Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 39 Terbakar Api Tak Kasat Mata


__ADS_3

Semakin bertambahnya hari, Alana bisa menguasai kesedihan. Dia tidak lagi menunjukkan betapa hancur hatinya. Kesibukan Alana pun bertambah banyak dia sengaja meminta Alvaro memadatkan jadwal.


Hal ini sangat tidak disukai Lewis Jansen. Tentu saja waktu yang dimiliki wanita pujaannya berkurang, terkikis habis. Lewis hanya mendapat sisa dari 24 jam waktu Alana.


Tapi dia rela, tidak apa hanya berlangsung sebentar, mungkin Alana ingin melupakan kesedihannya dengan menjadikan diri sesibuk mungkin.


Lewis selalu ada di sisi ibu sambungnya bagaimanapun keadaan. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan wanita pujaannya itu.


Termasuk saat ini, dimana menahan panas hati, lantaran Alana membantu James makan.


Menurut hasil pemeriksaan, tubuh bagian kanan James mengalami stroke, hingga pria sepuh itu kesulitan menggunakan tangannya. Namun James masih berusaha mandiri, menutupi kondisi dari putra tunggalnya.


“Ck pria tua yang manja, padahal dia bisa menggunakan kedua tangannya. Sengaja ingin menunjukkan diri di depanku ya? Puas kau James, sukses membuat ku cemburu.” Desis Lewis dari ruang keluarga, memandangi sepasang suami istri yang menikmati lembayung senja di taman.


“Kalau saja bukan karena Alana, aku malas pulang ke sini.” Gumam Lewis, rasa bencinya sangat besar, sulit dirobohkan dalam waktu singkat. Hanya keajaiban yang bisa menghapus segala dendam serta perih di hati pria tampan, mapan dan arogan itu.


Menyadari dirinya dipandangi, Alana mengulas senyum setipis tisu. Sesungguhnya dia sangat ingin bersandar di bahu pujaan hati, pergi berdua layaknya sepasang kekasih normal.


Menonton film atau mungkin sekedar makan malam romantis di akhir pekan, tapi sayang Alana adalah pengasuh dari James Jansen.


“Maafkan aku Lew.” Lirih Alana dalam hati.


Kemudian mata coklat karamelnya teralih kepada James, menghapus sisa bubur di bibir dan dagu.


“Selesai Tuan, mau ke kamar atau di sini? 30 menit lagi minum obat.” Tutur Alana sangat lembut. Inilah alasannya James menyayangi Alana, dia merasa seolah diperhatikan oleh putri kandungnya sendiri.


“T-terima kasih Alana sayang. Aku ingin kembali ke kamar, tolong bantu.” Perintah James terbata-bata.


Perlahan Alana mengantar suami tuanya ke kamar, memijat kedua kaki James yang tampak kaku dan dingin.


“Ck, panas.” Celetuk Lewis, dia melihat itu semua dari pintu yang tidak tertutup sempurna. Rasanya menyesakkan dada, bagai dihujam ribuan belati.


Akhirnya daripada semakin terbakar oleh api tak kasat mata, Lewis memilih masuk kamar merebahkan diri di atas kasur empuk.


Jika bujangan seusianya keluar rumah ketika malam minggu, berbeda dengan Lewis tak pernah sekalipun kencan.


**

__ADS_1


Alana telah selesai melayani suami, James pun terlelap usai menelan banyaknya obat. Alana bergegas menemui Lewis di bawah, sayangnya kosong. Dia menghela napas, memutar tubuh untuk memasuki ruang kerja, tapi sepasang tangan kekar menariknya ke dalam kamar mandi.


Mencium rakus bibir tebal dan kenyal Alana, “Aku merindukanmu Al. Dia tidur?” tanya Lewis memutar bola mata birunya.


“Ya, Daddy-mu tidur, ada apa? Sebaiknya besok pagi saja, kasihan Tuan James bila dibangunkan sekarang.” Imbuh Alana, berpikir bahwa Lewis ingin bicara dengan Ayahnya.


Namun Lewis menggeleng, mendekatkan bibir ke telinga Alana. “Kita kencan Alana, aku tunggu di luar, di taman umum. Jangan lama, sayang.” Lewis mengecup pipi Alana lalu keluar kamar mandi.


Cinta memang membuat gila. Alana segera bersiap, tidak berlebihan merias diri, khawatir orang rumah curiga, terutama Debby yang memiliki banyak mata.


Diam-diam keluar melalui pintu belakang rumah, berjalan cukup jauh demi memenuhi ajakan pujaan hati.


Bibir Alana tersenyum ketika melihat mobil biru Lewis, dia pun mempercepat langkah dan masuk ke dalamnya.


