
Alana mengepal kuat tangannya, kekasih gelapnya sedang bertukar cincin dengan wanita lain di depan sana. Disaksikan kedua keluarga, direstui oleh orangtua, diabadikan wartawan dan menjadi pasangan yang sangat diidolakan.
Alana mencoba menebar senyum palsu, bibirnya terpaksa melengkung di depan umum. Menunjukkan betapa bahagianya atas pertunangan Lewis dan Adinda.
“Jangan memperlihatkan sorot mata kesedihan Alana. Media akan tahu, aku tidak mau kau menjadi penghalang bagi Lewis.” Ucap James begitu pelan, hanya terdengar oleh Alana seorang.
“B-baik Tuan. Terima kasih sudah mengingatkan aku.” Balas Alana, menoleh kepada suaminya dan tersenyum manis. Turut bertepuk tangan meriah setelah Lewis menyematkan cincin di jari manis Adinda.
“Alana. Itu hanya cincin, Lewis cukup memegang tangannya saja. Bahkan aku dan Lewis sudah melakukan lebih, jangan cemas. Harus yakin bahwa hatinya tidak mudah berpaling.” Lirih Alana dalam hati.
Kini Alana dapat menangkap jelas tatapan penuh cinta seorang Adinda kepada Lewis Jansen. Perempuan itu lekat-lekat memandangi wajah tampan calon suaminya, sembari bersiap memasangkan cincin di jari tangan Lewis.
Hati Alana semakin hancur ketika Adinda dengan lancangnya mencium pipi Lewis, hingga momen ini diabadikan awak media. Langsung beredar luas dan menjadi konsumsi publik.
Usai acara pertunangan, Lewis segera mencari Ibu sambungnya. Dia yakin Alana pasti tidak enak hati atas rangkaian acara malam ini. Dia tega meninggalkan Adinda seorang diri di dalam ballroom hotel. Tidak peduli banyaknya keluarga Adinda yang bertanya keberadaan Lewis.
“Dinda calon suami kamu yang ganteng itu di mana? Kamu beruntung akan menikah dengan Lewis, enam bulan itu sebentar.” Ucap Nyonya Nugraha, Ibu kandung Adinda.
“Iya Ma, aku cari Lewis dulu sebentar. Mungkin dia ke toilet. Mama jangan cemas aku bisa pulang diantar Lewis. Hati-hati di jalan Ma.” Kata Adinda, wajahnya sumringah, sangat ceria karena kebahagiaan yang tercipta dari hari ini. Tak peduli jika Lewis terpaksa menjalaninya, yang penting menjadi milik Adinda seutuhnya.
“Ya Adinda, tidak apa miliki dulu raganya. Mungkin hati Lewis bisa menyusul mencintaiku.” Gumam Adinda di dalam lift menuju lobi. Karena dia sempat bertanya kepada petugas yang lewat.
Adinda terus mencari calon suaminya, kaki kecil itu tak gentar meraih simpatik Lewis Jansen.
Sementara Lewis melewati lorong kecil dan gelap, kata Liam –Asisten Pribadi Lewis, Alana tidak ikut mengantar Tuan James ke rumah sakit. Ibu tirinya itu masih ada di area hotel.
“Alana?” panggil Lewis di tengah lorong sepi dan minimnya cahaya, dia merogoh saku celana. Menggenggam erat benda yang dipesannya secara khusus untuk Alana Pattinson.
Langkah kaki serta alam bawah sadarnya menuntun Lewis mendatangi taman kecil di belakang hotel. Tepat sekali, Alana sedang duduk di bawah pohon bougenville putih, memandang ikan koi lalu lalang dalam kolam yang menyerupai sungai.
__ADS_1
Lewis mendekat dan memeluk Alana dari belakang, menghidu kuat aroma tubuh wanitanya. “Aku mencarimu sayang. Aku punya hadiah spesial untukmu Alana.” Lewis membuka kotak kecil tepat di depan mata Alana. Di dalamnya ada benda melingkar berkilauan.
“Ini untukmu, aku pesan satu minggu yang lalu. Kelak ini pasti mengganti cincin pernikahanmu dengan Daddy. Akulah lelakimu di masa depan Alana, bukan pria lain.” Tukas Lewis menyematkan cincin bertahta berlian di jari lentik Alana.
