
Puas mengungkapkan isi kepala, Patricia Jansen meninggalkan Lewis yang diam tak bersuara. Wanita itu memuntahkan kembali isi perutnya. Patricia memang lebih tenang, tapi dia tidak terima jika dirinya hamil tanpa suami.
Bahkan Patricia tidak ingat siapa ayah dari bayinya, dia selalu berpikir bahwa dirinya menjual diri.
“Aku bukan seorang wanita murahan, aku ini keturunan Jansen mana mungkin tidur dengan sembarang pria.” Pikir Patricia.
Dirasa perutnya tidak lagi bergejolak daro dalam, dia duduk di atas lantai. Mencari informasi sesuatu. Pikirannya saat ini sangat gelap, “Aku masih muda, anak ini hanya jadi penghalang. Mommy jangan sampai tahu kalau aku hamil.”
Tangannya terus menari di layar ponsel, hingga menemukan hal yang diinginkan. Saat ini juga Patricia segera mendaftarkan diri. Menekan nomor telepon yang telah disimpan.
“Ha-halo … apa bisa daftar melalui telepon?”
‘Bisa. Silakan daftarkan diri anda Nona. Kirim data lengkap melalui pesan.’
Tak buang waktu Patricia segera mengirim data diri tentu saja memalsukan namanya, dia takut semua tersebar. Apalagi media mengetahui, bisa hancur nama baiknya.
Wanita ini juga keluar rumah tanpa memberitahu siapa pun. Patricia keluar pagar tinggi kediaman Jansen sembari menangis.
Gerak geriknya menjadi perhatian Pandu yang tengah mengamati dari jauh. Dia selalu menanti waktu yang pas untuk bertemu Patricia.
“Mau ke mana dia?” tanya Pandu, mengernyitkan dahi. Semakin diamati, Patricia sedikit gugup ketika masuk ke taksi online.
Diam-diam Pandu mengikuti sepupu Bosnya hingga ke jalan sepi yang cukup jarang dilalui banyak orang. Dari situ Patricia jalan kaki cukup jauh, melewati jalan sempit.
Pandu tetap setia mengekor karena merasakan ada sesuatu yang salah. Hingga tiba di ujung persimpangan sebuah klinik kecil tanpa nama begitu ramai oleh pasangan muda mudi.
Pandu terus kebingungan, untuk apa Nona Muda Jansen mengunjungi tempat di pedalaman. Padahal dia bisa mendapatkan fasilitas kesehatan lengkap dengan kualitas nomor satu.
Seketika Pandu tersadar, melihat seorang wanita yang menangis sembari memegang perut, dipapah oleh lelaki yang sangat muda.
“Patricia hamil?” tenggorokan Pandu tercekat. “Nona mengandung anakku?” hati Pandu antara senang dan sedih. Kehadiran buah hati yang tidak terduga.
Merasakan sesak napas, Pandu langsung berlari ke dalam klinik. Bertanya mengenai Patricia dan sayangnya tidak ada nama itu terdaftar sebagai pasien.
“Aku yakin Patricia masuk ke sini. Apa mungkin … mengantar temannya?” gumam Pandu kehilangan arah.
“Kalau begitu, boleh menumpang ke toilet?” izin Pandu, berharap di dalam sana menemukan wanita yang telah dia nodai.
‘Silakan Tuan, lurus saja nanti sampai di lorong kecil.’
__ADS_1
Pandu mengangguk, langkahnya tidak lurus melainkan belok ke kanan. Di mana terlihat perempuan berjejer rapi mengantri. Tapi tak satupun menemukan Patricia.
Pandu gelisah menatap wajah putus asa setiap orang, hatinya berdenyut nyeri jika memang Patricia mengandung anaknya, dia siap tanggung jawab dan membesarkan anak itu. Tidak dengan melenyapkannya seperti ini.
Ketika Pandu sedang melihat-melihat, seorang perawat keluar dari ruangan di ujung sana, diyakini sebagai tempat melenyapkan nyawa mahkluk yang tidak berdosa.
‘Sudah di suntik obat dok, tinggal menunggu reaksinya. Pasien sangat tegang.’
Kata-kata perawat itu membawa Pandu mendekat dan memaksa masuk ke dalam, hingga dia melihat sendiri Patricia merintih kesakitan di atas ranjang kecil lengkap dengan alat-alat menyeramkan.
