
Alana menyadari kecurigaan sahabatnya. Lantas secepat mungkin mengusir Alvaro dari dalam ruangan. Wanita ini yakin Lewis pasti marah besar karena mendadak dikunci dari luar, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin hubungan mereka terlihat jelas oleh orang lain.
KLEK
Alana membuka pintu, menunjukkan wajah tak bersalah. Lalu dengan berani mencium pipi putra sambungnya.
“Kamu berani mengunciku di dalam? Keterlaluan. Kalau berdua tidak jadi masalah, aku senang. Tapi sendiri, yang benar saja Alana. Dinding dan sabun menertawai seorang Lewis Jansen.” Pria bertubuh kekar itu menggerutu dan bergegas menuju ruang ganti membawa pakaiannya.
Alana tertawa kecil memandangi Lewis. Hidupnya jauh lebih berwarna dan menyenangkan setelah mengenal dekat. Dia menjadi wanita beruntung yang dicintai oleh pria itu, tapi sayang hubungan yang terjalin tidak pasti masa depannya.
Keluar dari ruang ganti Lewis menatap meja yang penuh berkas, “Pulangnya aku jemput. Sekarang sampai siang kemungkinan aku di perusahaan periklanan, mengawasi semua produk kita. Kamu jangan khawatir sayang, aku bekerja serius, bagaimanapun JSN nantinya jatuh ke tanganku. Aku ingin memberi yang terbaik, kamu dan anak kita tunggu di rumah. Aku pergi dulu Al, aku mencintaimu.” Lewis mencium pelipis Alana.
Hati wanita berkacamata itu bergetar, dadanya sesak mendengar Lewis mengatakan ‘anak kita’ sungguh menyayat hati.
Seandainya hari-hari berat ini bisa dilalui berapa pun mahalnya, pasti Alana bayar. Dia ingin hidup tenang bersama pria yang sangat dicintai.
“Lewis.” Lirih Alana menyandar di dinding.
Hingga siang hari Presiden Direktur berkutat dengan pekerjaan yang tak pernah habis. James benar-benar memeras tenaga Alana. Dirinya bagai sapi perah, ya memang imbalan yang diberikan sangat besar. Bahkan gajinya pun tidak akan sanggup.
Alana memijat pundaknya, kelelahan tentu saja.
Drt … drt
Ponsel di atas meja bergetar, nama rumah sakit milik Keluarga Jansen tertera di sana. Alana yakin, antara James atau Tuan Pattinson. Dan ia harus menerimanya, tidak bisa abai begitu saja.
“Ya, dengan Alana Pattinson. Ada yang bisa dibantu?”
Mendengar jawaban dari seberang telepon, membuat Alana seketika mematung dan ponselnya jatuh.
Dia pun berlari keluar kantor, tanpa membawa tas. Termasuk ponselnya yang tergeletak.
Segera memerintahkan sopir kantor mengantarnya ke rumah sakit.
“Ku mohon bertahanlah.” Lirih Alana, air mata sudah bercucuran, tubuhnya pun gemetar.
__ADS_1
**
Debby Jansen selesai bekerja, kembali mendapat teror dari Patricia, anak gadisnya itu selalu menghubungi tanpa henti.
“Dasar anak bawel. Mau apa lagi dia? Mana bisa terburu-buru.” Geram Debby, salah besar menjanjikan Lewis menjadi menantunya dalam waktu dekat ini, karena Patricia tidak bisa mengerti situasi dan kondisi.
Setelah makan siang, Debby memasuki ruangan divisi pemasaran. Dia bertanya bahkan ‘menyuap’ sekretaris Lewis.
“Katakan jadwalnya sekarang juga! Semua! Aku ingin tahu bukan masalah kan? Aku ini Tantenya, kau juga jangan lupa posisi ku sebagai Direktur Operasional.” Tegas Debby menakuti sekretaris wanita yang baru masuk beberapa bulan lalu.
Wanita paruh baya itu tertawa, mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Lantas segera menghubungi sopir pribadi Lewis menanyakan keberadaan mereka.
Debby akan menjebak keponakannya. Membuat Lewis dan Patricia tidur bersama, tidak salah bukan? Mereka sama-sama sendiri tidak terikat hubungan dengan siapapun.
“Kau mau bonus? Bawa Lewis ke bar malam ini, buat dia mabuk. Sampai tidak sadar, gunakan cara mu sendiri untuk melakukannya!” perintah Debby. Kali ini yakin rencananya akan berhasil.
Bagi Debby sesekali memberi pelajaran kepada Lewis sangat penting, karena keponakannya itu sangat Arogan dan tidak manusiawi.
