Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 22 Cintaku Karam Sebelum Berlabuh


__ADS_3

“Hamil ya?” gumam Lewis, jantungnya tersayat perih. Tidak bisa menerima apa yang akan dialami ke depannya.


Memang benar dia harus meninggalkan Alana secepatnya. Bukan hanya pergi, tetapi melupakan, dan membuang rasa cintanya terhadap ibu sambungnya.


Baru saja di  usia 28 tahun merasakan indahnya jatuh cinta. Lewis Jansen harus patah hati dari cinta pertamanya. Memang benar, cinta pertama itu tak akan berhasil. Tapi tidak bisakah waktu kembali berputar? Atau Lewis terlahir kembali? Reinkarnasi mungkin.


Jika itu terjadi, dia akan menikahi Alana lebih dulu daripada James. Merubah masa depan kelam, menghapus rasa sesak yang terjadi.


“Usiaku 28 tahun akan memiliki adik lagi. Yang benar saja, James rupanya kau berbohong, dia bilang vasektomi tetapi masih bisa menghamili istrinya.” Lirih Lewis, menertawai nasibnya yang belum merasa bahagia.


Semua karena James Jansen. Pertama Ibunya meninggal dunia, akibat James mendua secara terang-terangan. Kedua, wanita yang dicintai, milik Ayahnya sendiri, memalukan sekali bersaing cinta dengan pria tua.


“Pergilah, laporkan apapun yang terjadi. Jangan terlewat satu informasi. Kalau kau lalai, ku tunggu surat pengunduran diri.” Perintah Lewis, suaranya getir di tengah gerimis yang mengguyur di luar sana.


“Baik Tuan, saya permisi.” Asisten pribadi pamit, tugas utamanya kini dua kali lipat.


Lewis melempar jas sembarangan, meneguk air mineral hingga tandas lalu membasahi dagu, leher dan kemejanya yang terbuka bagian atas.


Harus kah dia pergi melepas nama besar Jansen dan kembali menjadi pimpinan utama usaha pribadinya? TIDAK. Kembalinya Lewis setelah 10 tahun pergi, semua karena mendiang Nyonya Jansen. Wanita itu, begitu setia mendampingi suaminya dalam kesulitan membangkitkan perusahaan yang hampir bangkrut.


“Cintaku karam sebelum berlabuh, ya terima lah kenyataan Lewis. Jangan jadi pecundang! Sekalipun tenggelam, aku masih bisa berenang ke tepian, tidak akan mati di dasar kepedihan.” Imbuh Lewis, memejamkan mata. Senyum manis Alana memenuhi isi otaknya, harum parfumnya pun mengusik Lewis Jansen.


“Sial”


**


Jakarta


Lembayung senja menemani perjalanan Alana, ya wanita ini bersama suaminya menuju rumah sakit. Sesuai janji, memeriksa keadaan Alana, bila perlu tes DNA untuk mengetahui benih siapa yang tumbuh dalam kandungannya.

__ADS_1


“Aku dan Lewis tidak pernah melakukannya. Mana mungkin hamil, ini semua hanya masuk angin dan kelelahan.” Lirih Alana dalam hati, kepalanya menghadap ke luar kaca, melihat hiruk pikuk lalu lintas sore hari.


Alana memejamkan mata. Sepintas kenangan indahnya bersama Lewis menghampiri. “Aku … aku tidak percaya kamu tega melakukannya. Apa semua waktu yang kita lewati juga rekayasa?” tanya Alana dalam hati.


Bingung, tidak ada yang bisa menjelaskan apapun. Dia masih mengunci bibirnya rapat, tidak cerita satu patah katapun kepada James. Lagipula malam itu, nyata sekali bahwa putra sambungnya membantu.


Alana dan James tiba di rumah sakit, petugas kesehatan sudah menyambut di depan pintu. Beberapa media pun bersembunyi di sudut, memotret pasangan beda usia ini. Kabar bahagia mulai menyebar, menuai banyak cibiran dari pengguna media sosial serta pegawai JSN dan Patt Group.


Mereka ramai menggunakan akun palsu untuk menyerang Alana. Memberi cap sebagai lintah darat, sengaja hamil, kelak anaknya bisa menyaingi Lewis Jansen.


Kata-kata pedas menyayat hati pun membanjiri kolom komentar.