“Terima kasih Lewis.” Alana bisa tenang, cemburunya menghilang karena Lewis memberikan cincin yang jauh lebih bagus dibanding milik Adinda.
“Jangan menangis lagi sayang.” Lewis mencium puncak kepala Alana penuh penghayatan. Pria ini juga melepas jasnya, melekatkan di tubuh kekasih hati, tidak membiarkan Alana kedinginan diterpa angin malam.
Alana menyandarkan kepala di bahu Lewis, melepas lelah menghadapi malam yang begitu menyesakkan jiwa.
Keduanya menatap bintang di langit gelap, besar harapan Alana dan Lewis bisa menyatukan cinta selamanya tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini.
“Apa kamu sudah menstruasi bulan ini?” tanya Lewis.
“Aku? Belum jadwalnya Lew. Memangnya kenapa? Kamu mau membeli pabrik pembalut untukku? Orang kaya memang bebas ya.” tawa Alana lepas.
Lewis menarik tubuh kekasihnya itu, mendekap erat Alana.
DEG
Alana terpaku, tubuhnya lemas. Kalau diingat, selama melakukannya tak pernah sekalipun memakai kontrasepsi. Alana takut hamil, bukan karena khawatir badannya berubah tapi perjanjian yang telah ia sepakati bersama Tuan James.
“Kenapa kamu diam sayang?” Lewis melepas pelukannya dan merangkum pipi Alana. Mengecup mesra bibir tebal merah merona itu.
“Tidak ada apa-apa Lew.” Jawab Alana membalas ciumannya.
Dua insan saling mencintai bertukar saliva di bawah sinar rembulan dan bintang. Mengecap manisnya bibir masing-masing.
Alana dan Lewis tidak sadar dari balik pintu taman yang terhalang pohon, seorang wanita mengintip, memegang kuat dadanya. Meskipun tahu sakit dia tak gentar tetap maju menjadi istri dari seorang pria yang mencintai perempuan lain.
__ADS_1
Adinda tidak bisa melihat jelas wajah kekasih tunangannya. Dia iri, “Perempuan itu beruntung sekali mendapat cinta Lewis. Apa aku bisa menjalaninya? Tapi bagaimana kalau mereka tidak bisa dipisahkan?” gumam Adinda meneteskan air mata.
Pasangan terlarang itu mengakhiri aktifitasnya. Alana dan Lewis segera pergi meninggalkan hotel. Keduanya pulang ke rumah Jansen, Namun Lewis menerima telepon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan kondisi terkini Ayahnya.
“Katakan ada apa? Jangan bertele-tele!” bentak Lewis. Buku-buku jarinya mengeras memegang ponsel.
‘Sebaiknya Tuan Muda segera datang, ini penting.’ Kata perawat dari balik telepon.
Lewis langsung menutup sambungan telepon, dia membawa Alana turut ke rumah sakit. “Kita harus ke rumah sakit Alana, terjadi sesuatu dengan James. Pasang sabuk pengaman, aku ngebut.” Lewis menyalakan mesin mobil.
Memerlukan waktu lebih dari 15 menit menuju rumah sakit keluarga Jansen.
Tiba di pelataran rumah sakit. Lewis tetap menggenggam tangan Alana. Mereka berdua berlari cepat masuk ke dalam.
Suasana di depan ruang rawat khusus itu sudah ramai oleh pengawal, dokter dan perawat. Semua menatap cemas ke dalam celah kaca yang terpasang di pintu.
Keadaan ini sudah berlangsung selama 20 menit.
“Apa yang terjadi? Katakan bagaimana kondisi Daddy?” Lewis mencengkeram kerah kemeja Alvaro.
“Belum ada kabar Tuan Muda. Tapi dokter di dalam mengupayakan yang terbaik.”Jawab Alvaro.
Lewis membuka pintu perlahan. Berdiri menjaga jarak, matanya menangkap betapa sakit Ayahnya sekarang. Napas James tersengal-sengal, padahal oksigen sudah membantunya. Dari kaki dan tangannya tampak jelas menegang.
“Tolong selamatkan Daddy.” Lirih Lewis dalam hatinya.
Para Dokter semakin memacu agar detak jantung James kembali normal. Tiba-tiba seorang dokter yang melakukan pertolongan itu menggelengkan kepala, memberitahu kepada rekan sesame tenaga medis lain.
TBC
__ADS_1
***
duh ada apa lagi ya😣