Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 55 Cinta itu Merusak


__ADS_3

Malam harinya Lewis keluar dari kantor, setelah memecat semua pegawai yang memiliki koneksi dengan Debby Jansen, sebagian dari mereka sukarela mengaku. Namun banyak yang memilih bungkam, mengamankan aset hasil penggelapan dana perusahaan.


“Liam. Blokir mereka semua, jangan izinkan bekerja di manapun. Sekali pengkhianat tetap pengkhianat, aku membenci sampah seperti itu.” Perintah Lewis dalam mobil. Dia masih mengamati data-data penting bisnis JSN Group.


“Siap Tuan. Umm … Tuan, apa malam ini jadi?” tanya Liam lagi, sebenarnya benci melakukan ini tapi sebagai budak korporat, terpaksa Liam harus mematuhi keinginan Bosnya.


“Tentu saja. Aku merindukan Alana. Kau akan tahu ketika merasakan indahnya jatuh cinta, sekaligus sakit karenanya.” Tukas Lewis.


Berpikir dan yakin Alana membaca kartu ucapan. Lewis tahu Alana mengerti makna hadiah yang dikirimnya.


“Tuan seharusnya Anda mencari wanita lain saja.” Liam Membatin sambil sesekali menatap wajah Bosnya dari kaca spion.


Sekarang Lewis tiba di taman bunga mawar yang dia siapkan, tepat di area perkantoran Patt Group. Di liriknya ke atas, beberapa lampu masih menyala, pertanda kemungkinan besar Alana masih tinggal dalam gedung.


“Bos, apa tidak sebaiknya menunggu di lobi? Di sini terlalu dingin.” Liam melekatkan mantel di bahu Lewis.


“Kau saja yang ke dalam. Aku menunggu Alana di sini, kekasihku. Hanya rasa dingin, anggap saja perjuanganku, Liam.” Lewis sedikit bahagia, sebab begitu dekat dengan Alana.


Lima menit menunggu masih tetap sabar, padahal seorang Lewis Jansen pantang menunggu. Hanya Alana yang bisa membuat lelaki dingin ini berubah 180 derajat.


30 menit menunggu, tubuhnya sedikit menggigil, hembusan napas mengeluarkan asap tipis. Namun tekad Lewis tetap besar, meraih simpatik Alana. Dia menginginkan wanita itu kembali pulang ke rumah Jansen.


“Ayo, Alana. Aku menunggumu sayang.” Lirih Lewis tersenyum, memandangi bunga mawar merah bermekaran di taman kecil ini.


Satu jam tetap saja Alana belum menunjukkan batang hidungnya, Lewis mulai kelelahan. Sesekali dia berdiri, duduk dan melakukan olahraga ringan di tempat.


Lewis melirik jam tangan, waktu terus berjalan. Tanpa terasa menunjukkan pukul sembilan malam. “Masih sore.” Kata Lewis berusaha tenang tidak terpancing emosi.


Dari dalam gedung, Liam teriris sembilu menatap Lewis yang masih berharap pujaan hati datang. Tak tinggal diam, dia memberanikan diri naik ke atas, tepatnya ruangan Alana.


Seandainya ada resepsionis pasti Liam tidak repot menggerakkan kakinya menuju ruang Presdir Patt Group.


Ruangan itu memang masih terang, tapi tidak ada tanda kehidupan. Sepi dan rapi. “Nyonya? Nyonya Alana? Saya mohon temui Tuan Lewis. Beliau menunggu Anda di taman mawar.” Liam mengetuk toilet.


Tiada suara apapun, tangannya membuka pintu dan kosong.

__ADS_1


“Apa mungkin Nyonya Alana pulang? Ah yang benar saja. Petugas bilang kartu ucapannya di simpan di atas meja.” Liam melirik pot besar bunga mawar merah.


Liam penasaran, mencari kartu itu di sela-sela berkas, tidak ada. Lalu matanya beralih pada tempat sampah. Benar saja, kartu ucapan tergeletak di dalamnya. Asumsi Liam, bahwa Alana sama sekali tak membuka apalagi membaca.


Pria ini segera turun untuk memberitahu Bosnya, Alana tidak akan datang sampai kapanpun.


“Bos? Bos? Nyonya Alana tidak ada, beliau sudah pulang. Sebaiknya kita pulang Tuan.” Liam menunjukkan kartu ucapan yang kotor terkena sampah.


