonya Alana aman, jadi mengutusku.” Terang Liam memberi bahasa isyarat kepada Alvaro untuk menjaga jarak dari Alana.


Alana tersenyum karena tahu Lewis sangat posesif, padahal dia dan Alvaro adalah teman baik tapi tingkat cemburu Lewis terlalu melampaui batas.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang wanita cantik, putri pemilik perusahaan menghampiri Alana.


“Ehem … permisi. Anda Nyonya Besar Jansen, benar kan? Aku Adinda.” Perempuan cantik itu mengulurkan tangan kepada Alana, dia tahu wanita di depannya ini calon mertuanya, walaupun usia Alana jauh lebih muda.


Alana bergeming, dia memindai penampilan Adinda dari atas ke bawah, “Cantik, sangat cocok dengan Lewis. Anggun dan cerdas.” Batin Alana. Dirinya mencoba bersikap tegar dan menghilangkan rasa tidak suka terhadap Adinda.


“Oh hi. Ya aku Alana Pattinson. Kau sangat cantik.” Puji Alana terhadap calon menantunya.


Mendengar kata pujian itu menjadikan Adinda bersemangat, untuk menaklukan hati Lewis Jansen yang sedingin kutub selatan.


“Kalau tidak sibuk, bisa kah kita minum kopi bersama? Aku tahu coffee shop terbaik di dekat sini.” Tukas Adinda.


“Oh sure, mari. Liam dan Alvaro kalian kembali lah ke JSN, aku baik-baik saja bersama Adinda.” Perintah Alana kepada dua asisten yang selalu setia mengekor kemanapun.


“T-tapi Nyonya … T-Tuan Muda bilang aku ha …” Liam tidak jadi bersuara karena mendapat tatapan tajam dari Alana.


Alana dan Adinda pergi berdua, mereka langsung dekat, sekilas tampak akrab. Orangtua Adinda yang melihatnya pun senang, putri mereka diterima dengan baik oleh Keluarga Jansen. Tuan Nugraha sangat hapal Presdir JSN adalah wanita yang baik, pasti bisa menjadi ibu mertua teladan bagi Adinda.


**


Adinda memesan minum sedangkan Alana sudah duduk manis di tempat, memeriksa pesan chat. Lewis mengirim beberapa foto kegiatan hari ini.


“Presentasi Anda sangat bagus, Papa memuji dan kagum. Anda memang wanita cerdas, tidak heran Tuan Besar Jansen begitu menyukai Anda.” Ucap Adinda secara tiba-tiba sudah duduk di depan Alana.


“Oh ya terima kasih, itu semua berkat bimbingan suamiku.” Jawab Alana tanpa ragu dan memang benar.


“Apa Lewis juga sama? Umm … maksudnya bisa membimbing aku dalam dunia bisnis? Pasti seorang anak menuruni sifat orangtuanya, iya kan?” Adinda mulai berani mengutarakan maksudnya. Dirasa sangat perlu mengenal lebih dalam mengenai calon suami.


Mendengar pertanyaan itu, jujur Alana tidak suka. Perubahan riak pada wajahnya pun sangat nyata. Cemburu, Alana tidak suka, padahal dia berusaha merelakan kekasihnya tetap saja tidak siap jika dihadapkan secara langsung seperti ini.

__ADS_1


“Aku ingin tahu apa saja yang Lewis suka dan tidak, boleh kan Nyonya. Umm … Tante Alana? Aku sudah mencintainya sejak sekolah dasar. Dia adalah anak laki-laki yang baik, tidak malu dicium oleh mendiang Nyonya Jansen di depan umum, Lewis sangat menyayangi Ibunya, pasti dia juga menyayangi Anda.” Kata Adinda penuh penghayatan.


“Ya. Kau bisa panggil aku Alana. Usiaku pasti lebih muda. Bukan masalah.” Bibir Alana tetap mengukir senyum, namun dalam hati seakan tersiram air mendidih, melepuh, panas dan perih.


Adinda menyatakan isi hatinya, secara tidak langsung ingin Alana membantu perjodohan ini sukses.


Adinda mengukir senyum lalu menggenggam satu tangan Alana. Memberi tatapan memohon. “Alana, bantu aku dekat dengan Lewis. Dia terlalu sulit digapai. Semalam kami bertemu, dia mengabaikan aku. Aku bingung, tipe wanita apa yang disukainya. Selama ini aku dengar dia tidak pernah memiliki kekasih atau dekat dengan wanita manapun. Lewis sangat menempel kepada Ibu sambungnya dan sesekali Patricia, sepupunya yang arogan itu berada di sisi Lewis. Jadi … bantu aku, mau kan?” Adinda sangat mengiba, berharap mendapatkan cinta seorang Lewis Jansen.


Dihadapkan pada permintaan sulit, tentu saja Alana menolak, tapi bibirnya tidak kuasa menjawab. Mana ada di dunia ini seorang wanita bersedia membagi cinta dan perhatian pujaan hatinya bersama perempuan lain. Alana tidak akan sanggup.


“Aku tidak sedekat itu dengannya. Kamu kan mengenal dia dari kecil, seharusnya tahu apa yang disukai dan tidak.” Imbuh Alana, menyambar gelas kopi di depannya dan menyesap minuman dingin itu.


Bagi Alana obrolan ini sangat membosankan, dia pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan karena Lewis sudah menunggu di depan coffee shop.


Alana segera keluar, wajahnya kesal dan marah. Tidak suka miliknya diusik bahkan direbut orang lain.


“Hey sayang, kenapa kamu cemberut?” tanya Lewis dari dalam mobil. “Kamu ketemu siapa? Biar aku hajar dia, berani sekali membuat kekasihku marah. Katakan siapa orangnya?” kata Lewis sangat melindungi Alana.


“Tidak perlu Lew, sebaiknya kita pulang saja. Aku lelah mau istirahat.” Ketus Alana.


“Ok sayang, tapi aku menginginkanmu Al.” Lewis mengedip nakal sebelah mata.


Mobil biru itu melesat cepat meninggalkan coffee shop menuju apartemen Lewis.


Tiba di basemen, Lewis tidak mengizinkan Alana keluar, tetapi meraih tubuh mungil itu naik ke atas pangkuannya, melakukan penyatuan singkat di dalam kendaraan roda empat, hingga mobil itu bergerak naik turun.


Untuk kesekian kalinya  Lewis mencapai puncak bersama Alana.


TBC

__ADS_1


***


jadi timnya siapa? Alana atau Adinda?


__ADS_2