Lagipula, secara tidak langsung dia menghancurkan Alana. Pasti adik iparnya akan meraung sedih.
**
“Ini apa Mom? Aku tidak mau pakai ini, tipis sekali. Untuk apa?” keluh Patricia, dia menginginkan Lewis, bukan pakaian tidur menerawang.
PLAK
Debby memukul kepala putrinya yang berotak pas-pasan. “Otak kamu di mana Patricia? Pintar sedikit. Malam ini kamu akan tidur dengan Lewis, ah bukan sembarang tidur, tapi mungkin bulan depan kamu juga bisa hamil anaknya. Harus, kalau tidak ya usahamu sia-sia.” Lanjut Debby sengaja menumbalkan putri tunggalnya demi ambisi mengeruk seluruh harta kekayaan Jansen.
“Maksud Mommy aku melakukannya sebelum menikah? T-tapi kalau Lewis menolak tanggung jawab bagaimana? Aku hamil tanpa suami, hah tidak mau.” Patricia menolak mentah-mentah rencana jahat ibunya.
Dia menginginkan Lewis, tapi bukan seperti ini, harus menjadi istri sesungguhnya yang sah di mata hukum.
Debby mendengus sebal, otak putrinya memang tidak berfungsi dengan baik. “Dengan sweet heart, kalau kamu hamil. Mom yakin James pasti memaksa Lewis menikahi kamu, kamu kan janji menurut. Ikuti rencana Mommy. Malam ini jam 10 tunggulah di hotel, nanti sopir pribadi mengantar Lewis ke sana, dalam keadaan mabuk.” Tukas Debby, mengantar putrinya ke salah satu hotel. Sementara dirinya segera pergi mengunjungi rumah petinggi badan pertanahan.
Patricia benar-benar menunggu pujaan hati tiba di kamar, bahkan dia melakukan serangkaian perawatan diri di hotel demi memuaskan kakak sepupunya itu.
__ADS_1
Mulai dari spa dan salon, hingga terlelap tidur di dalam kamar.
“Hah, jam berapa ini? Lebih dari jam 10. Mommy bilang Lewis pasti masuk ke kamar jam 10 malam, kenapa belum datang.” Patricia yang terlanjur berharap kecewa dan sedih, ia merusak barang-barang di kamar hotel.
Berulang kali menghubungi Debby tak sekalipun teleponnya tersambung. Selalu operator yang menjawab, Patricia jengah, memutuskan pulang ke rumah Jansen. Kembali menangis sebab hatinya terlanjur sakit.
“Lewis jahat, aku benci.” Membanting pakaian tidur yang sebelumnya dia kenakan, menendangnya berkali-kali.
“Baju tidak berguna.” Matanya merah, bibirnya pun bergetar, amarahnya tidak bisa tersalurkan dengan baik.
Di tengah rasa putus asa, Patricia mendengar suara ketukan pintu. Tubuhnya mematung, jantungnya berdetak luar biasa. Dia yakin itu Lewis, akhirnya pria yang dijanjikan Debby datang.
“Pasti itu Kak Lewis.” Patricia menggunakan parfum dan mengganti pakaian dengan jubah mandi yang sengaja tidak diikat sempurna.
Ketukan pintu semakin lama dan keras. “Uh … dia tidak sabaran sekali.” Gumamnya, pikiran sudah melayang kemana-mana.
Pintu kamar terbuka, dan Patricia melongo. “Lewis? Umm … kakak? Ke-kenapa bisa?” tanyanya tergagap.
“Hi, kamu menungguku bukan? Maaf terlambat, ah pasti malam ini menyenangkan, benar kan?” Lewis memukul punggung pria di sampingnya.
“Di mana gadisku?” pria itu meracau tak jelas, pandangannya pun begitu lapar terhadap Patricia.
Lewis Jansen tak mudah termakan tipu daya, dia berhasil keluar dari jebakan sopir pribadi. Membalik keadaan, menjadikan pria itu mabuk berat, ditambah sedikit membubuhkan obat perangsang.
Lewis ingin Debby tahu bahwa dirinya bukanlah keponakan yang mudah terjebak akan rencana murahan.
“Selamat menikmati malam panas kalian. Ah ya Patricia. Sopir ku ini masih lajang jadi kau tidak perlu ragu meminta pertanggung jawabannya.” Lewis Jansen mendorong keduanya hingga terjatuh ke atas ranjang.
Dia juga tidak lupa mengambil kartu akses dari dalam ruangan, sehingga Patricia terkurung di dalamnya.
TBC
***
eh Tante Debby Jahat banget sih
__ADS_1
like dan komentarnya ditunggu ya kakak 😉🙏