Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 33 Kegiatan Pagi


__ADS_3

Lewis membawa ibu sambungnya ke apartemen, tidak pulang ke rumah. Sepanjang malam menenangkan Alana yang menangis ketakutan, bahkan Alana tidak tahu kejahatan apa yang menimpa dirinya.


“Terima kasih Lew, kamu menyelamatkan aku dari mereka.” Cicit Alana, sejak menikah dengan James selalu ada saja peristiwa yang datang silih berganti tak kenal lelah.


“Tante Debby keterlaluan, dia berani sekali melakukan perbuatan keji seperti itu. Aku harus membuatnya menjadi gembel di jalanan.” Bengisnya Lewis, hati pria ini sakit dan perih karena wanita yang dicintainya selalu menjadi sasaran dari konflik keluarga Jansen.


“Tenanglah Alana, kau aman. Jangan menjauh lagi dariku, mengerti? Aku berjanji Alana. Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Yang seharusnya disingkirkan itu aku, bukan kamu.” Imbuh Lewis, dia harus menyelesaikan masalah yang timbul karena kecerobohan Ayahnya.


Seandainya sedari awal menolak kehadiran Debby dan Patricia, pasti tidak akan ada perebutan kekuasaan yang sangat memalukan.


Alana pun gagal melindungi putra sambungnya, tugas yang diberikan James sangat berat dan mempertaruhkan harga diri sekaligus nyawa.


“Tidurlah Alana, aku ada sini. Jangan takut. Aku mencintaimu. Apa pun aku lakukan, demi kamu Alana Pattinson.” Bisik Lewis. Kata-kata ini begitu menenangkan jiwa dan raga.


Alana terlelap dalam hangatnya pelukan Lewis Jansen.


Hingga pagi hari sepasang ibu dan anak itu masih enggan membuka mata, untuk menjalani padatnya kegiatan hari ini.


Lewis yang bangun lebih dulu memandangi Alana, menikmati wajah cantik yang sangat dikagumi.


“Akh .. aku harus memaksa James menceraikanmu Alana, aku bisa gila kalau kau terus menjadi ibuku.” Gumam Lewis. Tangannya gatal tidak bisa diam, menyentuh hidung mancung Alana dan menciumnya.


“Lew hentikan geli. Aku masih ngantuk.” Serak Alana menyingkirkan tangan putra sambungnya.


“Kamu cantik dan menggoda sayang.” Bisik Lewis, kali ini sengaja mendekatkan kepala. Mengabsen seluruh permukaan wajah, mengecup basah kening, hidung, kedua pipi serta daun telinga. Menjalar turun ke ceruk leher harum aroma parfum wanita.


Menghisap rakus di area itu, menimbulkan beberapa jejak merah.


“Lewis?” pekik Alana membuka matanya lebar. Alana tersengat aliran listrik dari sentuhan nakal tangan Lewis Jansen.


“Morning kiss.” Lewis Jansen  tersenyum, lalu memeluk Alana sangat erat. Desakan sesuatu yang ingin dilampiaskan sangat kuat mendorong keluar dari dalam tubuh.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat. Pria ini membuka setiap helai pakaian yang menempel di kulit masing-masing. Mengungkung Alana di bawah kuasanya. “Jadilah milikku Alana.” Ucap Lewis tepat di depan wajah ibu tirinya.


Kamar apartemen yang semula hening, berganti dengan sahutan merdu dua orang dewasa yang sedang memadu kasih. Menyatukan cinta yang tidak seharusnya terjadi.


Keduanya sama-sama terbuai dan termakan bujuk rayu menyesatkan. Lewis sengaja melakukannya agar Alana hamil benihnya, dia menyembur berulang kali, hingga matahari semakin terang, menerangi dataran bumi.


Alana tergolek lemah tak berdaya, mata coklat karamel memandangi baju yang berserakan serta tersangkut di kursi.


Perhatian Alana pun teralih kepada seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk melilit. Lewis percaya diri berjalan di depan wanitanya. Bahkan menggendong Alana, membantunya masuk ke kamar mandi.


“Aku bantu, mungkin badan kamu sakit.” Kata Lewis, kendati bukan pertama kali tapi pagi ini keduanya pertama meraih puncak pelangi bersama-sama.


Di bawah shower, tangan kekar Lewis membantu mengoleskan sabun ke sekujur tubuh wanitanya. Alana menggigit bibir bawah, menahan agar nyanyian indah tidak keluar dari pita suaranya.


