Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 37 Seharusnya Aku


__ADS_3

Apartemen Lewis Jansen


Lewis memijat pangkal hidungnya , sebab sudah satu jam Alana tidak menerima telepon, sangat merindu, hatinya gelisah.


Dia juga tidak pulang ke rumah, semua demi meyakinkan bahwa rencana gila tantenya berjalan mulus.


“Ke mana kamu Al?” rasanya sangat aneh, dari sore Alana menghilang. Tidak mungkin masih di kantor, sebab malam semakin larut serta dingin.


Hati Lewis semakin gundah gulana lantaran kepala pelayanan di kediaman Jansen tidak bisa dihubungi. Mendadak semua orang menghilang termasuk Alvaro. Asisten Pribadi Presiden Direktur yang sangat Lewis benci.


Masih setia terjaga hingga dini hari, Lewis yang tak tenang terpaksa pulang ke rumah. Dia melirik mobil Alana belum ada di garasi, kemudian bergegas ke kamar, kosong. Hanya ada kursi roda James di dalamnya.


“Tidak biasanya Alana seperti ini.” Gumam Lewis. Lantas menghubungi Liam, mengganggu waktu istirahat asisten pribadinya.


“Liam? Cari tahu keberadaan ibu tiriku. Dia belum pulang. Dapatkan semua informasinya dalam 15 menit.” Perintah Lewis di pukul satu dini hari.


Rasa lelah melanda raga, Lewis memilih merebahkan diri di kamarnya, dia terus menanti kabar dari Liam sembari memandangi wajah cantik Alana sebagai latar ponsel.


Lima belas menit kemudian Lewis membuka pesan yang dikirim oleh Liam, matanya terbuka lebar. Tanpa basa basi segera menyambar jaket dan kunci mobil.


Menuju kediaman Pattinson.


“Kenapa dia tidak memberitahu. Hal seperti ini sangat penting. Argh Alana maafkan aku terlambat.” Geram Lewis menjadi pria bodoh yang tidak mengetahui apapun tentang wanitanya.


**


Tiba di kediaman Pattinson, rumah ini tampak suram sebab sang pemilik meninggal dunia. Tuan Pattinson menghembuskan napas terakhirnya siang tadi, sudah dikebumikan sore hari. Dan Lewis meninggalkan momen penting, sebab dia sangat sibuk di perusahaan periklanan.


Parahnya lagi tidak ada satupun yang memberinya kabar, termasuk Alana.


Lewis masuk ke dalam rumah tingkat dua itu, matanya melotot melihat pujaan hati berada di pelukan Ayahnya, iya James Jansen.  Pria sepuh itu memaksa keluar rumah sakit demi menghadiri pemakaman mertua.


Tangan Lewis terkepal, Alana menangis di dada pria lain, bukan dirinya. Kaki semakin berat melangkah, tidak kuasa menyaksikan kedekatan suami istri di depannya.


Ehem


Seketika James menoleh tapi tidak dengan Alana.

__ADS_1


“ Kau datang Lew? Kakekmu meninggal dunia. Kau pasti baru tahu, maaf … aku lupa mengabari.” Suara James begitu lemah dan tersendat.


“Ck kakek? Mendiang Tuan Pattinson lebih cocok menjadi mertua ku.” Batin Lewis, padahal dia ingin sekali menikah dengan Alana di hadapan Tuan Pattinson.


Mendengar nama kekasih hati disebut. Alana pun melepaskan pelukannya, mata sembab menatap Lewis penuh luka.


Sia-sia sudah usahanya selama ini bertahan di Keluarga Jansen. Ketika sesuatu yang diperjuangkan akhirnya menyerah.


Tatapan Alana menyiratkan sekali bahwa ia membutuhkan Lewis yang datang lebih cepat dan merangkulnya, memberi kenyamanan serta kekuatan.


“Alana.” Lirih Lewis dalam hati.


“Lewis.” Batin Alana.


Keduanya terdiam cukup lama, hanya saling pandang.


Jujur, hati Lewis sakit. Sakit sekali, dia tidak bisa melakukan apa yang seharusnya diinginkan.


Lihat saja sekeliling, banyak tamu. Dia juga tidak mungkin mengungkap hubungannya secepat ini, di saat Alana masih berstatus sebagai ibu sambung.


Sekali lagi, hantaman batu terlempar ke wajahnya. Panas, terluka, perih dan tak berdaya. James menyeka bulir bening itu dari pipi Alana.


