Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 30 Tak Bisa Ku Gapai


__ADS_3

Pagi yang cerah di luar tapi tidak di dalam kediaman Jansen, suasana saat ini mencekam dan menyeramkan. Ruang makan yang memang selalu kelabu semakin bertambah gelap, Patricia menyorot tajam Alana, begitu membenci wanita yang berhasil merebut Lewis.


“Alana … aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan kalian bertemu dengan bayi dalam rahim Alana. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kakak sepupu.” Patricia bersikukuh dalam dada.


Dia sakit hati atas perlakuan Lewis semalam, teganya membentak di depan wanita penggoda seperti Alana.


“Lewis Jansen. Kalau aku tidak bisa mendapatkan-mu maka satupun wanita di dunia ini tidak berhak memilikimu, kak. Hanya aku, ingat itu Lewis.” Napasnya memburu, cinta yang berlebihan membutakan seluruh matanya.


“Sweet heart, makan. Pagi ini kamu ada seminar, kan? Mom tidak mau kamu sakit. Ayolah makan Patricia!” Debby Jansen khawatir karena putrinya hanya memotong panekuk tanpa memakannya sedikitpun.


Tatapan Debby beralih kepada Alana, “Pasti j@l-4-n9 ini melakukan sesuatu, susah sekali sih membuatnya angkat kaki dari sini.” Kesal Debby Jansen, otaknya pun merencanakan sesuatu yang jahat untuk Alana.


“Kenapa adik ipar? Apa penampilanku ada yang salah?” Mata coklat Alana menatap tajam Debby, dagunya pun terangkat. Menunjukkan betapa berkuasanya dia di rumah ini, sebagai Nyonya Besar Jansen.


“Ck, masih memiliki muka juga kamu Alana! Tidak ingat ya? kamu sudah menduakan James, kakakku. Malangnya pria itu, dia di rumah sakit tapi istrinya duduk nyaman, menikmati sarapan. Ya wanita yang jauh lebih muda memang selalu menginginkan hartanya saja.” Bibir pedas dan berbisa Debby sangat lancar mengeluarkan kata-kata hina.


Debby dan Patricia mengakhiri sarapannya, ketika melihat sosok Tuan Muda Jansen menyudutkan mereka dari jarak jauh, menggunakan sepasang mata birunya.


Debby pun segera menarik Patricia sebelum mendapat amukan dari seorang Lewis. Ya beberapa hari ini dia menghindari keponakannya, karena Debby takut semua kejahatan terbongkar dan ditendang keluar dari keluarga Jansen.


“Ikut Mom sekarang. Suasana hati Lewis sedang buruk.” Bisik Debby sedikit panik, langkah kakinya pun sangat cepat keluar dari ruang makan.


Sementara Alana masih menyantap sarapannya, dengan tenang dan anggun setelah kejadian hina menimpanya tadi malam.


“Alana?” panggil Lewis, berdiri tepat di sisi ibu sambungnya.


“Alana? Kau masih marah atas kejadian semalam?” begitu bodohnya pertanyaan Lewis, tidak tahukan dia kalau Alana sangat terluka atas perilakunya?


“Siang ini ada pertemuan dengan pihak distributor. Aku tidak bisa menemui mereka, aku harus ke rumah sakit.” Jawab Alana tanpa melirik sedikitpun kepada Lewis.


“Kamu marah?” Lewis menundukkan wajah di sisi telinga Alana. Hembusan napasnya pun menghangatkan pipi merah ibu tirinya.


Alana menoleh, kedua mata coklatnya memancarkan luka mendalam. “Menurutmu? Tidak perlu aku jawab, kamu pun tahu artinya, benarkan Lew? Permisi, aku harus berangkat.” Alana berdiri, hendak meninggalkan Lewis.


Namun pria tampan itu menahan tangannya, menghentak kuat hingga Alana berada dalam pelukan seorang Lewis Jansen.


Menyatukan bibir cukup kasar, memenjarakan Alana di sudut dinding. Lewis marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Alana, apalagi mendapatkan ibu tirinya ini.

__ADS_1


Tangannya pun meraih dan menekan bagian d4-d-@, sesuatu yang tidak seharusnya.


Apa Alana terbuai? Tidak. Sikap kasar anak tirinya sangat dibenci sekalipun Alana mencintai seorang Lewis Jansen.


Tak kehilangan akal, Alana menggigit kuat bibir bawah Lewis, darah pun menetes. Bibir pria itu membengkak serta bagian yang terluka sedikit biru.


Alana merapikan kemeja serta blazernya, air mata menetes sedikit demi sedikit perlahan membanjiri pipi.


“Hubungan kita tidak benar Lewis, menajuhlah! Aku akan mencarikan calon istri untuk mu.” Alana pergi begitu saja menahan sakit di hatinya.


