
Debby Jansen benar-benar melakukan rencana licik, bukan sekadar tuduhan tetapi dia pun memberi obat khusus. Hingga pagi ini Alana mual dan muntah mirip sekali dengan ibu hamil muda.
Kegiatan sarapannya pun terganggu, Alana selalu bolak-balik toilet. Rasa terbakar merambat naik dari lambung ke kerongkongan. Lalu tubuhnya lemas sempoyongan, tidak ada satu orang pun yang bisa membantu Alana.
Mengandalkan siapa? James? Untuk bergerak saja kesulitan. Atau adik ipar gilanya? Debby malah asyik menyantap makanan, tidak peduli sama sekali. Jelas saja karena ini memang ulahnya.
“Aku tidak hamil. Kenapa mual? Perutku rasanya perih.” Lirih Alana, keringat dingin sudah bercucuran dari kepala melewati kening dan pipinya.
“Kalau begini terus. Aku tidak bisa ke kantor dan meeting. Tidak sanggup.” Suara Alana kian melemah. Otot-otot di tubuhnya memaksa diri untuk berbaring, namun Alana tidak mau karena dia memiliki tanggung jawab yang sangat besar.
“Aku harus periksa sendiri, tidak boleh ada yang tahu. Perutku sakit dan mual.” Tukas Alana, dia membuka pintu kamar mandi di lantai satu, satu tangannya memegang sisi pintu untuk menopang tubuh, sedangkan tangan lainnya menutupi mulut.
Wanita cantik itu tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Alana limbung. Hampir saja kepalanya menyentuh sudut meja.
GREP
Sosok pria yang sangat dicintainya datang. Ya Lewis Jansen segera berlari ketika melihat ibu sambungnya mulai kehilangan kesadaran. “Alana? Alana? Jawab aku! Sial.” Kesal Lewis menggendong tubuh ibu tirinya dan membawa masuk ke kamar tamu.
“Dia tidak hamil tapi muntah. Aku percaya kepada Alana.” Yakin Lewis, hatinya begitu teguh.
“Liam, cari rekam medis dan riwayat pemberian obat! Berikan padaku setiap penjelasan setiap obat yang diminum Alana!” perintah Lewis. Sesungguhnya dia khawatir, ibu sambungnya ini memiliki penyakit lain.
“Kak Lewis?” panggil Patricia, memergoki kakak sepupunya sedang duduk di tepi ranjang seraya membelai pipi Alana.
Suara melengking Patricia ini terdengar hingga ke ruang makan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sontak Debby dan James Jansen memasuki kamar tamu.
__ADS_1
Kilat amarah tercetak jelas pada kedua bola mata James, satu sudut bibirnya terangkat, mencemooh putra tunggalnya. James memejamkan mata, dia tidak menyangka sikap ba******nya menurun kepada Lewis.
“Untuk apa kau ke rumah? Tugasmu di Singapore kan? Kembali lah! Pintu rumah ini tertutup bagimu.” Ketus James. Tingkahnya ini di mata Debby dan Lewis sebagai bentuk melindungi pasangan, ya apalagi kalau bukan cemburu.
Namun James Jansen bukan cemburu, melainkan marah atas sikap Alana dan Lewis yang bermain api, hingga hubungannya terendus publik, mengakibatkan kerugian terhadap JSN.
“Benarkah? Oh ya apa hadiahku sudah sampai?” tanya Lewis begitu santai. Dia berdiri, memeriksa ponsel.
“Menurut informasi, istrimu ini hamil. Benarkah James? Aku ucapkan selamat. Aku pikir kau benar-benar melakukan vasektomi, ternyata tidak. Jadi … kau membohongi Ibuku ya? jangan-jangan di luar sana aku pun memiliki adik lain? Ah aku tidak mau suatu saat anak haram mu itu datang, mengaku berdarah Jansen dan menginginkan harta. Menjijikan.” Seru Lewis tidak main-main.
Kebenciannya terhadap James sudah mengakar kuat. Tak bisa diobati oleh apapun. Mungkin bila pria tua itu mampu, dan ingin mendapatkan maaf putranya, harus menghidupkan kembali mendiang Nyonya Jansen.
“LEWIS JANSEN! Jaga mulutmu. Aku tidak memiliki anak selain dirimu. Kau satu-satunya keturunanku. Darahku mengalir di tubuhmu Lewis, aku ini Ayahmu, perhatikan setiap kata yang kau sampaikan!” Bentak James tidak kalah sengit.
