
Pandu mendongak menatap wajah Patricia yang dipenuhi keringat, kecemasan tampak jelas dan tak tertutupi. “Dia…” tunjuk Patricia lagi ke arah ruangan NICU. “Baik-baik saja kan? Katakan Pandu! Kamu punya mulut, kenapa diam? Fungsinya untuk apa kalau diam saja?”
Entahlah, lidahnya kebas, tidak bergerak sama sekali atau menunjukkan jawaban atas luka terdalam dari apa yang dilihatnya beberapa menit lalu. Sungguh bukan keadaan yang diharapkan. Bibir Pandu terkunci rapat, menempel satu sama lain, tiada celah diantaranya.
“Ish, kamu gemana sih? Tidak berguna.” Bentak Patricia tidak peduli lagi di lorong rumah sakit, menarik perhatian orang sekitar, berbisik-bisik mencemoohnya karena tidak tahu aturan, pokoknya masa bodoh.
“Tuan?”
Semua atensi teralihkan kepada perawat, menyembulkan kepala dari balik pintu kaca, binar kelegaan seketika muncul.
“Tuan, bayi Anda.” Ulangnya.
Tapi pria yang terlanjur patah hati tak berselera menyahuti apalagi menatap wajah suster, tidak mampu masuk ke dalam kamar perawatan. Untuk apa? Mengurusi jenazah bayinya? Bisa kah minta bantuan orang lain? Pasti bisa.
Sementara ibu muda menghentak kaki di depan Pandu, sebal lantaran tak ada pergerakan apapun untuk menanggapi panggilan perawat.
“Sa-saya ib … wa-walinya juga.” Teriak Patricia dengan kedua kaki segera melangkah maju terburu-buru. Dadanya berdebar tak beraturan karena pertama kali memasuki ruangan steril dengan banyak ruang dan peralatan khusus.
“Maaf.” Lirihnya dalam hati, menyadari kebodohan dan memuja keegoisan diri.
Tubuh lemah dalam kotak kaca bersinar itu, membuka mata pelan-pelan. Seakan penglihatannya sudah jelas, dia tahu bahwa ibunya, wanita yang sudah melahirkannya, jantung hatinya datang menjenguk.
__ADS_1
Dokter dan para perawat mulai melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sebab kondisi membaik pada layar indikator, menunjukan bahwa bayi ini memiliki semangat tinggi.
Patricia menangis sesenggukan, tangannya melekat pada partisi. Menatap wajah mungil yang lebih kecil daripada bayi seusianya. “Kamu harus kuat. M-mo-mommy di sini untuk kamu. Mulai sekarang kita bersama ya.”
Tubuh Patricia bergetar hebat menangisi anaknya di dalam sana. Ia memang bukan ibu yang baik, mengabaikan buah hati, bahkan sejak diketahui keberadaannya dalam rahim. Merasa bersalah, dahulu pernah berusaha melenyapkan kehadiran satu nyawa demi menutupi aib diri.
Mungkin jika itu dilakukan, kemarin. Sekarang dan di masa mendatang pasti menyesal berkepanjangan.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai semua dari nol, iya kan?
Dokter pun keluar dari bangsal, turut senang karena sumber penyemangat mahkluk kecil telah datang. Kemudian memberikan penjelasan kondisi terbaru dan langkah apa aja yang akan dilakukan ke depan untuk mempercepat pemulihan.
Usai mengetahui serta memastikan semua baik-baik saja. Patricia keluar dari ruangan, disambut Alana dan Lewis yang nampak kompak seperti pasangan, tapi tidak dengan Pandu.
Tanpa sadar Lewis mengekspresikan rasa senangnya, merangkul bahu Alana, membawanya ke pelukan. Momen merindukan mendekap erat mantan kekasih yang masih menetap di dalam hati.
“Ma-maaf.” Gugup Lewis, sebab mendapat dorongan dari tangan Alana, intervensi untuk menjauh dan tidak menyentuh
Seketika Pandu menghampiri, membelah sepasang mantan di depannya. “Anak kita baik-baik saja? Kamu tidak bohong kan?”
Patricia mengangguk cepat, ia menghambur memeluk Pandu, menularkan kebahagiaan. Wanita ini pun berjinjit seraya berbisik. “Aku mau. Aku mau nikah sama kamu, hidup bertiga. Maaf terlambat.”
__ADS_1
Sontak Pandu terdiam, terkejut dengan jawaban yang sangat dinantikan sejak berbulan silam. “Kamu serius? Kita nikah secepatnya.”
**
Dua minggu setelahnya Patricia dan Pandu meresmikan komitmen mereka, tercatat secara sah. Kini keduanya setiap hari mengunjungi Baby P. Kompak memberi dukungan sebagai orangtua.
Patricia tidak lagi merasa malu memiliki suami seorang Pandu, toh lelaki itu juga pekerja keras. Meskipun sekarang masih mengontrak rumah, tidak apa selama layak huni.
Mencoba menerima keadaan dan memperbaiki kesalahan, itulah yang dilakukan Patricia. Seandainya dia menghindar dengan pergi ke Singapore dapat dipastikan mengundang masalah baru yang lebih kompleks.
Sekarang tujuannya hanya satu, hidup lurus, menjadi ibu yang baik dan istri sempurna bagi Pandu. Bukan pecundang melarikan diri.
Sedangkan Alana dan Lewis masing-masing menemukan jalan hidupnya. Lewis didesak memiliki keturunan oleh para tetua, tapi tidak ambil pusing karena cintanya hanya untuk Alana.
Sama halnya dengan Alana memilih berstatus janda hingga akhir hayat.
_Tamat_
Terima kasih untuk kakak semua atas dukungannya 🙏
__ADS_1
Terima kasih kakak editor atas bimbingannya 🙏
Sampai jumpa di novel ku yang lain 🙏