Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 23 Aku Kakak Yang Baik


__ADS_3

Debby pulang lebih dulu, mempersiapkan diri untuk menyambut drama pertengkaran rumah tangga. Dia yakin kali ini James pasti akan mengusir istrinya. Hingga tidak akan ada yang menggagalkan rencana Debby merebut warisan milik keluarga Jansen.


“Mom, ga kerja, kok ada di rumah?” Patricia yang baru saja pulang kuliah menatap heran, biasanya Debby masih di kantor, karena beban pekerjaan sebagai Direktur Operasional sangat berat dan banyak.


“Heh, diam. Sebentar lagi ada pertunjukkan. Mommy mau lihat, kamu tahu sayang? Alana hamil dan yang jelas bukan anak Om kamu.” Binar kejahatan terpancar dari mata Debby.


“WHAT? Jadi itu anaknya Lewis? Pasti semua ini salah, Aku patah hati sebelum waktunya.” Patricia sesenggukan, fokusnya berbeda dari Debby.


Gadis ini masuk kamar melepas emosi. “Aku buat kamu keguguran Alana. Anak itu tidak boleh lahir.” Patricia melempar beberapa benda di atas meja.


Sementara Debby masih diam di tempat, terus mengamati ke luar rumah.


Mobil James Jansen memasuki pelataran, pengawal membantu tuannya turun. Lalu Alana menyusul di belakang, menjaga jarak dari suami tuanya, sesuai perintah, karena James sedang marah, tidak suka disentuh wanita seperti Alana.


“Aku tunggu kau di kamar, segera!” perintah James tegas, memperlihatkan wibawanya sebagai pemilik JSN Group.


Pria sepuh ini masih tidak habis pikir, bukti sudah jelas ada, tetapi Alana masih menyangkal bahwa dirinya hamil. Merasa tidak pernah melakukannya dengan pria manapun.


“Iya Tuan.” Alana hanya bisa patuh atas semua keinginan James, karena nyawa perusahaan milik Ayahnya berada di bawah kuasa suami tuanya.


Tidak terbayang, jika aliran dana terhenti maka Patt Group hanya tinggal nama, dan Tuan Pattinson serta adik-adik Alana hidup dalam kesusahan.


Alana melangkah maju, memasuki kamarnya. Dia wanita yang kuat di luar tapi orang lain tidak tahu seberapa berat masalah yang diterima Alana.


“Baca dan pahami dengan baik! Segera tandatangani surat perjanjian itu! Jadilah wanita yang sadar diri.” Kata-kata ini sangat menusuk ke dalam hati Alana.


“Baik Tuan.” Alana membaca surat perjanjian baru yang disiapkan suaminya. Dalam beberapa lembar itu tertuang, bahwa James sampai kapanpun tidak akan menceraikan Alana.


Anak dalam kandungan Alana, sepenuhnya milik James Jansen, diakui sebagai anak kedua dan pewaris kedua keluarga Jansen.


Jika James meninggal lebih dulu, maka Alana dan Lewis atau pria manapun tidak boleh menjadi suaminya karena James menegaskan fungsi Alana sebagai penjaga silsilah dan asetnya.

__ADS_1


Selama Lewis Jansen masih hidup, maka putra kedua tidak boleh memimpin perusahaan. Begitupun seterusnya. JSN hanya berhak diwariskan kepada keturunan Lewis kelak dari istri sahnya di masa depan.


“Kau tidak perlu khawatir Alana, anakmu tetap akan mendapat kesejahteraan. Jangan biarkan orang lain menggunakannya untuk mengancam posisi Lewis.” James yang sangat menyayangi putranya rela melakukan apapun demi melindungi semua hak lewis. Itu karena James Jansen begitu mencintai mendiang Nyonya Jansen.


“Iya Tuan.” Alana menahan tangisnya. “Hubunganku dengan Lewis selamanya akan tetap menjadi ibu dan anak. Apa aku sanggup melihatnya bahagia menjalani hidup bersama wanita lain?” lirih Alana dalam hati.


“Jangan beri tahu Lewis tetang kehamilanmu. Ingat Alana kau harus patuh, semua demi Ayah dan adik-adikmu, benarkan?” tegas James, memojokkan Alana yang tengah terjepit situasi.


“Baik”


Sedangkan di luar kamar, Debby menggerutu tidak melihat adegan seru, dia menyayangkan sikap James yang menutupi kehamilan Alana.


