Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 58 Penangkapan


__ADS_3

Beruntunglah Pandu dan Alana sigap tanggap membawa Patricia ke rumah sakit. Kandungannya baik-baik saja walaupun tergolong lemah, hanya kondisi mental Patricia yang kurang baik.


“Patricia bangun, aku janji bisa membahagiakan kamu dan anak kita. Tolong terima aku Patricia.” Pandu memegang satu tangan wanita yang sedang terbaring lemah tak berdaya.


Dia tidak menyangka penolakan yang diberikan Patricia membuat hatinya nyeri dan tercabik-cabik. Namun Pandu pelan-pelan akan merayu Patricia untuk menikah dengannya.


“Pandu, aku menunggu di luar. Kabari jika membutuhkan sesuatu.” Alana begitu perhatian kepada pasangan ini. Dia merasa kasihan dengan anak dalam kandungan Patricia, jangan sampai mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Pandu setia menemani Patricia di bangsal IGD, hanya Alana yang menunggu di luar gedung, menanti Alvaro datang.


“Ada hal penting apa yang dia sampaikan.” Gumam Alana duduk di kursi khusus tamu rumah sakit.


Sekitar 15 menit Alana menunggu sembari bermain ponsel, mobil Alvaro tiba di area parkir. Pria itu turun membawa amplop coklat tipis di tangannya, wajah Alvaro tersenyum riang.


“Alana?” panggil Alvaro, melambaikan tangan. Kemudian berlari ke arah sahabatnya.


“Ada apa Varo? Kamu bahagia sekali. Patt Group mendapat klien baru atau pendapatan kita bertambah?” tanya Alana menyelidiki dari riak wajah yang ditunjukkan oleh Alvaro.


Asistennya hanya menggelengkan kepala, tapi senyum tak pudar dari bibirnya. “Bukalah, aku menerima ini dari resepsionis. Seseorang mengirimkannya, aku rasa dia Liam. Ya tentunya atas perintah Lewis Jansen.”

__ADS_1


Mendengar nama pria yang sukses menghancurkan hati. Alana bergetar, enggan menerima apalagi membuka amplop. Namun jiwa penasarannya sangat memaksa.


Perlahan Alana mengeluarkan isinya, berupa selembar kertas. Seketika kedua mata Alana terbelalak. “Surat penangkapan Debby Jansen? Ini serius? Lewis melakukan ini semua dengan bukti yang aku berikan? Tapi itu belum lengkap.”


“Ck, kau ini ketinggalan berita. Alana, Presdir JSN memecat seluruh pegawai yang memiliki kerja sama dengan Nyonya Debby. Dari sana banyak diketahui penggelapan dana, penyelundupan barang, pergantian kontrak dengan supplier dan banyak lagi.” Alvaro mengeluarkan ponsel membaca secara rinci tindak kejahatan yang dilakukan Debby Jansen.


“Nyonya Debby, sedang mengganti seluruh aset milik mendiang Tuan James menjadi atas namanya. Petinggi badan pertanahan pun ikut terseret kasus ini Alana. Mungkin saat ini Debby Jansen sudah ditahan oleh kepolisian.” Tukas Alvaro merasa bangga.


Usaha mereka selama hampir satu tahun mencari tahu dan mengumpulkan bukti tidak sia-sia. Lewis Jansen melakukan eksekusi sangat sempurna.


“Benarkah?” Alana melirik pintu utama IGD. Dalam pikirannya saat ini adalah Patricia. Dapat dibayangkan bagaimana perasaannya jika mengetahui Debby mendekam di balik jeruji besi.


“Ya kamu benar. Tapi saat ini Patricia sedang hamil. Aku tidak tega.” Alana menyentuh perut, mengenang kehadiran jabang bayi yang telah tiada.


**


Di sisi lain


Kepolisian berhasil meringkus Debby Jansen di kediaman Jansen. Wanita itu sempat melarikan diri, melompat dari atas dinding penghalang, sayangnya karena terlalu tinggi membuat kaki terkilir, serta patah pada tulang tangan.

__ADS_1


“Awas kau Lewis Jansen. Aku ini Tantemu. Aku satu-satunya keluargamu yang tersisa, kau tidak memiliki siapapun lagi. Kau akan menyesal. Argh…” Debby berteriak, kesal, sakit, dan takut bercampur menjadi satu.


Semua tuduhan sangat memberatkan Debby Jansen, bahkan Lewis berhasil membujuk perawat serta dokter di klinik teman Debby menjadi saksi.


Mereka bersedia buka suara, bahwa Debby pernah merencanakan hal buruk kepada Alana.


Melakukan inseminasi buatan tanpa persetujuan pemilik tubuh. Semua dilakukan di klinik kecil yang tidak memiliki izin praktik. Hal akan diungkap saat sidang pertama.


“Aku tidak bersalah.” Debby memberontak, kedua kakinya menendang jok mobil polisi.


“Patricia di mana kamu, tolong Mommy, bebaskan Mommy! Patricia anak si@lan di mana dia?” Debby Jansen mendengus sebal, menjerit, bahkan menangis.


‘Sebaiknya Anda diam Nyonya. Jika memang tidak bersalah silakan buktikan di pengadilan.’


“Kalian ini tidak tahu siapa aku? Aku Debby Jansen, adik dari James Jansen.” Tingkah Debby semakin kasar, membenturkan kepala ke depan dan belakang.


TBC


***

__ADS_1


hore akhirnya tertangkap juga 😉


__ADS_2