Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 43 Menghilang


__ADS_3

Alana dan Lewis yang sedang bertukar cerita di kantin, kembali mendapat kejutan. Dering ponsel Lewis sangat mengganggu. Rupanya seorang perawat mengabari, bahwa James kehilangan kesadaran, saturasi oksigennya pun sangat rendah di bawah normal.


Sepasang kekasih terlarang itu berlari ke depan kamar James, jemari tangan keduanya masih saling bertautan, sangat erat.


Alana membekap mulutnya sendiri, menyaksikan dokter dan beberapa perawat melakukan pertolongan kepada suaminya.


“Tuan James.” Lirih Alana begitu perih. Berat sekali jika harus kehilangan sosok Ayah dalam waktu dekat ini. Tuan Pattinson baru saja wafat, apa iya James Jansen harus menyusul? Alana terus menangis.


Lewis yang menyadari ketulusan ibu tirinya tidak bisa berbuat banyak. Jika Alana mencintai James, mengapa masih menerima cinta, bahkan bersedia berhubungan badan dengannya. Hal ini belum bisa Lewis ungkap, terlalu banyak yang disembunyikan Ayahnya.


Perjuangan dokter membuahkan hasil, James bisa memperoleh kembali kesadarannya. Bulu mata putih itu bergerak, kelopak matanya berusaha terbuka, bibir James memanggil nama Lewis.


“Lew … Lewis Jansen, putraku.” Panggil James sangat lemah. Tangannya mencari keberadaan putra tunggal.


‘Sebentar Tuan, saya panggilkan Tuan Muda.’ Kata perawat.


Tak buang waktu perawat itu keluar dan memanggil Lewis untuk menemani Ayahnya, tentu bersama Alana, karena saat ini statusnya sebagai istri dan sangat berhak atas James.


“Ada apa Dad?” Lewis bersikap hangat, menggenggam punggung tangan dan menciumnya, mengungkapkan rasa bahwa dia memang menyayangi James Jansen.


“Son … menikahlah sebelum aku meninggal. Aku ingin kau hidup bahagia bersama wanita terbaik.” James menyampaikan permintaan yang sangat mustahil Lewis lakukan.


Jeger


Hati Alana tersambar petir mendengarnya, walaupun dia tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Tetap saja Alana egois, sisi hatinya begitu menginginkan Lewis.


Sama halnya dengan Lewis, dia menoleh kepada Alana. Tatapannya sakit, dia tidak mungkin memperistri wanita lain di saat jiwa dan raga milik Alana seorang.


“Aku hanya mau kamu Al.” tegas Lewis dalam hati.


“Aku belum siap menikah Dad.” Lewis memberikan jawaban pamungkas, dia tidak mau menyakiti dua wanita. Sampai kapanpun cintanya hanya untuk Alana, bukan orang lain.


“Lewis? Kenapa kau diam? Aku sudah menjodohkanmu dengan anak perempuan rekan bisnis kita. Dia teman kecilmu, pasti kamu ingat.” Ucap James memaksa. Pria tua ini tidak mengizinkan putranya menikahi Alana, ibu tirinya.

__ADS_1


“Tapi aku …” Lewis tak bisa menjawab saat pegangan tangan James semakin erat lalu Alana keluar ruangan begitu saja.


“Ini permintaan terakhirku Lew. Aku ingin menemani, menyaksikan putraku satu-satu menikah.” James menitikkan air mata. Sesungguhnya dia tahu, Lewis berat mengabulkan permintaannya.


“Apa ini karena Alana? Kau tidak boleh bersamanya, statusnya sampai kapanpun akan tetap menjadi istriku Lew.” Tegas James di sela napas pendeknya.


Lewis sendiri tidak menjawab apapun, mendadak berubah menjadi seorang pecundang. Mungkin bila kondisi James sehat, pasti menolak mentah-mentah, tapi sekarang Ayahnya tengah berjuang lepas dari maut. Bagaimana bisa Lewis menambah beban pria ringkih ini?


“Sebaiknya Daddy istirahat. Jangan memikirkan apapun. Aku keluar, mengobrol dengan pasien terlalu lama tidak direkomendasikan.” Alasan Lewis yang sebenarnya adalah mengejar Alana, kekasih hatinya.


‘Tuan Muda benar Tuan Besar. Anda harus banyak istirahat jangan terbebani oleh pemikiran berat.’ Imbuh Dokter Spesialis Saraf.