Namun pergerakan Lewis di luar dugaan, hingga kegiatan itu terjadi lagi untuk ke sekian kalinya.


**


Lewis Jansen mengantar Alana ke kantor, tangan keduanya saling bertautan di dalam mobil. Senyum merekah terpahat di wajah Lewis, tapi tidak dengan Alana.


Alana yang menatap Lewis segera mengedipkan mata, mengumpulkan nyawanya, sebab terpikat oleh pesona Lewis Jansen.


“Seandainya … pria yang menawarkan pernikahan itu kamu Lew.” Lirih Alana dalam hati. Tapi sayangnya dia tak akan pernah mengenal Lewis jika bukan menjadi ibu sambungnya.


“Kenapa Al? Kamu membutuhkan sesuatu? Kalau terjadi sesuatu di kantor, hubungi aku. Baik itu pekerjaan atau hal lainnya.” Lewis membelai puncak kepala Alana. Rasa cinta sangat besar dan berlebihan terhadap wanita ini.


“Umm … turunkan aku di halte bus depan. Aku tidak mau semua pegawai melihat kita. Gosip di kantor masih panas Lew, ku mohon.” Pinta Alana, sebenarnya ingin sekali memiliki waktu lebih lama bersama Lewis tapi tuntutan pekerjaan memaksanya berpisah.


“Ok. Katakan semua kepadaku, siapa pun yang mengganggu. Aku mencintaimu Alana.” Mobil yang ditumpangi mereka menepi, Alana turun tepat di sisi jalan.


Wanita ini perlahan melangkah menuju gedung pencakar langit milik JSN Group. Alana memerhatikan entah itu sepasang kekasih atau suami istri, bisa dengan bebas menunjukkan pasangannya di hadapan umum.

__ADS_1


“Sayangnya aku tidak bisa.” Gumam Alana, menyayangkan perjalanan cintanya yang berliku, mungkin juga tak berujung.


Memasuki gedung, hanya segelintir orang yang masih menyapanya. Semenjak berita panas antara Alana dan Lewis sebagian mulai menaruh kekecewaan terhadap pimpinan mereka.


Tepat sebelum memasuki lift, Debby menghampiri Alana, menunggu kotak besi itu terbuka.


“Semalaman tidak pulang, ke mana? Oh menginap di rumah sakit atau di hotel mencari kepuasan?” tawa Debby, dia sengaja agar percakapannya ini bisa didengar oleh seluruh pegawai.


“Aku di rumah sakit, memangnya siapa lagi yang bersedia menemani suamiku? Adiknya? Oh iya aku lupa kemungkinan adik ipar tidak memiliki darah Jansen, jadi Anda tidak berhak mengaturku. Lebih baik urus diri Anda sendiri dan juga temukan pria yang tepat untuk Patricia.” Balas Alana membuat Debby melotot tajam dan tangannya terkepal.


“Ingin ku robek mulutnya lancang sekali. Wanita ini harus ku singkirkan secepatnya. Semakin berani dan berbahaya.” Batin berapi-api, dia tidak ingin rencananya gagal, menguasai harta Jansen adalah tujuan utamanya.


Pitu lift terbuka, Alana masuk lebih dulu mengabaikan Debby yang masih mematung. “Permisi adik ipar aku duluan ya.” pintu besi itu pun tertutup.


Seketika Debby tersadar dirinya ditinggalkan oleh Alana.


“Alana Pattinson, awas kau.” Teriaknya tertahan di tenggorokan, terpaksa Debby Jansen harus menunggu beberapa menit lagi. Wanita berusia 50 tahun ini enggan menggunakan lift biasa yang digunakan karyawan.


Mana mungkin Direktur Operasional harus berbaur dengan pegawai kelas bawah. Bukan gaya seorang Debby Jansen.


Sementara Alana sudah memasuki ruangannya, kedatangan Alana sudah ditunggu dan disambut sekretaris serta Alvaro. Tugasnya menumpuk dengan jadwal pertemuan yang tak pernah reda setiap harinya.


TING


Manik coklat Alana mengecil, membaca singkat pesan yang dikirimkan oleh Lewis.


“Semangat sayang, Alana aku tidak sabar bertemu denganmu sore nanti.”


TBC


****

__ADS_1


jempolnya boleh ya untuk Alana


biar semakin semangat up nya 🤭😁


__ADS_2