“Dasar pria tua bodoh, istri selingkuh masih di bela. Keterlaluan James, susah payah dan mahal aku bayar perawat, tujuannya apa? Mendepak Alana dari keluarga ini. Hah, gagal lagi.” Debby masuk kamar putrinya. Sekarang harus menghadapi tangis Patricia yang memilukan.


Patah hati, remuk dan hancur, itu yang dirasakan Patricia Jansen. Pupus sudah harapannya memiliki kakak sepupu.


“Semua ini karena Mom kurang cepat mengusir Alana. Aku sakit hati, sejak kecil mengejarnya tapi wanita lain yang berhasil merebut cinta Kak Lewis.” Suara cempreng Patricia mengganggu Debby.


“Mom yakin? Aku tahu Tante Alana tidak dekat dengan pria lain kecuali Kak Lewis dan Alvaro. Umm …. Jangan-jangan bayi itu anaknya Alvaro? Hah jahat sekali Alana, mempermainkan Om James dan Lewis.” Pikiran Patricia semakin kacau tak terkendali menuding segala rupa.


“Ya mungkin, tidak ada yang tahu.” Balas Debby malas menanggapi asumsi putinya.


**


Singapore


Lewis masih setia duduk di kursi kebesarannya, menandatangi sejumlah dokumen penting. Sembari menunggu laporan Liam.


Dia harap-harap cemas, lubuk hatinya menolak kehadiran calon adik. Lewis masih menginginkan Alana menjadi miliknya.


Memandangi foto Alana sebagai wallpaper ponsel. Senyum manisnya sangat menggoda dan menenangkan.

__ADS_1


“Sayangnya kau adalah ibu sambungku. Aku tidak bisa merebutmu dari pelukan Ayahku sendiri. Seandainya suamimu itu pria lain, aku yakin dan tidak akan mundur mendapatkan mu, Alana.” Tawa Lewis miris sekali hidupnya.


“Selama aku terbangun hingga menutup mata untuk selamanya, hanya kamu Alana Pattinson wanita yang sangat aku cintai." Menyandarkan kepala, mengacak rambutnya. Menatap langit-langit, lagi dan lagi wajah cantik Ibu tirinya tercetak di sana.


Tok … tok


“Permisi Tuan, saya Liam.”


“Masuklah! Katakan apa yang terjadi?” Lewis menyiapkan mental baja, harus kuat apapun yang terjadi.


“Nyonya besar positif hamil dan Tuan James sangat menjaganya. Tidak ada permintaan apapun dari beliau untuk membawa Anda pulang.” Liam takut sekali memberikan informasi yang menyakiti hati Bosnya.


“Nyonya Alana dan bayinya dalam keadaan sehat, sampai saat ini Tuan Besar belum berencana mengumumkan kabar bahagia ke publik. Semua masih dirahasiakan, Tuan.” Liam tahu, saat ini hati Bosnya sangat hancur.


“Oh begitu ya? Liam, kirimkan bunga dan beberapa baju hamil dari rumah mode terkenal. Sampaikan ucapan selamat ku untuk Alana dan James. Bukankah aku harus senang sebentar lagi memiliki adik?” Lewis melirik asistennya yang tampak diam membisu.


“Ayolah Liam, kau tidak perlu mengasihi aku. Ini bukan masalah besar, tapi keberuntungan bagi keluarga Jansen. Aku pikir Patricia adalah bayi terkahir yang lahir dalam keluarga. Tenyata masih ada adikku. Hahaha.” Lewis mencoba tertawa, melepas beban beratnya.


“Tuan? Anda jangan memaksakan diri.” Liam memundurkan kaki, kepalanya menunduk tidak kuasa melihat Tuan Muda Jansen.


“Cepat lakukan perintahku Liam, jangan buat Ibu dan Ayahku lelah menunggu. Aku ini kakak yang baik.” Mengibaskan tangan, mengusir. Tidak mau diganggu sementara waktu.


“Ah satu lagi, hari ini aku akan pulang ke apartemen, jadi batalkan pertemuan malam nanti. Bilang saja aku tidak enak badan, mungkin demam.” Menyambar kunci mobil, bergegas keluar kantor.


“Mungkin dengan tidur, aku bisa melupakan semua. Bisa jadi ini mimpi.”  


TBC


***


kasihan gak sih sama Lewis dan Alana?

__ADS_1


__ADS_2