Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 50 Mencari


__ADS_3

Adinda terbangun tepat pukul satu malam, dia kecewa karena calon suami pergi tanpa pamit. Adinda tersenyum kecut keluar dari rumah sakit. Tapi dia dibuat kebingungan sebab mobil tunangannya itu masih terparkir di sana tidak berubah.


“Apa Lewis masih di rumah sakit? Di mana dia? Kalau pindah ruangan seharusnya aku tahu. Tapi kenapa?” Adinda tidak mau menyerah, perjuangan baru saja dimulai. Dia bertanya pada petugas keamanan di sana.


Terkejut karena menerima kabar bahwa calon ibu mertuanya, Presiden Direktur JSN Group mengalami kecelakaan. Adinda yang memang sangat ingin mencari perhatian dari orang terdekat Lewis, bergegas ke kamar Alana.


Betapa terkejutnya Adinda, mengintip dari celah pintu. Lewis dan Alana berciuman. Tidak ada interaksi antara ibu dan anak. Tampak jelas bahwa keduanya saling mencintai.


Tidak hanya itu, Adinda tertampar kenyataan setelah mendapat informasi bahwa Nyonya Besar Jansen keguguran. “Apa itu anaknya Lewis? Kalau dilihat dari hubungan mereka sepertinya benar. Apa wanita itu Alana? Lewis pacaran dengan Ibu sambungnya? Mereka tidur bersama dan sekarang kehilangan bayinya?” lirih Adinda.


Perempuan itu menepuk dada, sakit sekali, bagai terlempar oleh batu besar tepat di wajah. Walaupun ini baru asumsi saja, tetapi Adinda tidak bodoh. Tatapan yang diberikan Lewis kepada Alana sebagai seorang pria terhadap wanita.


“Apa aku sanggup menghadapinya?” Adinda meratapi cintanya, sudah layu sebelum tumbuh dan berkembang.


Dia pun pergi dari rumah sakit, tidak tahan melihat kedekatan sepasang kekasih itu. Bertekad membatalkan pertunangannya dengan Lewis. Memilih mengalah sebelum hatinya terluka lebih dalam.


.


.


Lewis menemani Alana semalaman di rumah sakit. Tidak beranjak sedikitpun, tidak tidur sampai mentari menyapa. Khawatir kekasihnya ini memerlukan sesuatu. Lewis siaga membantu Alana


Ketika wanitanya bergerak atau melenguh pasti tubuh kekarnya sudah siap.


Pukul tujuh pagi ini Lewis Jansen masih nyaman tidur dalam posisi membungkuk. Tidak terusik akan aktivitas Alana, padahal dalam ruangan Alvaro baru saja datang.


“Kamu yakin melakukan ini Alana? Tidak akan menyesal?” tanya Alvaro. Turut bersedih karena sahabatnya patah hati.


“Hu’um. Aku rasa memang tidak seharusnya kami bersama. Lagipula dalam waktu enam bulan lagi Lewis akan menikahi Adinda. Biar saja aku hidup sebagai janda mati Tuan James. Terima kasih ya Varo sudah mau menjemputku.” Alana mengulas senyum tipis.


“Aku memiliki sesuatu untuk kamu berikan kepada Liam, dan tolong pastikan semua itu jatuh ke tangan Lewis. Aku punya beberapa bukti kejahatan Tante Debby. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di rumah Jansen.” Alana merapikan penampilannya.

__ADS_1


Sangat cantik seperti biasa, wanita ini mencoba melupakan kejadian menyakitkan yang menimpanya. Mereka segera turun ke lantai satu. Sempat melirik bangsal operasi, Alana menyentuh perut ratanya.


“Maafkan aku. Aku memang bukan ibu yang baik. Aku tidak menyadari kehadiranmu.” Lirihnya dalam hati.


“Al. Alana? Kamu melamun? Ayo pergi, kedua adikmu menunggu di rumah.” Alvaro menyenggol pelan bahu Alana sembari tersenyum hangat.


Alvaro rela keluar dari pekerjaannya sebagai asisten pribadi, dia memilih mengikuti sahabatnya. Bersama-sama menjalani Patt Group, bersyukurlah Alvaro karena calon istri menyetujui semua keputusan.


“Kamu harus berjanji kepadaku Alana. Bahwa hari ini terakhir kamu bersedih dan menangis. Besok adalah lembaran hidup baru. Aku sudah mengurusnya , ini.” Alvaro menyerahkan berkas identitas Alana.