“Sudah Alana, kau jangan menangis terus, masa depanmu masih panjang. Ada dua adik yang harus kau jaga dan lindungi.” Imbuh James menangkup pipi Alana, memberi kekuatan. Kemudian memeluk istrinya.


James berbisik pelan, “Anggaplah aku sebagai Ayahmu. Aku pun begitu Alana, bagiku, kau adalah putriku, adiknya Lewis. Jangan sungkan bila membutuhkan bantuan.” Kata-kata James sama sekali tidak menenangkan.


“Iya Tuan. Terima kasih.” Cicit Alana.


Ekor mata melirik Lewis yang hanya diam berdiri, sungguh Alana ingin memeluk pria itu. Menumpahkan segala kepedihan dan rasa sakitnya.


“Aku turut berduka cita.” Ucap Putra James Jansen begitu kaku. “Daddy, apa kondisimu baik? Keluar rumah sakit.” Lewis penasaran bagaimana pria tua ini bisa dengan mudah keluar tanpa pengawasan dokter.


“Ah kau ingin aku di rumah sakit sementara istriku dalam keadaan berduka? Kondisiku sudah cukup baik, besok pun bisa pulang.” Jawaban James yang tak ingin didengar oleh Lewis. Tapi dalam lubuk hati, dia senang dan bahagia sebab James kembali sehat walau tidak sepenuhnya.


“Sebaiknya kau istirahat Dad, pulihkan tenaga mu.” Ide Lewis secara tidak langsung mengusir Ayahnya untuk menjauhi Alana.


“Ah iya kau benar, Alana mari kita istirahat sebentar. Tubuhmu juga perlu tidur, jangan sakit.” James mengulas senyum.

__ADS_1


Alana manggut-manggut, patuh. Mendorong kursi roda dengan penyangga infus di sisinya. Sepasang suami istri itu memasuki kamar Alana.


“WHAT? Maksudku dia yang istirahat dan pergi, bukan wanitaku. Alana …” Lewis kesal sendiri.


Dia menerima tamu hingga pukul lima pagi, menjadi tuan rumah yang baik. Tidak bisa membuat onar, pasti wanitanya kecewa.


Demi Alana, kali ini kesabaran Lewis cukup luas meskipun selalu menatap ke arah lantai dua.


**


Hotel


Patricia terbangun dalam keadaan tubuh yang remuk akibat permainannya semalaman bersama seorang sopir. Dia hanya bisa menangis dan pasrah, tidak bisa melawan.


“Ini semua karena Mommy. Aku bukan tidur dengan Lewis, tapi pria kampung dan murahan. Argh … aku benci. Dunia ini tidak adil.” Patricia menjerit, suara cemprengnya memenuhi kamar hingga pemuda yang terlelap di sampingnya membuka mata.


“Nona?” terlonjak kaget. Pria bernama Pandu itu melihat sekitar, dia menelan ludah kasar. Apalagi penampilannya t-3l-4-nj@-9, hanya ditutupi selimut tebal berwarna putih.


“Kau br3n9-s-3k, kau s1@-l4n. Pebuatanmu ini akan ku adukan kepada Mommy. Ku pastikan hidupmu menderita sopir miskin rendahan.” Segala caci maki keluar dari bibir Patricia.


Sekarang pun dirinya tidak bisa bangun. Tenaga Pandu menggagahinya semalam membuat kewalahan, ditambah hal ini pertama kali. Sakit pada bagian inti tubuh gadis yang kehilangan mahkotanya.


“M-maaf Nona. Saya …” belum selesai Pandu mengucapkan kalimat. Tangan Patricia lebih dulu menyambar pipi.


PLAK


“Menjauh dariku, dan jangan datang lagi ke rumah, pergilah yang jauh!” Patricia mengacak rambut, hidupnya hancur akibat ulah ibunya sendiri. Seharusnya dia tidak patuh pada rencana busuk Debby, lebih baik menggoda Lewis dengan cara sendiri.


Pandu memegangi pipi yang panas. Mana mungkin meniggalkan sepupu Bosnya. Bagaimana bila benih yang dia tanam tumbuh dan berkembang?


Pandu menuruti semua perintah Debby, karena dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatan adiknya. Mana mungkin menolak, gajinya sebagai sopir hanya cukup untuk kebutuhan harian serta biaya kontrak rumah.


“Saya tidak bisa.” Jawab Pandu cukup tegas, meskipun dia takut, sudah pasti Debby Jansen tak akan tinggal diam.


TBC


***

__ADS_1


like dan komentarnya ditunggu kaka 😎🙏


__ADS_2