“Dia menolak lagi? Argh … kenapa harus seperti ini? Semua karena James, dia menikahi wanita yang seharusnya menjadi istriku. Pria tua tidak tahu diri.” Lewis mengamuk bahkan melempar gelas ke jendela di sisinya.  Serpihan pecahan kaca pun mengenai pipi serta punggung tangannya.


“Aku begitu mencintaimu Alana. Kau sangat dekat tapi tak bisa ku gapai. Sedikitpun tidak bisa.” Memijat pelipis dengan tangan terluka, darah bercucuran.


‘Tuan Muda’


‘Telepon dokter sekarang juga’


Teriak kepala pelayan sangat panik, dan mengelus dada dengan tingkah Tuan Muda mereka yang arogan dan mudah tersulut amarah.


Alana mendengar suara itu, sempat terdiam berpikir dalam hati. Dia yakin pasti putranya yang membuat keributan.


“Biarkan saja, panggil dokter!” perintah Alana masih mencoba acuh, walau hatinya melawan.


‘Tapi Tuan tidak mau diobati, Kepala Pelayan tidak sanggup menanganinya. Mohon Nyonya membantu, kami kesulitan.’


Menghela napas kasar, akhirnya Alana luluh dan memasuki rumah. Dia melihat putranya duduk di ruang keluarga, selalu menepis tangan yang hendak diobati.


“Kalian tidak berhak menyentuhku, menjauhlah!” Lewis mengusir jajaran pelayan yang ingin membantunya.


‘Tuan, darah Anda terus mengalir. Kami tidak bisa diam saja’


“Pergilah! Tinggalkan kami berdua.” Ucap Alana semabari mengambil kotak obat yang isinya sudah berhamburan.


‘B-baik Nyonya.’


Alana menutup ruang tamu, menguncinya dari dalam. Rupanya membutuhkan waktu, empat mata dengan putra sambungnya ini.

__ADS_1


“Tanganmu terluka. Usiamu lebih tua dariku, tapi sikapmu sangat kekanakan, mana tangannya! Aku bantu.” Alana duduk di samping Lewis.


Bagai terhipnotis, Lewis Jansen tenang. Patuh kepada ibu tirinya, dia menatapi wajah Alana yang serius merawat luka di tangan.


“Terima kasih.” Ucap Lewis penuh penekanan.


“Hu’um sudah tugasku. Tidak perlu sungkan, kamu sudah sarapan? Perlu minum obat untuk menghilangkan rasa sakit.” Tutur Alana masih membalut tangan dengan perban.


“Hatiku yang sakit Alana, terluka. Obatnya hanya kamu.” Lewis membatin.


“Alana? Aku salah, aku minta maaf. Tolong jangan acuh, setidaknya bersikap normal saja. Aku tidak bisa kalau kamu terus mengabaikan-ku, bahkan sengaja menghindar.” Ungkap Lewis menyampaikan keinginannya.


“Baik, Sekarang, aku bersihkan luka di pipi. Setelah ini kamu makan, terus minum obat. Aku berangkat ke kantor.” Usai mengobati Pipi Lewis, Alana berdiri.


GREP


Lewis menarik satu tangan ibunya, membawa ke atas pangkuannya. Mendekap erat tubuh yang selalu membuat lupa diri, menyembunyikan wajah di balik punggung Alana.


“Tunggu sebentar. Tetap lah seperti ini Alana. Ini bukan permohonan tapi perintah dan kamu harus menurutinya.”


Alana bergeming, otaknya sungguh menolak, tapi hati dan tubuhnya menerima.


“Anggap saja kejadian semalam tidak pernah terjadi.” Kata Alana, suaranya terdengar lirih.


“Tidak pernah terjadi? Kamu mau melupakan aku? Jahat sekali. Alana, aku akan memohon kepada James untuk menceraikan-mu. Kamu sama sekali tidak pernah disentuh olehnya. Kita harus menikah Alana.” Tukas Lewis, sangat gigih.


Semula hatinya ragu dan diam saja, tapi setelah tragedi semalam. Dia menyadari ada sesuatu yang salah diantara James dan Alana.


“Mana bisa Lewis? Apa kamu tidak malu menikahi ibu tirimu sendiri? Kamu tahu apa yang akan terjadi pada JSN ?” Alana begitu menggebu, bertanya sesuatu yang buruk mungkin datang bila mereka bersatu.


“Aku tidak peduli Al. Asal kamu menjadi milikku, seutuhnya.” Tegas Lewis Jansen tak menerima penolakan.


TBC


***


jempolnya, komentar, subscribe, gift ditunggu yaaa😁😁😁

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2