
“Patricia apa kamu bersedia menikah denganku?” suara Pandu bergetar, berharap ibu dari putranya bersedia memberi harapan.
Namun, lagi-lagi Patricia hanya menggelengkan kepala. Terlalu gengsi menerima pernyataan Pandu, dia sungguh tak ingin kembali goyah. “Kamu pergi aja, percuma ada di sini. Jawaban aku tetap sama.” Sambung Patricia.
Dering ponsel di saku jaket Pandu mengalihkan perhatian ketiga orang, pria itu membaca nama di layar ponselnya. “Halo? Iya benar ini Pandu. Kenapa?”
Hening sejenak, perubahan raut wajah Pandu pun begitu kentara sekali, pucat dan tak bertenaga. Melambangkan bahwa dirinya baru saja menerima kabar buruk tentang sesuatu. Entah apa itu tidak ada yang tahu.
Lamat-lamat Patricia mengamati, hatinya berdenyut tak karuan. Menunggu ayah dari anaknya menjelaskan siapa dan apa yang disampaikan. Dalam kepala berputar ingatan tentang mahkluk kecil di rumah sakit.
Suara Alana mendahului, seolah mewakilkan jeritan dan keingintahuan Patricia, “Siapa Pandu? Rumah sakit?”
“Iya” jawab Pandu singkat.
“Apa yang terjadi?” kali ini Patricia menyahut, dia berhak tahu, karena anaknya di sana, berjuang, bertahan hidup.
Dilanda rasa kesal dan gundah, Pandu menanggapi pertanyaan Patricia dengan nada sinis dan ketus. Melepaskan sikap lembutnya beberapa menit lalu. “Bukan urusan kamu. Permisi, aku pergi dulu. Mari Nyonya, Tuan.”
__ADS_1
Sungguh di luar dugaan, Patricia mencelos karena sosok pria yang begitu penyabar mendadak dingin tak tersentuh, seakan roda berputar ke bawah.
Gegas Lewis mengikuti jejak anak buahnya, sedangkan Alana menangkap makna tersirat dari tatapan mantan kekasih. Dia merangkul Patricia yang diam mematung.
“Kamu mau ke rumah sakit? Bareng sama Tante. Ingat, jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan. Atau mau ke bandara?” Alana menyerah, mungkin saat ini biarkan saja mengikuti keinginan keponkanannya.
**
Di rumah sakit dua orang pria dewasa berjalan terengah-engah menuju NICU, apalagi Pandu sedari menerima telepon menjadi tak tentu arah. Maka dari itu Lewis menawarkan diri menemani, dan memberi tumpangan.
Sampai di depan ruang rawat. Hanya satu orang yang diizinkan masuk yaitu wali pasien. Lewis harus rela menunggu di luar, harap-harap cemas. Melambungkan doa setinggi langit agar keponakannya sehat.
Derai air mata sudah tak terbendung lagi membasahi pipi, biarkan saja dunia menganggapnya pria lemah dan cengeng, masa bodoh. Dia merasa ayah terburuk sepanjang masa, sebab tidak bisa melakukan apa-apa.
“Maafkan ayah, Nak.” Kata Pandu kepada bayi yang belum memiliki nama. Dia menanti dan membuka ruang, mungkin saja Patricia memiliki nama untuk anak mereka.
Masih terhalang partisi, dokter menggelengkan kepala. Satu orang perawat menyusut air mata, mulai melepas banyaknya alat-alat yang terpasang.
__ADS_1
Rintik air mata kian deras tak tahu malu. Kedua tangan Pandu meremat kaos bagian dada. Menyesakan melebihi apapun.
Akhirnya memilih keluar ruangan, lagipula hasilnya sudah diketahui bukan? Untuk apa terus di dalam. Pandu berjalan gontai, duduk tepat di samping Lewis.
“Kenapa?” sentak Lewis, melihat anak buahnya hancur berantakan.
“Anakku Tuan, dia …” tak kuasa melanjutkan kata-kata lagi menahan beban yang ada. Dalam penglihatan buram, samar-samar siluet wanita cantik berdiri di depannya.
“Dia baik-baik saja kan? Kenapa kamu di luar?” Patricia duduk mensejajarkan diri dengan Pandu, cemas akan buah hatinya.
Di rumah setelah Pandu dan Lewis melangkah ke rumah sakit. Alana menyampaikan sakit hatinya kehilangan calon anak. Dia menyayangkan sikap Patricia yang terkesan acuh tak acuh. Sebagai sesame wanita besar harapan Alana agar Patricia berubah menjadi lebih baik.
TBC
****
boleh dong minta semangatnya 🙊
__ADS_1
thor-nya lagi lesu, lemyes dan lemah 😬