Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 64 Belanja


__ADS_3

Lewis dan Pandu kompak membuntuti dua wanita yang sukses membuat hatinya terbelah dua. Dari dalam mobil masing-masing, selalu memerhatikan Alana dan Patricia.


Lewis Jansen menelan ludah dengan kasar, dia tidak menyangka Alana bisa hidup baik-baik saja tanpa kehadirannya. Lihat, pujaan hatinya itu masih sanggup tertawa, bahkan penampilan Alana sangat segar sesuai usianya yang masih muda.


Seandainya Lewis tahu, bahwa Alana sama menderitanya. Alana bukanlah wanita dengan mudah mempertontonkan kesedihan, lebih baik merenung dan menangis bersama sepinya malam.


Dari dalam mobil, Lewis membuka kaca, mengeluarkan kamera, memotret kegiatan Alana. Dia harus tahu apa saja kegiatan wanitanya setiap hari.


Drt … drt tiba-tiba saja ponselnya bergetar, panggilan suara dari Liam.


“Tuan, Anda di mana? Tidak boleh kabur lagi Tuan. Rapat di mulai 15 menit. Saya mohon sekali ini hadir.”


Suara Liam dari balik telepon sangat mengiba. Asisten pribadi itu sudah kelelahan mengasuh Bosnya. Untung saja gaji Liam sangat besar, dia rela menjadi alarm berjalan bagi Lewis.


“Ck, mengganggu saja kau Liam. Tutup mulutmu, aku tiba 10 menit lagi.” Jawab Lewis mengakhiri telepon.


“Alana, aku harus ke kantor. Semoga harimu menyenangkan. Aku tetap mencintaimu Alana Pattinson.” Pamit Lewis, seakan Alana bisa mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya.


Di rumah sakit


Alana setia mendampingi Patricia menunggu dokter, mereka berdua tertawa dan saling melempar candaan satu sama lain.


“Aku harap bisa melihat Tante menikah. Aku ingin sekali memiliki Om. Pasti dia menjadi pria beruntung.” Patricia sangat senang bila pria itu adalah Lewis Jansen.


“Kamu itu masih kecil. Sebaiknya kamu yang menikah! Umm … apa Pandu tidak pernah datang lagi? Kalian benar-benar kehilangan komunikasi?” Alana merasa prihatin kepada Patricia.

__ADS_1


Padahal beberapa bulan yang lalu, Pandu berjanji membahagiakan Patricia serta anaknya, tapi sekarang menghilang tak ada kabar sekalipun.


“Ya, terakhir kali dia mengantar aku ke rumah sakit. Besoknya tidak ada lagi. Mungkin dia sudah menikah, Tante. Biar saja lah. Aku ingin hidup damai, lagipula setelah anak ini lahir aku akan menyerahkannya ke Pandu.” Tukas Patricia.


“Kamu yakin bisa hidup tanpa bertemu anak ini? Sudah dipertimbangkan dengan matang?” tanya Alana memastikan. Sesungguhnya dia ingin sekali mengadopsi anak Patricia, namun ditolak mentah-mentah.


Patricia menganggukkan kepalanya. Dia yakin 100% meninggalkan bayinya. “Dia akan menjadi anak yang baik dalam pengasuhan Pandu. Aku juga tidak menelantarkannya, Kak Lewis berjanji membayar saham milikku.”


“Dan … hasilnya aku berikan semua untuk anak ini, Tante. Bagaimanapun dia harus hidup layak.” Kata Patricia.


Alana mengangguk paham, sama seperti dirinya yang tidak akan pernah bersatu dengan Lewis. Terkadang ada hidup berbeda yang pilih, bukan berarti jahat atau melepas tanggung jawab. Tetapi atas konsekuensi dari jalan yang ditempuh sebelumnya.


‘Nyonya Patricia.’ Panggil perawat.


Alana tertawa sekaligus kagum mendengar detak jantung bayi, pergerakan bayi yang cukup aktif. Lebih bahagia lagi karena ibu dan bayinya sehat.


Selesai pemeriksaan rutin, Alana dan Patricia mengunjungi salah satu baby shop, tidak jauh dari rumah sakit. Mereka pun berjalan kaki, sembari membeli minuman dingin di pinggir jalan.


“Es kelapanya segar ya. Kamu mau beli cemilan apa?” tanya Alana, karena Patricia begtu lahap menyantap kue cubit.


“Aku mau bakso goreng, kelihatannya enak.” Air liur ibu hamil menetes melihat renyahnya jajanan itu.


“Ok, kamu tunggu di sini. Tante saja yang beli, jalannya susah.” Imbuh Alana, turun dari trotoar, membeli makanan yang dimaksud Patricia.


Mendapatkan dua bungkus bakso goreng, Alana bergegas menghampiri keponakannya. Kembali berjalan memasuki toko.

__ADS_1


Alana dan Patricia yang minim pengalaman, berbelanja kebutuhan bayi sesuai rekomendasi pramuniaga. Beberapa pakaian bayi dan mainan lucu.


“Tempat tidur bayi ini lucu, kamu mau beli juga? Tante yang bayar, anggap saja hadiah untuk keponakan.” Alana menyentuh empuk dan lembutnya ranjang bayi berwarna pink ini.


Dia tersenyum, mengingat bakal janinnya yang sudah pergi. “Kalau saja kamu masih ada, kita akan bahagia sayang.”


“Tante? Bantu aku simpan ini di kasir.” Teriak Patricia kesusahan membawa banyaknya pakaian bayi.


“Oh ya tentu.” Alana tersadar dari lamunan singkatnya. Membantu Patricia mengantre di kasir.


Satu per satu barang dipindai barcode, lalu masuk ke dalam goodie bag. Pramuniaga tidak menyebutkan total belanja, mereka hanya mengatakan, ‘Terima kasih atas kunjungannya. Semoga Nyonya melahirkan dengan lancar dan selamat.’


“Ta-tapi aku belum membayar.” Patricia sangat bingung. Bagaimana bisa mereka keluar dari baby shop dengan belanjaan sebanyak ini tanpa membayarnya.


‘Oh suami Nyonya yang membayarnya. Sangat romantis ya, bahkan masih ada kembaliannya. Beliau memberikan banyak uang cash.’


Otak Patricia dan Alana langsung kompak berpikir bahwa Pandu lah orangnya.


“Maaf, tapi –“ Mulut Patricia bungkam karena Alana memberi bahasa isyarat.


Alana membawa Patricia keluar toko, dua wanita ini masih diam tak bersuara, sampai di dalam mobil. Alana mulai membuka suara.


“Sebaiknya kita pergi, jangan mempermalukan dirimu sendiri, biar saja mereka berpikir kalau Pandu suami kamu. Dia melakukan ini demi anaknya.” Tutur Alana.


TBC

__ADS_1


__ADS_2