Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 65 Terbungkus Ego


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Patricia termenung. Selama ini pikirannya selalu negatif terhadap Pandu. Tidak menyangka jika ayah dari bayinya tetap menaruh perhatian, dan selama ini selalu mengamati diam-diam. Buktinya Pandu mengetahui keberadaan Patricia, tidak mungkin kebetulan kan?


“Kamu kenapa Patricia?” tanya Alana memastikan keponakan dalam keadaan baik-baik saja.


“Ah aku … tidak apa-apa Tante. Hanya saja …” Patricia mengusap penuh kasih sayang perut buncitnya.


Entahlah rasanya sangat ingin bertemu dengan Pandu. Namun ego di hati menepis semuanya, tidak mau memberi harapan semu kepada lelaki itu.


“Kamu kangen Pandu? Umm … maksud Tante, bayimu.” Ralat Alana, khawatir Patricia tersinggung. Dia pun sama wanita, sedikit banyak mengerti apa yang dirasakan ibu hamil ini.


Sekilas, Patricia menoleh ke samping. Menatapi kedua bola mata coklat karamel milik Alana, membenarkan setiap untaian kata yang keluar. Tapi dengan cepat kepalanya menggeleng.


“Aw … ada apa?” Patricia meringis merasakan tendangan dari dalam sangat kuat, bahkan sisi kiri perutnya  menonjol.


“Perut kamu sakit?” Alana yang tidak pengalaman meluncurkan pertanyaan.


“Bukan. Tapi, bayinya menendang. Aku pikir dia kelelahan seharian ini di luar rumah.” Jawab Patricia tersenyum, menutupi rasa yang sebenarnya.


Alana hanya bisa mengantar Patricia di depan pagar kediaman Jansen. Semua dia lakukan untuk menghindari  Lewis. Tak ingin melihat wajahnya lagi.


“Mampir dulu Tante, terima kasih sudah menemani aku.” Patricia keluar dari mobil, berjalan perlahan menuju rumah, sedangkan para pelayan mengeluarkan semua kantung belanjaannya.

__ADS_1


Mendadak saja kaki Patricia lemas, dan tidak berdaya, seperti kehilangan keseimbangan. Beruntung dua tangan kekar menahan punggungnya, sehingga tubuh Patricia tidak jatuh ke lantai.


“Terima kas….” Patricia yang mendongak tidak melanjutkan kalimatnya, setelah menyadari seseorang yang menolong itu Pandu.


“Ehem … maaf Nona sudah lancang.” Pandu melepas dan menjauhkan tangannya dari punggung Patricia.


Namun kekecewaan menggelayuti dada ibu hamil, Patricia tidak rela rasa nyaman yang baru sejenak dirasakan menghilang secepat kilat. Setia mengamati Pandu yang berjalan menuju mobilnya.


“Umm … Pandu, kenapa kamu ada di rumah?” panggil Patricia penasaran, seingatnya Pandu bukan lagi sopir pribadi Lewis.


Pandu setengah menoleh sembari menjawab pertanyaan Patricia, “Tuan Muda Jansen yang memerintah saya. Permisi Nona.”


Akhirnya Pandu menghilang di balik pintu pagar yang tinggi itu. “Apa kamu puas bisa melihat dan mendengar suaranya?” lirihnya memegangi perut.


Malam hari di kediaman Jansen


Patricia dan Lewis menikmati makan malam dalam sunyi, tidak pernah terlibat percakapan panjang atau sekedar basa basi. Bagi Lewis, makan ya makan, mengobrol bisa di tempat lain.


Saking tidak peka, Lewis tak menyadari kalau adik sepupunya gelisah. Keringat dingin membasahi dahi Patricia.


Ia sama sekali tidak berani memanggil kakaknya untuk membantu. Malah, Lewis meninggalkan meja makan lebih dulu tanpa pamit.

__ADS_1


“Akh … perutku sakit, kenapa?” lirih Patricia dalam hati, merintih dalam diam, menghayati sakit yang menjalar dari pinggul merambat ke perut bawah.


“Ini bukan tanda melahirkan, masih satu bulan lagi dari jadwal.” Gumam Patricia berusaha menenangkan diri.


Menilai dirinya harus mandiri menjalani semua kehidupan. Ibu hamil ini melangkah perlahan menaiki tangga. Memerlukan istirahat dalam kamar.


Belum sempat merebahkan diri, tubuhnya merosot di atas lantai, cairan bening keluar dari pangkal paha.


“Hah, a-apa ini? Aku tidak mengompol kan?” Patricia yakin dia mampu menahan diri tidak buang air kecil sembarangan.


Seiring bertambah banyaknya air yang keluar, pandangan mata Patricia memburam, napasnya tidak beraturan, tak kuat lagi merasakan kesakitan.


Satu-satunya orang yang dia ingat hanya Pandu. Tangan berusaha menekan setiap ikon di ponsel.


"Semoga dia belum ganti nomor." Patricia meringis kesakitan, mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


Hatinya senang bukan main, karena telepon tersambung. "Ha-halo Pandu bisa tolong aku?"


"Ya, ini siapa?" tanya seorang wanita menjawab pertanyaan Patricia.


Seketika ponsel di tangan Patricia terjatuh, perutnya semakin sakit luar biasa.

__ADS_1


TBC


 


__ADS_2