Sementara Alana yang tengah sibuk dengan pikirannya, duduk murung di ruang Obgyn. Menunggu suaminya selesai berdiskusi dengan dokter.


“Silakan Nyonya Jansen cek menggunakan testpack dan serahkan hasilnya ya. Toilet di ujung ruangan!” Dokter memberitahu.


Alana masuk toilet, mengisi tabung penampungan air seni. Sebelum membuka alas tes kehamilan dia berharap dirinya masih dalam keadaan suci. Ini semua hanya kesalahpahaman.


Semula menolak tapi suster bilang perintah langsung dari dokter, Alana terpaksa membuka pintu.


“Maaf Nyonya, dokter khawatir Anda salah memakainya, apa urinnya sudah di tampung? Boleh saya lihat atau simpan di meja!” Perawat yang sangat ramah, menebar senyum menenangkan. Tapi siapa sangka, menukar tabung milik Alana dengan orang lain.


Gerakan tangannya sangat cepat, memanfaatkan keadaan Alana yang tengah kalut, hingga kurang fokus.


Suster melakukan tes tepat di depan kedua mata Alana, menunggu tidak sampai lima menit. Benda itu menampakkan hasil luar biasa, dua garis merah.


Sontak manik Alana terbuka lebar. “Alatnya pasti rusak. Aku tidak mungkin hamil. Anak siapa ini?” paniknya sembari memegang perut.


“Tidak mungkin Lewis, aku secara sadar tidak pernah bercinta dengan siapapun.” Lirihnya dalam hati.

__ADS_1


“Apa Tuan James diam-diam melakukannya ketika di kamar? Mana mungkin aku diam saja, benar kan? Tuan juga lumpuh, kakinya tidak bisa bergerak.” Beragam asumsi di kepala Alana, menolak kebenaran di depan mata.


“Selamat Nyonya Jansen. Semoga Anda selalu sehat.” Perawat memberi ucapan yang sama sekali tak ingi Alana dengar.


Masuk ke ruangan dokter, wajah Alana menekuk. Takut, ditambah sorot mata James menghunus tajam.


“Bagaimana hasilnya?” tanya James, tidak sabaran. Jika Alana benar mengandung, maka detik ini James akan mengurangi investasinya di Patt Group.


Alasannya klasik. Memberi hukuman.


Dokter mengambil alih lalu mengangguk paham dan tersenyum. “Dari hasil tes dinyatakan positif hamil. Untuk usia dan kondisinya mari Nyonya berbaring.” Tukas dokter.


Alana patuh, nalurinya sebagai Ibu ingin anaknya tetap sehat. Tapi hal aneh didapati ketika USG, kosong tidak ada tanda kehamilan.


Dokter menyarankan Alana dan James kembali tiga minggu lagi. Meresepkan beberapa suplemen guna menunjang pertumbuhan janin.


“Tuan, aku yakin itu semua keliru. Aku tidak pernah …” mencoba memberi penjelasan, besar sekali harapannya agar James percaya.


“Diam kau Alana. Berani sekali kalian melakukannya di luar pernikahan? Asal kau tahu, anak itu akan tercatat milikku, bukan Lewis. Kau tidak lupa status kita kan? Dunia mengetahui kalau kau adalah istriku secara sah di mata hukum. Nikmati lah perbuatan kalian ini.” Tegas James tidak menyangka membuat kesalahan dengan membawa Alana Pattinson pulang ke rumah keluarga Jansen.


Beberapa jam sebelumnya, Debby Jansen bertandang ke rumah sakit, dia menyuap beberapa petugas lab dan adminitrasi, serta dokter. Tapi rencananya gagal karena dokter tegas menolak.


Siapa sangka Debby memiliki Ide lain, menyuap perawat yang kebetulan memerlukan uang banyak. Lagi-lagi Debby Jansen tersenyum menang. Tujuannya membuat rumah tangga kakak tirinya hancur berantakan segera terwujud.


Debby yakin, James murka mengetahui Alana, istrinya hamil anak pria lain. Karena Debby tahu James tidak akan mungkin bisa memiliki anak dari wanita lain lagi.


Sekarang wanita setengah baya itu tertawa di balik kemudi mobil, rencananya berhasil memporak-porandakan kediaman Jansen. “Kehidupanmu sebagai Nyonya Jansen akan berakhir Alana.”


TBC

__ADS_1


***


duh jahatnya Tante Debby 😲😲


__ADS_2