Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 61 Aku Tidak Menyesal


__ADS_3

Di sisi lain, Alana sedang melamun. Membuka balkon kamar selebar-lebarnya. Teringat semua kalimat yang dia ucapkan kepada Lewis. Hati Alana berdenyut nyeri, sebab melukai pria yang dicintai. “Maaf Lewis.” Lirih Alana.


“Aku benar-benar tidak bisa kembali. Kita tidak akan bersama, tidak akan.” Tegas Alana, memutuskan akhir dari perjalanan kisah cintanya bersama Lewis Jansen.


Manik coklat karamel melirik ke atas meja, ditatapnya ponsel. Seketika tangan Alana terulur mengambil benda itu , membuka layar kuncinya kemudian menekan ikon gambar.


Alana menelan secara kasar ludahnya, tangan kanan yang memegang ponsel bergetar. “Apa harus seperti ini?” tanyanya kepada diri sendiri.


Di dalam smartphone banyak sekali kenangan tersimpan. Foto mesra keduanya, hanya bisa abadi di dalam memori. Alana melihat satu per satu, dia ingat sekali pertama berwisata bersama Lewis, kemudian makan malam berdua, menghabiskan waktu di kamar hingga pagi hari.


“Pergilah. Aku yakin masing-masing dari kita akan bahagia.” Gumam Alana, menandai semua foto kebersamaan mereka lalu menghapusnya.


TES


Air mata berjatuhan membasahi piyama, “Selamat tinggal Lewis. Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Aku tidak menyesal memberikan cintaku kepadamu. Aku tidak menyesal dengan semua waktu yang kita habiskan bersama.”


“Kamu pasti bisa menemukan wanita yang sempurna. Aku tidak baik untukmu.” Bibir Alana bergetar ketika mengatakan ini, sangat menyakitkan sekali.


Tangan kirinya menyentuh permukaan perut, membelai lembut. Namun kedua pandangan teralihkan ke langit gelap tanpa bintang. Bibir Alana mengukir senyum, “Semoga kamu bahagia di sana. Mama menyayangi kamu, Nak.”


**

__ADS_1


Satu bulan kemudian


Sidang perdana Debby diselenggarakan. Semua bukti telah terkumpul, akan memberatkan wanita itu. Debby Jansen harus mempertanggungjawabkan semua kejahatannya, baik kepada JSN atau Alana.


Untuk pertama kalinya juga, Alana dan Lewis bertemu di ruang sidang. Keduanya sebagai pelapor dan saksi. Termasuk Patricia yang bersedia memberi kesaksian, bergabung bersama Lewis. Bagaimana pun sejak Debby masuk penjara, hanya Lewis yang perhatian kepada ibu hamil itu.


“Ehem … apa kabar Alana?” tanya Lewis sengaja, dia begitu merindukan suara wanitanya. Walaupun selama 30 hari tak bertemu, tetapi cintanya untuk Alana tak pudar sedikitpun.


“Baik, terima kasih Tuan Jansen. Saya permisi.” Alana pamit, duduk di sisi khusus para saksi.


Sementara Lewis menatap nanar pujaan hati. Dia menghela napas kasar, dan menerima keputusan ini. Lewis yakin seiring bertambahnya waktu Alana akan kembali kepadanya.


Selama di dalam ruangan, Lewis tak berhenti menatap Alana. Masih mengganggap wanita itu sebagai kekasihnya. Lalu ketika Alana memberikan kesaksian, Lewis mengepalkan kedua tangan, mendengar semua yang terungkap dari bibir Alana. Rupanya kejahatan Debby sudah keterlaluan tidak bisa di tolerir lagi.


“I-iya Tuan, saya tidak menyangka bahwa Nyonya Debby sangat keterlaluan. Saya harap sikap buruknya tidak menular ke Nona Patricia, saya kasihan dengan anaknya.” Liam melirik perut Patricia yang mulai terlihat membesar.


“Apa kau menyukai sepupuku? Hah tidak boleh, kau mau berurusan dengan Pandu? Dia tidak akan tinggal diam.” Tutur Lewis.


Ya karena Pandu selalu menguntit ke mana pun Patricia pergi. Bahkan mengirim makanan dan vitamin untuk calon istri dan anaknya.


“Ya tenang saja Tuan. Saya tidak menyukai hanya iba.” Imbuh Liam, dia pun masih waras. Keluarga besarnya tidak mungkin menerima keadaan Patricia Jansen.

__ADS_1


Sidang pertama berjalan hampir dua jam, pengacara yang di bayar oleh Debby keberatan akan bukti dari pihak Lewis. Apalagi pernyataan semua saksi, sangat tidak logis. Namun pengacara tidak bisa melakukan apapun karena sangat memberatkan Debby Jansen.


Sidang pun dilanjutkan dua minggu mendatang.


“Aku tidak terima kalian semua bekerja sama. Aku akan bebas secepatnya.” Debby Jansen mengamuk bahkan meludahi Alana. Beruntunglah Lewis melihat, menarik tangan Alana hingga mundur beberapa langkah.


“Patricia, anak durhaka. Kau tidak akan bisa bertahan hidup tanpa bantuanku. Bebaskan aku, anak nakal! Aku ini ibumu, aku yang melahirkan mu, dasar anak tidak tahu diri.” Debby semakin tidak terkontrol, mengamuk. Padahal tangannya diborgol dan diapit tiga petugas.


“Mom?” Patricia tak sanggup berkata-kata, hidupnya kini menyedihkan. Tidak memiliki seorang ayah, ibu yang masuk penjara, sekarang hamil tanpa suami, tidak memiliki pekerjaan, hanya mengandalkan kemurahan hati Lewis Jansen.


Mata besar Debby kembali menyorot tajam Alana yang berjalan menjauh dari Patricia. Dia tertawa, mencemooh dua orang itu.


“Ck menjijikan sekali, kalian. Kau Lewis menikahi wanita yang jelas-jelas ibu tirimu, bekas Ayahmu, James.” Teriak Debby mengundang semua yang hadir bertanya-tanya. Namun Liam segera mengklarifikasi.


“Oh ini tidak benar. Nyonya Alana dan Tuan Lewis bahkan pisah rumah.” Tegas Liam melirik ke samping mencari pembenaran Bosnya. Tapi Lewis sudah menghilang entah ke mana.


“Tuan pergi lagi.” Keluh Liam. Selalu saja menjadi alat pembersih semua masalah yang diciptakan Bosnya.


Lewis sengaja menyusul Alana, dia sembunyi di balik pilar. Memandangi punggung wanitanya dari jauh. Alana sama sekali tak menoleh atau berhenti untuk menunggu Lewis Jansen menyusul.


“Mudahnya kamu melupakan aku Al.” lirih Lewis dalam hati. “Aku tidak akan menyesal menunggumu.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2