
Usai tubuh Alana cukup kuat, Lewis membimbing ibu sambungnya itu keluar kamar. Tidak sekalipun melepas pegangan.
Tatapan sinis dilayangkan oleh Debby. Di sisinya, Patricia melotot, bola matanya hampir keluar.
“Lewis jahat banget. Selama ini aku yang ada di sampingnya, aku lebih berharga dari apapun. Kenapa harus Tante tiri mur@h-4n itu.” Patricia menjerit dalam hati. Kemudian tatapannya beralih ke perut rata Alana.
“Apa benar anak di dalam sana milik Lewis? Argh … bayi itu tidak boleh lahir, lihat saja kamu, Alana. Kalian tidak akan pernah bisa merawatnya.” Teguhnya hati Patricia, rasa bencinya terhadap Alana tak terelakan lagi.
“Untuk apa keponakan arogan ini pulang? Bisa bahaya kalau dia kerja sama dengan Alana. James, dasar tua bangka tidak berguna. Sudah tahu istri selingkuh masih tetap dipertahankan. Bodohnya menurun ke Lewis, sama-sama mencintai perempuan tidak beretika.” Geram Debby dalam hati, dadanya pun kembang kempis menahan amarah.
“Apa kalian lihat-lihat? Tante, Patricia, aku tahu apa yang ada di dalam otak busuk kalian. Jangan sekalipun menyentuh Alana. Ingat itu!” sangar Lewis, bahkan ketika mengatakannya pun tubuhnya gemetar, saking marahnya pada keadaan di rumah ini.
“Sudah Lew, aku mau ke kantor, mungkin ada laporan penting atau berkas yang perlu ditandatangani.” Sela Alana, kepalanya sangat pusing menghadapi setiap masalah dalam rumah megah ini.
“Dasar sok bijak. Padahal hatinya busuk.” Celetuk Patricia Jansen, mengundang tatapan tajam dari kakak sepupunya.
“Aku marah kak. Kamu terlalu membela ibu tirimu. Kakak harus sadar, sikapmu ini sama sekali tidak wajar. Apa benar, Tante tiri ini hamil anak kakak?” tanya Patricia suaranya bergetar. Dia sangat berharap mendengar jawaban sebaliknya dari bibir Lewis.
Huh
Lewis Jansen menghela napas, pertanyaan Patricia ini dia manfaatkan untuk mendepak adik sepupunya yang tidak tahu diri.
“Kalau memang benar anakku, kenapa? Jangan bilang kau mau membunuhnya, begitu kah, adik?” intimidasi Lewis, bahkan sengaja menabrak tubuh adik sepupunya itu.
“Lew jangan! Biarkan saja bibirnya berbusa, tuduhannya pun tidak benar. Dia pasti lelah dengan sendirinya.” Alana membalas kedua pasang mata yang begitu ingin melahapnya bulat-bulat.
“Heh, Alana. Ibu hamil itu harus tahu diri. Kasihan anak kamu. Dalam rahim saja tidak diakui, malangnya.” Tawa Debby Jansen segera menyingkir bersama putrinya.
Lewis memang perlu membersihkan rumah ini dari mahkluk pengerat yang sangat mengganggu. Dirinya berjanji tidak akan pergi lagi dari rumah, apalagi meninggalkan Alana.
Tidak peduli kisah cinta ke depan akan bernasib bagaimana, yang jelas, hidup berjauhan dengan Alana sangat menyakitkan. Hari-hari yang dijalani tak tentu arah.
“Terima kasih Lew, aku tidak tahu lagi harus bilang apa.” Ucap Alana begitu dalam dan perih.
__ADS_1
“Hu’um sudah kewajibanku, lagipula kamu berulang kali mengatakannya Alana. Aku bosan. Sekarang mau istirahat di kamarku atau pria tua itu? Jangan ke kantor, badan kamu masih lemah.” Kata Lewis sangat menekan pada bagian ‘pria tua’.
“Diam ya? artinya ke kamarku benarkan? Nanti malam kita ke rumah sakit. Liam sudah menjadwalkan dengan dokter kandungan terbaik.” Tukas Lewis, masih sempat mencium pelipis Alana.
Sesungguhnya Lewis Jansen sangat ini membawa Alana ke kamarnya, tidur saling memeluk dan melepas lelah. Sekali lagi tidak bisa. Pria bermata biru ini pun merelakan kekasih hatinya masuk ke ruang tidur utama.
“Tunggu apa lagi Alana? Tidur lah! Ini ranjang kalian kan? Anggap saja aku tidak ada, kalian bebas melakukan apapun.” Sindir Lewis, karena ibu sambungnya hanya diam di tepi kasur luas nan empuk.