“Terima kasih.” Balas Lewis, kemudian keluar kamar. Mata birunya bergerak ke sana kemari, mencari keberadaan Alana.


“Sial.” Lewis yakin wanitanya itu pasti sedang menenangkan diri. Mencari ke taman rumah sakit tidak ketemu, kantin, area parkir, cafe sekitar rumah sakit, semua sia-sia, Alana tidak ada.


Akhirnya Lewis memilih mengendarai mobilnya, menyusuri jalanan. Mungkin saja bertemu Alana.


“Alana di mana kamu? Jangan menghilang seperti ini.” Lewis geram, dan kebingungan. Dia mencoba berpikir keras, lalu memerintahkan anak buahnya mencari ke setiap sudut kota.


**


Di lain tempat. Alana duduk termenung. Menunggu pesanan sarapannya siap. Memandang kosong pada orang-orang yang berlalu lalang.


‘Permisi Nyonya ini pesanannya.’ Kata pramusaji yang menyimpan beberapa kotak makanan di atas meja.


“Terima kasih.” Alana segera pergi, kembali ke rumah sakit. Rasanya tidak etis jika dia lari dari masalah yang telah diciptakannya.  Tidak tahu harus berbuat apa, hati dan otak tidak sejalan, apalagi tubuhnya.


“Semoga pilihanku kali ini tidak salah.” Gumam Alana menunggu pesanan taksi online di teras restoran.


Awalnya Alana memang ingin menenangkan diri, menghindari Lewis. Tapi semakin pergi jauh, maka perasaannya bertambah besar dan tak ingin berpisah.


“Apa kita berjodoh Lew?” bibir Alana tersenyum tipis, hubungannya dengan Lewis sudah terlampau jauh.

__ADS_1


Dia juga membelai perut, bagaimana jika benih pria yang dicintai telah tumbuh tanpa Alana sadari. Publik mengetahui bahwa dia tengah mengandung buah cintanya bersama James.


‘Ibu Alana Pattinson?’ tanya sopir taksi online.


Alana mengangguk, kemudian masuk ke dalamnya. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, mata coklat karamel menatap ke luar kaca. Hatinya bertanya-tanya kenapa bisa terbelenggu dalam hubungan rumit dengan ayah dan anak.


Tidak sesuai tujuan Alana. Dia hanya ingin membantu Patt Group serta mengobati Tuan Pattinson. Tapi salah satunya telah tiada, Alana berharap Patt Group dapat berdiri sendiri, dia tidak akan membuang begitu saja pengorbanannya.


“Aku akan menjaga perusahaan Papa dan kedua adik.” Lirih dalam hati.


Tiba di rumah sakit, Alana melihat Lewis di area parkir, memarahi Liam serta anak buahnya lainnya. Jelas sekali nama Alana disebut.


“Kalian tidak becus, mencari satu orang tapi kesulitan. Pokoknya dalam 30 menit lagi aku ingin Alana ditemukan!” perintah Lewis sangat kejam, tatapannya pun garang.


“Ada apa Lewis? Kamu tidak perlu repot, aku ada di sini.” Ucap Alana tepat di balik punggung putra sambungnya.


Dilanda ketakutan akan perginya sang kekasih, Lewis tak lagi menghiraukan sekitar. Mendekap Alana, menciumi puncak kepala wanitanya.


“Kamu dari mana saja Al?” tanya Lewis masih enggan melepas.


“Lewis lepas, aku tidak bisa bernapas. Banyak orang melihat kita.” Jawaban Alana ini menyadarkan Lewis dari pikiran yang sedang kalut.


“Aku beli sarapan, kita belum makan. Kamu mau? Aku beli banyak.” Santainya Alana bicara seolah tidak terjadi sesuatu.


“Jangan pergi lagi Alana, setidaknya beritahu aku. Dan … kamu pergi untuk kembali bukan menghilang selamanya. Aku mencintaimu Alana, jangan pikirkan semua permintaan James, aku tidak akan berpaling darimu.” Lewis sangat takut cinta pertamanya ini pergi dan hidup bersama pria lain, menggantikan posisinya di hati Alana.


“Lewis, jika aku pergi ini semua karena kebaikan kita. Ya mungkin saja, aku juga sama tidak mau kehilangan mu.” Batin Alana menangis, tapi wajahnya berusaha tetap tegar.


TBC


***


Ditunggu dukungannya kakak semua 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2