“Berhenti, jangan lakukan ini. Saya ayah dari bayi itu. Patricia, ayo kita pulang.” Pandu membantu Nona Mudanya bangun, tapi tidak semudah itu karena Patricia memberontak dan preman penjaga klinik datang memukuli Pandu.
BUGH
BUGH
“Lepas. Kalian semua orang jahat.” Teriak Pandu membalas pukulannya kepada dua preman. Tubuhnya yang sudah babak belur pun tetap kuat menggendong Patricia.
“Nona bertahanlah, saya akan membawa Anda ke rumah sakit.” Pandu tertatih setiap melangkah.
**
Dokter berusaha menghentikan pendarahan yang dialami Patricia, sementara di IGD wajah memar Pandu diobati oleh tenaga medis, tatapan Pandu kosong memikirkan keadaan Patricia.
“Semoga Nona baik-baik saja.” Lirihnya dalam hati.
“Sus. Boleh saya tanya keadaan pasien tadi?” Pandu harap-harap cemas. Saat ini seisi rumah sakit sudah mengetahui bahwa Patricia Jansen hamil di luar nikah.
‘Oh Nona Patricia mengalami pendarahan, dari hasil USG keadaan bayinya tetap kuat. Mohon beritahu Nyonya Debby selaku orangtua Nona.’
Perawat itu pun pamit setelah berhasil mengobati Pandu.
Cukup lama Pandu terdiam di bangsa IGD sekitar 15 menit dihabiskan melamun. Akhirnya diputuskan menjenguk Patricia, bagaimanapun di dalam sana terdapat anaknya yang sedang berjuang.
Pandu tidak peduli walaupun Nyonya Debby Jansen mengusir atau mencaci makinya, dia akan mempertahankan anaknya agar tetap hidup.
Tepat sekali, Debby datang bersamaan dengan Pandu yang baru menghentikan langkahnya di depan ruang tindakan.
PLAK
__ADS_1
“Dasar manusia tidak tahu diri. Apa lagi yang kamu perbuat kepada anakku, hah? Tidak tahu terima kasih.” Bentak Debby.
Tidak puas hanya menampar, ibu satu anak ini mendorong kuat Pandu, sampai-sampai badannya yang telah sakit bertambah ngilu akibat membentur dinding.
“Saya akan menikahi Nona Patricia.” Tegas Pandu menatap kedua mata Debby Jansen.
“Untuk apa? Anakku tidak hamil.” Sanggah Debby, berusaha menghapus kenyataan bahwa dirinya akan segera menjadi seorang nenek.
Pandu tersenyum miris mendengar ungkapan Debby, mana mungkin sekelas Direktur Operasional tidak menyadari bahwa putri tunggalnya sedang mengandung. Padahal Debby membayar mata-mata untuk mengawasi Patricia pasca kejadian panas itu.
“Saya yakin Anda tahu Nyonya. Saya akan bertanggung jawab, menjadi suami yang baik dan ayah teladan bagi anak kami.” Pandu tidak gentar sama sekali.
HAHAHA
“Suami yang baik? Ayah teladan? Dengar ya kamu sopir miskin.” Debby Jansen menunjuk Pandu, sorot matanya pun tajam.
“Uang gaji kamu tidak sanggup untuk membayar biaya kuliah putriku, hidup tidak hanya terfokus pada tanggung jawab. Ayah? Kamu tidak akan pernah melihat anakmu lahir. Aku jijik memiliki cucu dari orang miskin.” Debby akan melakukan apapun untuk melenyapkan calon cucunya.
“Anda sama sekali tidak memiliki hati Nyonya. Anak itu juga darah daging Anda.” Pandu yang kehilangan kendali atas diri hampir memukul wajah Debby.
Namun pengawal Debby Jansen berdatangan, menahan Pandu dan membawa paksa pria itu keluar dari rumah sakit.
Menghempaskan tubuh Pandu di area parkir.
“Kalian? Kita ini teman. Jangan lakukan ini, kita itu teman.” Teriak Pandu tidak terima diperlakukan kasar oleh rekan kerjanya sendiri.
‘Kita memang teman Pandu, tapi masalah pekerjaan lain lagi. Tolong lindungi dirimu sendiri, menjauh lah dari Nona kami.’
Niat baiknya sama sekali tidak berharga, dipandang sebelah mata.
Seketika teringat, satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah Alana Pattinson, wanita itu pasti akan membantu Pandu.
TBC
***
semangat Pandu 💪
“Nyonya Alana.” Gumam Pandu.
__ADS_1