Disambut oleh senyum manis sekaligus menggoda seorang Lewis. “Mau makan atau jalan-jalan?” tanya Lewis mencium punggung tangan Alana.


“Umm, boleh makan. Aku lapar, tapi kamu yang traktir ya.” Alana mencoba bergurau.


“Ck padahal gajimu sebagai Presiden Direktur jauh lebih banyak Alana, kenapa meminta kepadaku?” balas Lewis tertawa.


Alana setia menatap lekat-lekat wajah tampan Lewis, bibir merahnya melengkungkan senyum, tapi hatinya tertawa perih.


“Aku ini seorang istri yang selingkuh dari suaminya.” Alana membatin. Apa ini bisa dikatakan berkhianat? Antara dia dan James tidak saling mencintai, hanya sekedar kontrak belaka.


“Kenapa? Mukaku tampan kan? Lihatlah sepuasnya Alana, semua milikmu, tak akan ada yang bisa menyentuhnya sepertimu.” Ucap Lewis, mengukuhkan bahwa dirinya hanya untuk Alana.


Bagi Alana ungkapan itu menyakitkan, bagaimana bila ke depannya Lewis menikah dengan perempuan lain? Sanggupkah Alana untuk benar-benar merelakan pria yang teramat dicintai?


“Hu’um, terima kasih sudah hadir di hidupku Lew.” Alana mengusap rahang tegas yang ditumbuhi rambut halus tertata rapi.


Alana dan Lewis tiba di salah satu restoran, keduanya sengaja memesan private room guna leluasa, terhindar dari bisingnya bibir jahat orang lain.


Lewis menyuapi ibu sambungnya penuh cinta begitupun Alana. Jatuh cinta melupakan semua insan, rasanya dunia hanya milik berdua. Inilah yang dialami Lewis dan Alana.


Pria itu mengabaikan panggilan telepon Liam, sama halnya dengan Alana yang acuh akan getar ponselnya.


“Lew, belakangan ini aku tidak melihat Patricia, ke mana dia?” pertanyaan Alana ini merusak momen indah.

__ADS_1


“Dia? Sakit. Jangan pedulikan, masih ada Tante Debby yang perhatian kepadanya.” Tukas Lewis langsung memasukan potongan daging domba ke dalam mulut Alana.


Alana mengerutkan kening, berpikir sejenak tapi ada benarnya semua kata-kata Lewis.


Setelah makan malam, mereka menyewa satu kamar presidential suite. Rindu yang lama tertahan sudah menumpuk mendesak untuk disalurkan.


Tapi Lewis masuk ke kamar lebih dulu sementara Alana pergi ke suatu tempat, alasan membeli sesuatu.


Menunggu selama 20 menit akhirnya Lewis mengembangkan senyum, seketika menubruk tubuh Alana hingga menempel pada dinding. Memungut bibir menggoda Alana, lalu bibir Lewis turun ke leher memberi gigitan kecil.


“Lew-is j-jangan di sana-ah.” Pinta Alana di sela d-3*5ahannya.


“Ok, kamu mau di tempat lain?” gairah yang sudah di ubun-ubun tak kuasa tertahan, menuntunnya membuka kardigan Alana, atasan berwana putih dengan potongan dada rendah begitu menarik minat.


Lewis melepaskan, tak menunggu lama, dia memberi jejak kepemilikan di sana hingga tubuh Alana kehilangan akal sehat.


Keduanya terus bergerak ke sana kemari, hingga seluruh pakaian terlepas. Saatnya untuk menyelesaikan misi utama, menuntaskan hasrat.


Tapi belum sempat bukti ketegangan Lewis bertamu. Alana menahannya, memberikan satu bungkus sesuatu untuk pria itu kenakan.


“Apa ini?” mata biru Lewis melotot mengetahui benda ditangannya adalah alat kontrasepsi.


“Sebelumnya tanpa ini, kenapa sekarang harus? Katakan Alana?” rahang Lewis mengetat, marah.


“A-aku. Aku takut h-hamil Lew.” Cicit Alana, sesungguhnya yang ditakutkan adalah hamil tapi tak bisa memiliki Lewis. Alana tidak mau itu.


“Aku ingin kau hamil Alana, melahirkan anakku. Jika itu terjadi James pasti menceraikanmu.” Gairah yang sudah memuncak pun hilang tak berbekas. Lewis menggunakan pakaiannya dan keluar kamar meninggalkan Alana.


TBC


***


hari ini satu ya kakak 🙏 maklum baru sempat menulis


ditunggu likenya 😁


 

__ADS_1


__ADS_2