Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 62 Kejamnya Dunia


__ADS_3

Seorang wanita hamil menangis di sudut lorong panjang. Patricia Jansen mengeluarkan air mata tanpa suara. Hatinya sakit sekali melihat perempuan yang sudah melahirkannya berakhir di penjara. Debby mengamuk dan melukai diri sendiri. Patricia tidak sanggup melihat itu semua.


Setitik rasa bersalah hinggap di dadanya, dia merasa menjadi saksi adalah keputusan yang buruk. “Maaf Mom. Aku minta maaf.”


Patricia Jansen terus saja menangis, air matanya tak berhenti, bertambah lancang keluar deras membasahi pipi. Hidung mampet, kepalanya pun pusing, telinga seakan berdengung tak mendengar apa-apa, selain ungkapan kekecewaan Debby Jansen.


“Sssh … sakit.” Patricia meringis sebab perutnya kram.


“Aw … kenapa kamu selalu merepotkan aku?” mengeluh, memukul perutnya dengan kasar. Terkadang Patricia masih tidak menerima, dirinya mengandung anak pria miskin seperti Pandu.


“Seharusnya kamu tidak pernah ada, kamu hanya pengganggu. Sssh … sakit.” Tubuh Patricia kini membungkuk menahan sakit.


Tiba-tiba tangan seorang pria merangkulnya, menggendong Patricia. Melangkah cepat keluar dari gedung pengadilan menuju mobil yang terparkir.


“Saya mohon tenang Nona, kita ke rumah sakit.” Ujarnya.


“Hah? Lepas! Lepaskan aku dasar pria tidak tahu diri. Jangan sentuh aku!” badan ibu hamil ini bergerak, memberontak dalam pangkuan Pandu.


“Saya tidak bisa diam saja. Saya harus melindungi Nona.” Pandu bersikeras menyelamatkan Patricia beserta bayinya.


Selama perjalanan ke rumah sakit, lamat-lamat Patricia menatap Pandu. Bukan perasaan cinta melainkan jijik. Malam panasnya terus saja berputar ketika melihat pria yang di sebelahnya.


“Pandu?” suara Patricia sedikit meringis.


“Ya Nona? Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.” Pandu tidak menoleh, dia memilih fokus mengendarai mobil.


“Apa benar kamu menginginkan anak ini?” tanya Patricia sangat lesu.

__ADS_1


“Tentu saja Nona, saya akan bertanggung jawab. Saya akan menjadi suami yang baik dan ayah teladan.” Kata Pandu begitu percaya diri mengungkapkan rencananya.


“Baiklah, kalau begitu Aku akan melahirkannya. Ku pastikan dia lahir, tetapi aku tidak mau mengurusnya. Aku tidak mau dia mengganggu masa depanku.” Kata-kata Patricia ini menghujam Pandu langsung mengenai jantungnya.


Seketika mobil terhenti, Pandu menyandarkan kepala, menoleh lemah. Dia terkejut, baru pertama kali mendengar seorang ibu yang tega membuang bayinya.


“Apa Nona tidak memiliki rasa kasihan sedikit saja? Nona Ibunya, seharusnya menyayangi anak kita.” Pandu susah payah menelan saliva. Hatinya sakit sekali, jika nanti anaknya harus hidup tanpa kasih sayang seorang ibu.


Mendengar ungkapan kekecewaan Pandu, tentu saja hati Patricia teriris. Lubuk hati terdalamnya memang menyayangi anak ini, tetapi rasa benci Patricia menutupi semuanya. Dia tidak mau kelak seorang bayi menggangu kehidupan masa depan yang telah dirancang.


“Tidak.” Jawab Patricia begitu tegas serta lugas


“Baik, saya tidak bisa memaksa. Tapi mohon selama dalam kandungan, tolong sayangi anak saya. Terima kasih.” Lirih Pandu, terpaksa menelan kekecewaan, sangat berat.


Mobil pun kembali melaju ke tempat tujuan. Pandu akan menjaga bayinya hingga lahir, dia tetap menjadi bayangan bagi Patricia.


“Anakku.” Lirih Pandu, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia sendiri bingung, apa sanggup membesarkan buah hati tanpa kehadiran ibu atau istri?


“Dunia memang kejam Pandu, hanya karena aku miskin. Tidak bisa menikahi ibu dari anakku, dan bayi kecil itu akan menanggung kesalahan dua orangtuanya.” Sakitnya menguliti sekujur tubuh Pandu.


Dalam beberapa bulan lagi statusnya berubah, menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi bayi merah. Saat ini saja Pandu masih berjuang, terseok-seok menghidupi diri sendiri, biaya pengobatan adiknya sangat mahal.


“Aku akan menjadi ayah tunggal yang baik melebihi hadirnya seorang ibu.” Batin Pandu. Kemudian berjalan membuka pintu IGD dan mendekati ranjang Patricia.


“Bagaimana keadaannya, sus? Apa janinnya baik-baik saja?” Pandu tidak lagi bertanya kondisi Patricia, bahkan terkesan acuh.


‘Kami harus melakukan USG, sebentar lagi Nona diperiksa oleh Dokter Spesialis Kandungan, mohon tunggu sebentar.’

__ADS_1


Patricia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, aneh. Tidak biasanya Pandu bersikap dingin, padahal sebelum tiba di rumah sakit pria itu sangat hangat dan perhatian.


Hati Patricia mencelos, dia kehilangan sesuatu. Namun sulit diungkapkan, sebagai wanita hamil tentu saja ingin menerima perhatian lebih dari ayah jabang bayi.


“Ada apa? Dia cuek.” Hati Patricia mengutarakan sikap Pandu.


“Apa rencana ku tidak mau membesarkan anak ini masalah untuknya? Tidak tahukan dia bahwa masa depanku masih panjang? Aku tidak mau berakhir di rumah menjadi pengasuh bayi dan pria miskin.” Patricia tetap kukuh akan pendiriannya.


Dia pastikan setelah melahirkan akan pergi sejauh mungkin, menata kehidupan baru secara mandiri, bisa jadi menikah dengan pria yang sepadan.


‘Mari Nona, kita periksa ke ruangan dokter.’


Perawat membantu Patricia pindah ke kursi roda, tetapi Pandu hanya diam saja, tangannya sibuk menggulir layar ponsel.


Perawat wanita yang melihatnya, mendengus sebal, baru kali ini melihat pria kejam seperti Pandu.


Tiba di ruang dokter, Patricia segera berbaring, bersiap melakukan USG. Mengetahui keadaan bayi dalam kandungan.


Dari layar besar tampak bayi kecil bergerak-gerak cukup lincah, namun pergerakannya belum bisa dirasakan mengingat usia kandungan masih sangat muda.


Hati Patricia dan Pandu berdesir mendengar detak jantung anak mereka, rasa hangat, menyayangi, melindungi menjalar ke dalam dada.


Sepasang orangtua ini pun tanpa sengaja saling bertatap satu sama lain.


TBC


 

__ADS_1


__ADS_2