Lewis merebut kartu itu. “Alana mencintaiku, mana mungkin dia tidak mengerti. Kau lihat kan lampunya saja masih terang.” Kepala Lewis dan Liam menengadah ke atas.


Cinta memang merusak indera yang dimiliki seseorang, termasuk Lewis Jansen. Telinga dan matanya seolah tertutup. Tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh Liam.


“Tidak. Alana, kamu tidak bisa menggantung hubungan kita. Aku tidak mau berpisah denganmu.” Hati Lewis tak terima begitu saja. Bila Alana sudah pulang, dia akan menunggu di taman ini sampai pagi.


Tapi Lewis masih memiliki hati, mengusir Liam pulang. Jika ini cintanya untuk Alana. Kenapa Liam harus ikut berjuang? Jangan sampai asisten sekaligus temannya ini jatuh sakit, menyebabkan tugas terbengkalai.


“Pulanglah Liam! Jangan mengikutiku. Aku baik-baik saja.” Perintah Lewis.


“Alana, mencintaimu adalah kebahagiaan untukku. Apapun akan ku lakukan, demi kamu, demi kita, demi kehidupan di masa depan. Aku akan berjuang.” Hati Lewis tak gentar.


**


Di sisi lain


Kediaman Pattinson


Alana tidak bisa tidur, dia berguling ke kiri dan kanan. Entah kenapa setiap kali menutup mata selalu hadir sosok pria pengisi hati.


“Lewis.” Gumam Alana. Membuka mata dan memeluk guling.


Dia tersenyum kecut, mencemooh diri sendiri. “Bisa-bisanya aku memimpikan Lewis. Tidak boleh Al. hidup kalian masing-masing. Dia masih putra sambungku.”


Semakin memikirkan Lewis, Alana gelisah. Seolah ada seseorang yang memanggil namanya. Dia pun ingin pergi ke suatu tempat. Tapi untuk apa? Ke mana?


“Mungkin ini hanya sementara, biasanya Lewis selalu ada. Berhenti memikirkannya Alana!” menarik napas lalu membuang secara perlahan. Kembali naik ke atas kasur, menutup seluruh tubuh dengan selimut.

__ADS_1


Tapi belum sempat matanya terpejam, getar ponsel sangat mengganggu seorang Alana Pattinson.


Mata Alana menyipit, merasa aneh, karena petugas keamanan gedung Patt Group menghubungi. Pikirannya pun langsung negatif. Khawatir ada yang merusak salah satu aset Patt Group.


Menyambar ponsel dan menerima panggilan suara itu.


“Halo, iya Pak ada apa? Aman kan?” tanya Alana.


Setia mendengarkan jawaban salah satu pegawainya.


Sontak kedua mata coklat karamel Alana melotot. “Saya ke sana.” Kata Alana panik.


Mendengar kabar bahwa Lewis Jansen sudah lebih dari dua jam menunggu di taman mawar.


“Apa mungkin ini alasannya aku tidak bisa tidur? Kenapa Lewis menunggu sampai selarut ini.” Alana segera mengendarai roda empatnya.


Seketika dia teringat pada kartu ucapan yang dibuangnya. “Mungkinkah ada di sana? Apa seharusnya aku membaca lebih dulu?” gumam Alana terus menginjak pedas gas, melaju dengan cepat.


Tapi dia sangat terkejut lagi, tiba di pelataran kantor, sama sekali tidak ada orang. Dua petugas keamanan pun menghilang.


Sementara Lewis tidak ada, deru napasnya saja tak terdengar. Alana tetap mencari di sekitar. Jejak keberadaan Lewis pun tidak ada. Mobil biru kesayangannya sama sekali tak nampak.


“Oh mungkin dia pulang.” Kata Alana memutar tubuh.


Belum sempat masuk mobil, seseorang membekapnya, menutup kepala Alana dengan kain. Menyeret paksa tubuhnya memasuki van.


Samar-samar Alana bisa mendengar suara orang itu, sangat asing dan menyeramkan. “Kami sudah berhasil Nyonya. Mohon segera kirim sisa bonusnya.”


Di bawah pengaruh obat bius, Alana lemah tak berdaya, perlahan kedua matanya menutup rapat.


TBC


***


kemana Lewis? kenapa lagi Alana?

__ADS_1


__ADS_2