
Satu jam sebelumnya
“Anda yakin Tuan? Saya khawatir Nyonya Alana tidak mau menerima hadiahnya.” Kata Liam membuang napas kasar. Karena keinginan Lewis sungguh kurang masuk akal.
Memesan pot bunga mawar sepanjang dua meter, dengan diameter 50 cm. Berisi bunga mawar merah hidup, sebagai lambang cintanya untuk Alana.
“Iya. Apa aku harus mengulangi lagi? Kau mau dipecat?” Lewis memukul meja kerja. Lalu menuliskan kata-kata yang akan dimuat pada kartu ucapan.
“Alana, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu malam itu. Aku juga sama terpukul. Aku sangat menginginkan anak itu, anak kita, buah cinta kita. Aku mencintaimu Alana. Terimalah bunga ini dan jaga dia baik-baik, cintaku untukmu akan tetap hidup sekalipun kamu membenciku.”
Lewis menyerahkan secarik kertas ke Liam.
“Tuan Anda?” lagi-lagi Liam menguras emosi Lewis Jansen yang sedang patah hati.
“Pergi sekarang Liam, pastikan bunganya tidak layu, hancur atau rusak. Dengar itu! Cepatlah!” Lewis mengusir asisten kesayangannya.
Seorang diri di dalam ruangan, bukan bekerja melainkan memandangi ponsel berisi gambar kebersamaan mereka beberapa bulan lalu. Seolah dunia memang milik berdua, tapi kebahagiaan itu sekarang pergi tidak ada lagi.
Kalau saja waktu bisa terulang, mungkin Lewis Jansen akan membayar mahal tidak peduli jika dirinya bangkrut. “Alana, lama-lama aku bisa gila.”
Lewis seakan kehilangan akal sehat, tertawa sendiri, tiba-tiba termenung dan meneteskan air mata.
Iya, hasil USG Alana telah disimpan dalam memori ponsel. Sebagai kenang-kenangan, bahwa dia pernah menjadi seorang ayah. Ayah yang sangat jahat dan kejam.
Tok … Tok
__ADS_1
‘Tuan permisi’
“Masuklah, apa yang kau bawa?” Lewis mengamati sekretarisnya yang menggendong tas besar.
‘I-ini dari Tuan Liam, katanya lupa di serahkan ke Tuan. Sepertinya banyak berkas, berat sekali.’
“Simpan di sana!” Lewis menunjuk sofa di tengah ruangan.
Sebelum dia duduk, ingatannya berputar ke masa lalu, dimana dia pernah memarahi Alana karena merusak dekorasi ruangan ini. Lalu sofa pun menjadi salah satu saksi bisu percintaannya bersama pujaan hati.
“Kamu lihat Alana, di mana-mana ada kamu dan kamu. Aku tidak akan sanggup menjalaninya seorang diri. Aku butuh kamu sayang.” Lewis memeriksa tas dengan seksama.
“Ternyata dia belum bisa melupakanku. Kamu ingin kembali lagi kan Alana? Sebaiknya kita bersatu untuk mengalahkan Tante Debby.” Tukas Lewis.
Betapa terkejutnya dia karena semua ini berisi kejahatan Debby, serta satu flashdisk terselip di bawah tas. Lewis penasaran dan mencari tahu apa yang tersimpan di dalamnya.
Kedua tangan Lewis pun mengepal kuat.
BRAK
Pintu ruangan direktur operasional terbuka lebar.
Sontak Debby Jansen yang tengah melakukan tindakan tak senonoh di dalamnya terkejut.
“Lewis, k-kau? Apa yang kamu lakukan Lew? Seharusnya mengetuk pintu dulu.” Debby panik, tertangkap basah berciuman dengan Wakil Direktur Keuangan yang usianya jauh lebih muda.
__ADS_1
“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang Tante lakukan? Ini kantor!” teriak Lewis, suaranya memecah keheningan, terdengar hingga keluar.
Para karyawan divisi operasional pun berdatangan mendengar keributan.
“Mulai sekarang kalian berdua aku pecat.” Lewis menunjuk Debby dan kekasih gelapnya.
“LIAM? LIAM? Sampaikan pada HRD untuk mencari kandidat baru dan pecat semua pegawai yang memiliki hubungan dengan dua orang ini!” perintah Lewis sangat mengejutkan semua pihak.
Liam yang baru saja datang nyaris terkena serangan jantung. “A-apa Tuan?” tanya Liam, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Semua pegawai yang selama ini mendukung dan bekerja sama dengan Debby langsung ketakutan, artinya mereka akan kehilangan mata pencarian.
“Blacklist semuanya. Aku tidak suka ada pengkhianat di dalam JSN. Mereka harus menerima akibatnya! Ah iya, aku akan memberi sedikit keringanan jika kalian sukarela mengakui semua kejahatan, hari ini juga aku tunggu!” Lewis menendang pintu ruangan, hingga terlepas.
Bisik-bisik kegelisahan dan ketakutan sangat ketara sekali, terutama Wakil Direktur Keuangan. Malu, sakit hati dan takut karirnya hancur.
‘Semua ini karena Anda, dasar nenek tua.’
Lantas meninggalkan Debby yang menahan amarah seorang diri.
“LEWIS JANSEN SIALAN. LIHAT SAJA KAU LEWIS. Tidak bisa mengalahkan aku.” Debby mengambil vas bunga di atas meja kerja melemparnya ke pintu yang rusak.
TBC
***
__ADS_1
jempol dan komennya boleh ya kakak 🙏🤗
terima kasih