“Oh aku tahu, kalian bertengkar karena masalah sepele? Benarkan James? Ah iya kau menuduh istri muda mu ini selingkuh denganku.” Sarkas Lewis mengendong Alana tepat di depan Ayahnya.
Lalu merebahkannya di ranjang, “Tidurlah Mom, rasanya menggelikan memiliki Ibu yang lebih muda. Kau tahu James? Istrimu ini lebih cocok menjadi wanitaku, aku kasihan jika kalian memiliki anak, dia pasti malu karena memiliki Ayah yang sudah tua.” Lewis tertawa puas, menyindir Ayahnya.
Sebelum keluar kamar, dia nekat mencium Alana, bibirnya menempel di kening wanita berkacamata itu.
“LEWIS JANSEN! Di mana etika mu, hah? Alana itu Ibu tirimu, istriku, kau masih nekat mendekatinya di depan mataku? Kau sama menjijikkannya seperti Angelina.” Hardik James, kehilangan segala cara untuk membuat Lewis fokus pada perusahaan dan melupakan perasaannya terhadap Alana.
“Angelina? Kau tidak layak menyebut namanya, bahkan otakmu saja tidak ku izinkan mengingat wajahnya. Jangan sekalipun menghina Mommy, James. Kalau aku diharuskan memilih, lebih baik kau yang pergi lebih dulu. Sayangnya hidup ini memang tidak adil.” Sengit Lewis segera keluar kamar dan membanting pintu sangat kuat.
“Kau lihat kan Alana? Putraku itu sangat temperamental. Dia tidak berubah semenjak ibunya meninggal. Untuk itu kamu harus tetap mendampingi Lewis sampai dia menjadi pribadi yang baik dan menemukan calon istri yang tepat.” Tutur James menarik selimut, pertanda mengusir Alana dari atas kasur empuknya.
GLEK
Mendengar James mengatakan ‘calon istri Lewis’, saat ini juga Alana terpukul sangat kuat. Tapi dia masih tersenyum di depan suaminya.
“Maaf Tuan, aku permisi.” Alana bergegas memasuki ruangan lain, dan menyandarkan kepalanya di headboard.
“Aku kangen Papa, semua ini terlalu sulit. Aku pikir mudah, tapi … terjebak di dalamnya dan tidak bisa keluar dengan mudah.” Lirih Alana, suaranya nyaris menghilang menahan kepedihan dalam pernikahan palsu ini.
Beberapa bulan yang lalu kehadiran James seperti malaikat, membantu dan mendukung Alana. Mendanai Patt Group tanpa memikirkan resiko yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.
Sekarang, pria sepuh di atas kursi roda itu sangat menyeramkan. Teganya James menjerat gadis muda untuk menjadi istri sekaligus menyelesaikan peliknya masalah keluarga.
**
__ADS_1
Malam hari di rumah sakit
Diantar Lewis, Alana kembali memeriksakan diri.
Jantung Lewis berdebar, takut semua kenyataan. Dia tidak siap menelan pahitnya keadaan.
“Bagaimana dokter? Katakan hasil pemeriksaannya sekarang!” Paksa Lewis berdiri mengamati layar besar.
“Nyonya Jansen tidak hamil. Tidak ada tanda pembuahan apapun. Rahimnya bersih dan sehat. Saya bingung kenapa sebelumnya dinyatakan positif hamil?” Dokter Obgyn ini menyampaikan hasil pemeriksaan, detil dan sangat rinci.
Paru-paru Lewis dan Alana bisa bernapas lega, apalagi Alana dia akan membungkam mulut kejam semua orang yang mencibirnya.
“Kalau Nyonya mau program silakan datang ke sini bersama Tuan Besar Jansen, tapi saya rasa di usia beliau sulit untuk memperoleh keturunan lagi.” Terang dokter mengingat suami Alana sudah tidak produktif lagi.
“Atau ku buat kau hamil anakku Alana? Itukan yang mereka inginkan?” hati Lewis menggebu kuat.
Alana dan Lewis pun keluar ruangan dengan tenang, tidak ada lagi rasa sakit hati di dalam dada keduanya.
Karena hari yang semakin gelap, rumah sakit pun sangat sepi.
Lewis memberanikan diri memegang tangan Alana, “Aku merindukanmu Alana, sangat.” Bisik Lewis Jansen.
TBC
***
Tim Alana- Lewis ada?
boleh ya minta dukungannya
jempolnya kasih💪biar aku semangat up nya 🤧
__ADS_1