Alana memandangi surat janda. “Terima kasih Varo. Kamu memang sahabat yang baik. Maaf ya sekarang aku adalah Presdir yang miskin.” Gurau Alana.


Meninggalkan segala kemewahan yang diberikan oleh mendiang James Jansen. Baik itu uang tabungan, perhiasan, pakaian, kendaraan dan segala strategi bisnis. Alana akan memulainya benar-benar dari nol.


Alvaro menoleh ke samping, menyunggingkan senyum, “Semangat Alana, kau pasti bisa. Aku pasti mendukungmu.” Tukas Alvaro.


**


Sementara di rumah sakit. Lewis mengamuk karena Alana pergi tanpa memberi kabar. Wanitanya sengaja pergi.


“Tuan. Sepertinya ini memang sudah direncanakan. Pagi tadi Alvaro mengirim surat pengunduran dirinya beserta Nyonya Alana. Mereka kompak mundur dari manajemen JSN. Pengacara sudah mengetahui, besok adalah pengumuman resmi Anda di depan jajaran direksi dan publik.” Liam membaca laporan.


Seharusnya Lewis senang karena berhasil menyingkirkan Alana, tapi hatinya tercubit dan gelisah. Dia lebih rela jabatan itu dipegang Alana, daripada seperti ini.


“Ck, cari Alana sampai ketemu. Aku tidak mau tahu, sekarang! Hey kau.” Tunjuk Lewis ke Pandu, sorot mata biru sangat menakutkan.


“I-iya Tuan.” Pandu menunduk takut.


“Gunakan balas budimu sekarang, temukan Alana. Cepat!” perintah Lewis, suaranya menggelegar di dalam ruangan.


“Di-dimengerti Tuan Muda Jansen.”

__ADS_1


Anak buah Lewis berhamburan keluar, takut terkena imbas dari suasana hati Bos yang tengah kalut.


Tidak berpangku tangan. Lewis mengendarai mobil. Menuju apartemen, dia yakin kekasih hatinya pasti sedang merapikan pakaian atau berkas-berkas. Namun dewa keberuntungan tidak berpihak, apartemen kosong dan sepi.


Lewis pulang ke rumahnya, berteriak mencari Alana. Rumah luas ini tidak luput dari kekesalannya, semua pelayan mendapat perintah untuk mencari keberadaan Alana Pattinson.


“Kalian jangan berusaha menyembunyikannya. Aku pecat jika salah satu dari kalian merahasiakan sesuatu.” Tegas Lewis menggebrak meja. Hingga benda di atasnya bergetar, bergeser dan jatuh.


‘Siap Tuan Muda’


Pelayan berjalan kesana kemari mencari Nyonya mereka.


Lewis melangkahkan kaki menaiki anak tangga, tujuan utama sudah pasti kamar rahasia James Jansen. “Aku yakin kamu di sana, aku tahu Alana.”


Belum juga tiba di lantai dua, Lewis terperangah lantaran Patricia berlari cepat menubruknya. Perempuan itu membekap mulut. Menahan sesuatu di dalamnya.


“Ck kenapa anak itu? Sakit?” kesal Lewis mengibas kemeja yang terkena Patricia.


Mata biru Lewis mengamati gerak gerik Patricia, belum sempat membuka pintu kamar. Patricia muntah di lantai.


Sontak Lewi Jansen merasa jijik dan membentak adik sepupunya itu. “Kau jorok Patricia. Rumahku bau, kau pikir tidak ada kamar mandi, hah? Otakmu bodoh, kau memang biang masalah.” Hardik Lewis tiada ampun.


Patricia menangis histeris bahkan entah keberanian dari mana, melempar kakak sepupunya dengan vas bunga.


Sebelumnya selalu bersikap lembut dan berusaha menggoda Lewis.


“Tutup mulutmu kak, tidak tahu apa yang aku rasakan, sebaiknya diam.” Balas Patricia, lalu memanggil pelayan untuk membersihkan muntahan pada lantai.


“Argh … kau membuang waktuku yang sangat berharga. Menyingkir lah.” Imbuh Lewis.


“Kakak mencari Tante Alana? Dia tidak ada di rumah ini. Kalau aku jadi dirinya sudah pasti melakukan hal yang sama, tidak mau melihat pria yang sudah menyakiti hati.” Telak Patricia membuat Lewis Jansen bungkam tak berkutik.

__ADS_1


“Aku akan menghilang ditelan bumi, menghapus semua kenangan. Begitulah wanita, makanya kakak jangan sewenang-wenang. Paham.” Tukas Patricia Jansen.


TBC


__ADS_2