Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 60 Lewis Menggila


__ADS_3

“Argh … Alana.” Lewis berteriak, di bawa sinar rembulan. Seharian ini tidak kembali ke kantor, Lewis Jansen menghabiskan waktu meneguk banyak minuman alkohol di apartemen.


Liam pusing mencari keberadaan Bosnya, beberapa agenda penting terpaksa diundur karena Lewis Jansen yang sedang patah hati merusak semuanya. Efek domino begitu terasa pada JSN yang saat ini dilanda krisis pasca penangkapan Debby.


Lewis baru keluar gedung apartemen pukul sembilan malam. Penampilannya berantakan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang Presiden Direktur terhormat.


Mobil yang dikendarainya menepi di jalan sepi, gemuruh dalam dada tidak bisa dihilangkan hanya dengan meneguk minuman.


“Aku membutuhkanmu Alana. Itu semua masa lalu, tidak bisakah kita hidup di waktu ini demi masa depan? Dengan lembaran yang baru? ALANA PATTINSON AKU MENCINTAIMU.” teriak Lewis.


Pria tampan itu layaknya orang kesetanan, dia tidak tahu jika aksinya ini mendapat pandangan buruk dari orang sekitar.


Bahkan petugas keamanan pun turut menenangkan Lewis.


‘Permisi Tuan, Anda tidak boleh membuat keributan di sini. Tuan mohon ikut kami.’


“Ikut? Kalian pikir siapa? Tidak ada yang boleh memerintah ku. Aku akan pergi kalau mau. Kalian menyingkir lah!” Lewis mengeluarkan dompet tebal berisi uang tunai. Menebar lembaran berwarna merah dan biru. Seketika hujan uang di pinggir jalan.


Petugas keamanan tidak membawa Lewis ke kantor karena kedatangan Liam. Menjamin bahwa bosnya tidak akan berbuat apapun yang membahayakan orang lain.


“Saya mohon maaf. Saya janji Bos tidak merusak apapun.” Kata Liam menahan malu karena tingkah gila Lewis Jansen.


‘Sebaiknya Anda ajak pulang Bosnya. Orang mabuk sangat rawan.’


“Siap Pak, sekali lagi mohon maaf.” Liam sedikit membungkuk.

__ADS_1


Selepas petugas pergi, Liam membopong tubuh Tuannya masuk mobil. Mengikat dengan sabuk pengaman. Namun mulut Lewis masih berkicau ke sana ke mari tak menentu. Mengeluarkan segala keluh kesahnya.


“Aku harus mendapatkan Alana. Hanya dia yang aku cintai. Heh Liam bantu aku!” Lewis mencolek pipi asisten pribadi.


Sedangkan Liam hanya bisa menggelengkan kepala. Dia sendiri kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Sungguh saat ini Lewis berada di titik paling rendah.


**


Kediaman Jansen


Dibantu Liam, Lewis Jansen bisa masuk rumah dalam keadaan selamat. “Tuan Anda sudah di rumah. Saya akan menginap di sini. Memastikan Anda baik-baik saja.” Ucap Liam membuka jas, ikat pinggang, dan sepatu Bosnya. Kemudian keluar kamar.


Menelisik isi rumah, sepi. Tidak ada satupun orang berlalu lalang, semua pelayan sudah memasuki kamar dan istirahat.


“Aku kasihan. Tuan telah melewati masa-masa sulit. Sekarang harus mengalami lagi. Semoga ada kebahagiaan untuk Tuan Muda Jansen.” Liam menghela napas, merebahkan tubuh di sofa panjang, tepat sekali di depan kamar Bosnya.


Belum juga Liam terlelap. Pintu kamar terbuka, Lewis tertatih menuruni anak tangga.


“Tuan mau ke mana? Hati-hati jatuh.” Terpaksa Liam bangun dan mengikuti Lewis.


Dia tidak sendirian karena menghubungi kepala pelayan. Khawatir Lewis bertindak nekat, merugikan diri sendiri.


Kepala pelayan dan asisten pribadi mengekor di balik punggung, sigap membantu apapun.


“Ck, sebaiknya kalian melakukan hal berguna. Kau Liam pulang dan istirahat, aku tidak mau menerima surat izin sakit darimu. Untuk kepala pelayan, tidur saja. Aku ingin sendirian, tidak membutuhkan apapun.” Ujar Lewis membuka pintu kaca, mengarah ke kolam berenang.

__ADS_1


Memandangi area ini penuh penghayatan. Dia sangat ingat, pertama kali melempar tubuh Alana ke kolam berenang, sebab wanita itu sangat bawel, berisik. Suaranya membuat telinga Lewis sakit.


Sekarang, sangat merindukan sosok Alana. Rasanya ingin setiap hari mendengar pujaan hati mengomel atau marah. Lewis rela kupingnya panas asalkan Alana tetap di sampingnya, hidup bersama dan bahagia.


“Ternyata kebersamaan kita selama ini tidak ada artinya. Benarkan Alana? Aku tidak akan menyerah, aku akan mendapatkan mu.” Batin Lewis.


Membuka kemeja serta celana panjangnya, menceburkan diri ke dalam kolam berenang.


“Tuan jangan!” Liam mencegah Tuannya, tapi kepala pelayan menahan.


“Tuan membutuhkan waktu sendirian, sebaiknya kita awasi saja dari sini.” Saran kepala pelayan.


Liam pun setuju, menganggukkan kepala. Kedua pasangan mata mereka tetap setia menatap Tuannya.


“Apa ini ada kaitannya dengan Nyonya Alana?” tanya kepala pelayan.


“Benar. Nyonya Alana menolak Tuan Lewis. Hubungan mereka tidak berjalan sesuai keinginan Tuan. Ini semua karena …” Liam mengambil napas, semua juga kesalahannya yang menjalani misi menghancurkan Patt Group.


Pelan-pelan Liam menjelaskan kepada kepala pelayan, tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti. “Tuan tidak menyangka jika perusahaan pesaingnya adalah Patt Group. Tuan tidak bisa mengelak karena Nyonya Alana memiliki bukti sangat kuat.”


Liam menyayangkan bukti penting seperti itu bisa jatuh ke tangan oknum tak bertanggung jawab. Ternyata di mana-mana bertebaran pengkhianat. Naasnya lagi semua bukti di rampas Debby Jansen, dan sekarang menjadi milik Alana.


“Lalu apa yang bisa kita lakukan agar Tuan dan Nyonya Alana kembali bersama?” Kepala Pelayan menatap iba kepada Lewis yang terus saja berenang tiada henti.


Kolam berenang itu menjadi salah satu saksi bisu dimulainya kisah cinta Lewis dan Alana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2