Suasana kamar pun memanas, karena hadiah yang dipersiapkan Lewis sudah tiba di rumah.
Melihat situasi yang sangat rumit, membuat Debby semakin terbang dan berkibar. Dia senang ada perselisihan ini. Akhirnya membayar mahal perawat tidak sia-sia.
Debby harap keponakannya lepas kendali dan bertengkar hebat, kemudian memutuskan hubungan keluarga. Akhirnya siapa yang akan menjadi pewaris dari gurita bisnis JSN? Tentu saja Debby Jansen dan Patricia Jansen, tentunya setelah James meninggal dunia.
HAHA
“Sebentar lagi seluruh aset keluarga menjadi milikku. Inilah akibatnya kalau kau merendahkan aku, James. Kau terlalu angkuh, tak mau berbagi sepeserpun harta keluarga denganku.” Batin Debby cukup senang. Dia hanya perlu mengawasi permainan dan mengarahkannya agar semakin menarik.
“Lewis, kau tidak boleh bicara seperti itu. Bagaimanpun James adalah Daddy-mu.” Debby bicara selembut mungkin. Dia harus menjadi penonton yang netral memihak.
__ADS_1
“Ck dasar buaya betina tua yang menyusahkan, sebaiknya kalian keluar sekarang juga!” Lewis mengusir Ayah dan Tantenya termasuk Patricia yang selalu diam tanpa kata.
Pria dengan tinggi 185 cm itu segera mengunci pintu, usai memastikan seluruh anggota keluar kamar. Dia ingin berduaan dengan Alana. Iba melihat tambatan hatinya menderita.
Lewis setia menunggu hingga ibu tirinya terbangun dari pingsan, membantu memijat kepala, tangan dan kaki Alana.
“Lew terima kasih. Kamu tidak perlu sampai seperti ini. Maaf ya aku menyusahkan.” Alana mencoba tersenyum, bibirnya pucat dan mengering akibat kekurangan cairan tubuh.
“Alana, aku akan mengawasi mu dari jauh. Tidak akan pergi jauh lagi. Kau akan aman Alana. Kita akan bekerja sama memberantas semua masalah di rumah ini.” Imbuh Lewis memijat telapak kaki Alana sangat lembut.
“Oh iya, aku minta semua obat yang pernah kamu minum. Kita harus menyelidikinya. Aku yakin ada seseorang yang menggunakan kekuatan uang untuk menghancurkanmu.” Tutur Lewis, sudah menaruh curiga kepada Tante tirinya.
“Ada di kamar utama. Nanti aku ambil. Terima kasih sudah menepati janji. Maaf sekarang aku kesulitan menjaga keluargamu. Terlalu banyak masalah di dalamnya.” Cicit Alana, menghela napas pelan.
“Ya Alana ini bukan salahmu, sejak awal keluargaku memang sudah kacau balau. Ini semua dimulai dari mendiang kakek yang membawa pulang wanita malam, diikuti jejaknya oleh James. Aku membenci diriku sendiri Alana. Harus terlahir sebagai keturunan pria itu.” Lewis menunduk dan cukup lama terdiam.
Sungguh dalam hati Alana ingin menyampaikan sebah rahasia yang membelenggunya, tapi bibir tebal wanita ini terkunci rapat.
Alana yakin, Lewis akan merubah pandangan ketika mengetahui sebuah kebenaran, dan itu menjadi salah satu tugas Alana.
“Lew, apa kamu menyayangi Tuan James? Kalian selalu terlibat perselisihan, kamu tahu kan kalau Daddy-mu sangat menyayangimu? Semua orang memiliki kesalahan, bisakah memaafkannya agar tidak menjadi seorang yang pendendam?” Alana menyadari kalimat yang keluar dari bibirnya ini lancang dan tidak sepatutnya ikut campur.
“Aku? Memaafkan James? Tidak akan Alana. Karena dia juga kita tidak bisa bersama. Kamu terjebak dalam rayuannya, pria tua itu hanya memanfaatkanmu, Alana.” Imbuh Lewis, sesuai kenyataan. Buktinya setelah menikah, Alana resmi menjadi Presiden Direktur, namun kendali penuh masih di tangan sang pemiliknya.
TBC
__ADS_1
**
Jempolnya sangat ditunggu ya kakak semua 🤗😁